Tokenisasi Aset Dilirik Goldman Sachs hingga Morgan Stanley, Ini Potensinya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah bank besar Wall Street, yakni Goldman Sachs, Wells Fargo, dan Morgan Stanley, mulai menjajaki pemanfaatan tokenisasi untuk mengembangkan bisnis perdagangan, pembayaran lintas negara, dan layanan konsultasi investasi.
Langkah tersebut sejalan dengan perkembangan tokenisasi yang memungkinkan aset keuangan dan aset dunia nyata direpresentasikan dalam bentuk token berbasis blockchain. Teknologi ini dinilai berpotensi mempercepat transaksi, mengurangi biaya, dan memperluas akses perdagangan aset.
CEO Goldman Sachs David Solomon mengatakan, tokenisasi berpotensi menciptakan produk baru, meningkatkan aktivitas perdagangan, memperluas basis nasabah, serta membuka saluran distribusi yang lebih luas.
Dalam paparan kinerja kuartal III, Solomon membandingkan perkembangan tokenisasi dengan peralihan perdagangan saham ke sistem elektronik yang sebelumnya juga menimbulkan kekhawatiran terhadap model bisnis perusahaan sekuritas.
Baca Juga
Dikutip dari Coindesk, Senin (19/10/2026) Goldman Sachs telah mengembangkan platform aset digital GS DAP sejak 2022 untuk mendukung tokenisasi berbagai aset, termasuk obligasi, dana pasar uang, dan properti. Pada Juli lalu, bank tersebut juga berpartisipasi dalam uji coba layanan tokenisasi milik Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC), lembaga yang menangani infrastruktur utama pasar sekuritas Amerika Serikat.
Goldman Sachs kini mengevaluasi penerapan teknologi tersebut dalam skala lebih besar, terutama untuk menekan biaya, mengotomatisasi transaksi, dan mempermudah perdagangan aset. Meski demikian, Solomon menegaskan bahwa aktivitas tokenisasi saat ini masih relatif kecil dan belum menjadi bisnis utama perusahaan.
Sementara itu, Wells Fargo telah menggunakan deposito yang ditokenisasi untuk memproses pembayaran lintas negara. CFO Wells Fargo Michael Santomassimo mengatakan, dana dapat mencapai rekening penerima dalam waktu dua menit atau kurang.
Meski layanan tersebut sudah beroperasi, volumenya masih terbatas. Wells Fargo melihat peluang untuk memperluas bisnis pembayaran internasional melalui tokenisasi tanpa harus membangun jaringan cabang global yang luas.
Baca Juga
OJK Ungkap Peluang Investasi SBN Mulai Rp 10.000 Lewat Tokenisasi
Selain pembayaran, Wells Fargo juga menjajaki penerapan tokenisasi pada sekuritas, aset dunia nyata, dan layanan perdagangan kripto bagi nasabah wealth management.
Berbeda dengan Goldman Sachs dan Wells Fargo, Morgan Stanley menyoroti peluang tokenisasi dalam layanan pengelolaan kekayaan. CFO Morgan Stanley Sharon Yeshaya menilai, kemudahan dan kecepatan pemindahan aset justru dapat meningkatkan kebutuhan investor terhadap layanan konsultasi.
Menurut Yeshaya, transaksi yang lebih cepat tidak menghilangkan kebutuhan nasabah terhadap nasihat investasi. Morgan Stanley telah mengembangkan kapabilitas digital di bisnis manajemen kekayaan dan sekuritas institusionalnya, meskipun belum mengumumkan produk tokenisasi baru.
Ketiga bank tersebut belum mengungkapkan proyeksi pendapatan dari bisnis tokenisasi. Saat ini, pemanfaatan teknologi tersebut masih berada pada tahap awal, dengan peluang pengembangan yang mencakup perdagangan aset, sistem pembayaran, dan layanan investasi.
