Beda Pendapat Goldman Sachs dan Morgan Stanley Soal Proyeksi Suku Bunga The Fed
JAKARTA, Investortrust.id - Para ekonom Morgan Stanley memproyeksikan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan melakukan pemotongan suku bunga cukup dalam selama dua tahun ke depan karena pertimbangan inflasi yang mereda. Sementara analis Goldman Sachs Group Inc memperkirakan pemangkasan suku bunga akan terjadi lebih kecil, dan itupun akan dimulai lebih lambat.
Dipaparkan kepala ekonom AS di Morgan Stanley, Ellen Zentner, The Fed akan mulai memotong suku bunganya pada Juni 2024, dan pemangkasan akan terjadi lagi pada September dan setiap pertemuan mulai dari kuartal keempat 2024 dan seterusnya, masing-masing sebesar 25 basis poin. “Langkah Itu akan menurunkan tingkat suku bunga ke 2,375% pada akhir 2025,” kata mereka dalam paparanya, Minggu (12/11/2023).
Baca Juga
Gubernur BI: Alhamdulillah, Rupiah Menguat Setelah The Fed Tahan Suku Bunga
Sementara itu, Goldman Sachs memandang pemotongan 25 basis poin pertama baru akan terjadi pada kuartal keempat 2024, diikuti oleh satu pemotongan setiap kuartal hingga pertengahan 2026 — yang nantinya pemotongan menjadi total 175 basis poin, dengan tingkat suku bunga berada pada kisaran target 3,5%-3,75%. Demikian disampaikan ekonom David Mericle yang dipublikasikan di hari yang sama.
Ramalan Goldman Sachs sendiri dinilai yang lebih dekat dengan proyeksi dari bank sentral. Proyeksi The Fed dari bulan September menunjukkan dua pemotongan seperempat poin pada tahun depan, dan kebijakan suku bunga akan berakhir di level 3,9% pada akhir 2025, demikian perkiraan median para pembuat kebijakan. Gubernur The Fed dan presiden bank sentral regional akan memperbarui proyeksi mereka dalam pertemuan di Desember 2023.
Tim Morgan Stanley memandang pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, sehingga membutuhkan kebijakan pemotongan suku bunga yang lebih besar, meskipun tanpa mengalami resesi. Mereka memperkirakan tingkat pengangguran mencapai puncaknya pada level 4,3% pada 2025, dibandingkan dengan perkiraan The Fed sebesar 4,1%. Angka pertumbuhan dan inflasi juga akan lebih lambat daripada yang diperkirakan oleh para pejabat The Fed.
Baca Juga
Beberapa proyeksi tahun 2025 dari Morgan Stanley memang disampaikan dalam angka yang berbeda dengan Goldman Sachs, plus jika dibandingkan dengan median proyeksi para pejabat The Fed yang disampaikan medio September lalu.
“Tingkat suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lama (High rates for longer) menyebabkan beban yang persisten, melebihi dorongan fiskal dan tingkat suku bunga tersebut akan mendorong pertumbuhan secara berkelanjutan di bawah angka potensialnya mulai dari kuartal ketiga 2024,” demikian kata tim di bawah Zentner dalam laporan mereka yang dikutip Bloomberg. “Kami mempertahankan pandangan kami bahwa Fed akan melakukan ‘’soft landing”, tetapi pelemahan pertumbuhan akan terus menumbuhkan kekhawatiran soal resesi.”
AS seharusnya dapat menghindari penurunan karena para pengusaha tetap mempertahankan jumlah tenaga kerjanya, kendati dipastikan perekrutan pekerja baru akan melambat. Morgan Stanley menyebut hal ini akan memberikan tekanan pada pendapatan dan pada ujungnya tingkat belanja.
Tim Morgan Stanley juga memperkirakan bank sentral akan mulai mengurangi pengetatan kuantitatif pada September tahun depan hingga berakhir pada awal 2025. Mereka memandang The Fed berikutnya mengurangi batasan pelepasan Surat Utang Negara (US Treasuries) sebesar US$10 miliar per bulan dan melanjutkan menginvestasikan kembali hipotek ke Surat Utang Negara.
Baca Juga
KSSK Ingatkan Suku Bunga The Fed Masih akan “Higher for Longer"
Goldman Sachs memperkirakan The Fed akan menjaga suku bunga relatif tinggi karena ekuilibrium yang lebih tinggi, menyusul munculnya kendala pasca-krisis keuangan yang relatif sangat dekat, dan berikutnya didukung defisit anggaran yang lebih besar kemungkinan akan berlanjut dan meningkatkan permintaan.
"Prakiraan kami bisa dianggap sebagai suatu kompromi antara pejabat Fed yang melihat sedikit alasan untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga tinggi begitu masalah inflasi teratasi, dan mereka melihat tak cukup alasan untuk mendorong ekonomi yang sudah kuat," tulis Mericle dari Goldman.

