Target IHSG 7.200, Ini Daftar Saham Pilihan BRI Danareksa dan Target Harganya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight pada sejumlah saham setelah S&P Global Ratings menegaskan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil. Kondisi tersebut dinilai mengurangi risiko pasar, sehingga membuka peluang penguatan sejumlah berkapitalisasi besar.
Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini pada kisaran 6.038 dinilai terlalu murah (undervalued). Menurut BRI Danareksa, pasar saat ini mencerminkan skenario yang terlalu pesimistis terhadap prospek risiko dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca Juga
BRI Danareksa mematok target IHSG akhir 2026 di level 7.200, seiring meredanya dua risiko utama, yakni keputusan S&P yang mempertahankan outlook stabil serta hasil tinjauan MSCI Market Classification yang tetap menempatkan Indonesia sebagai Emerging Market.
Terkait saham pilihan, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan BBCA dan BBNI jadi pilihan utama dari sektor perbankan. Sektor perbankan tetap menjadi pilihan utama didukung valuasi yang menarik dan berpotensi diuntungkan apabila aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Saham BBCA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 10.900 dan BBNI dengan target harga Rp 4.700.
BRI Danareksa Sekuritas juga menetapkan saham ISAT dan EXCL sebagai pilihan dari sektor telekomunikasi. Saham ISAT direkomendasikan beli dengan harga Rp 3.000 dan EXCL dengan target harga Rp 3.700. Saham ANTM dan TINS menjadi pilihan dari sektor logam, yaitu ANTM direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.800 dan TINS dengan target harga Rp 4.500.
Baca Juga
Saham HSC BertambahJadi 49, Emiten Sinarmas Mendominasi Mulai dari DSSA hingga MORA
Sedangkan saham pilihan dari sektor batu bara masih dipegang AADI yang direkomendasikan beli dengan target harga Rp 12.400. AADI dinilai tetap menarik, karena ketahanan laba pada 2026 setelah adanya kejelasan terkait kebijakan DSI.
Meski demikian, BRI Danareksa mengingatkan bahwa risiko pasar belum sepenuhnya hilang. Selain potensi evaluasi lanjutan dari MSCI pada November 2026, eskalasi konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak masih dapat memengaruhi sentimen pasar serta prospek kondisi fiskal Indonesia.
