Unsuspensi Saham AKKU, ALDO, SMLE, dan AIMS, Penguatan masih Berlanjut?
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut penghentian sementara perdagangan (unsuspend) atas empat saham emiten mulai sesi I, Senin (19/10/2026). Keempat saham tersebut adalah PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk. (AKKU), PT Alkindo Naratama Tbk. (ALDO), PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk. (SMLE), dan PT Artha Mahiya Investama Tbk. (AIMS).
Dengan keputusan pembukaan suspen ini, para investor dan pelaku pasar modal dapat kembali melakukan transaksi jual-beli saham keempat emiten tersebut di pasar reguler maupun pasar tunai. Berikut adalah detail emiten yang perdagangan sahamnya kembali dibuka oleh otoritas bursa.
Baca Juga
Alarm MSCI Makin Keras, BEI-OJK Ditantang Buktikan Pengawasan Saham
Saham PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (AKKU) sebelumnya terkena suspense setelah terjadi lompatan harga. Saham AKKU melesat lebih dari 133% menjadi Rp 105, sehingga saham ini terkena suspense akhir pekan lalu. Saham PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) telah melambung lebih dari 104% menjadi Rp 1.955 selama sebulan terakhir. Lompatan tersebut memicu saham ini terkena suspens.
Saham PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) juga sebelumnya terkena suspense setelah terjadi lompatan harga lebih dari 79% menjadi Rp 340. Begitu juga dengan saham PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) telah menguat sebanyak 80% menjadi Rp 990 selama sebulan terakhir.
Terkait Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10/2026), masih berisiko lanjutkan pelemahan dengan rentang pergerakan 5.100-5.200. Tiga saham MYOR, ACES, dan INDF direkomendasikan beli.
Baca Juga
BBCA, MSCI, dan Paradoks Saham Berkualitas yang Terjun Bebas
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa volatilitas berpotensi tetap tinggi, seiring kekhawatiran investor terhadap risiko capital outflow dan ketidakpastian klasifikasi MSCI. Perhatian juga tertuju pada langkah BEI dan OJK dalam memperkuat transparansi, integritas, serta kredibilitas pasar modal. “Selama belum ada kejelasan yang meredakan kekhawatiran tersebut, tekanan terhadap IHSG dan rupiah masih perlu diwaspadai,” tulisnya.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, IHSG mengalami breakdown tajam dari pola head & shoulders setelah gagal bertahan di atas neckline psikologis 6.000. MACD menunjukkan momentum bearish yang menguat, dengan garis MACD berada di bawah signal line dan histogram negatif semakin melebar.
