IHSG Ambruk 1,88%, Analis Ungkap Biang Keroknya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 115,44 poin (1,88%) ke level 6.031 pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Sejumlah analis pasar modal menilai koreksi tajam tersebut dipicu kombinasi sentimen eksternal dan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan pelemahan IHSG hampir 2% terutama dipengaruhi sentimen eksternal, kenaikan yield US Treasury, harga minyak, serta tekanan pada sejumlah saham big caps.
"Menurut saya, pelemahan IHSG hampir 2% hari ini lebih banyak dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan tekanan dari saham-saham big caps. Pasar kembali merespons FOMC Minutes yang cenderung hawkish, kenaikan yield US Treasury dan harga minyak, sehingga risk appetite investor menurun," kata Elandry saat dihubungi investortrust.id Kamis, (8/10/2026).
Sementara dari dalam negeri, Elandry menyebut arus dana asing yang masih keluar menjadi salah satu beban bagi pergerakan IHSG. Tekanan pada saham-saham sektor energi, material dasar, serta sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memperdalam koreksi indeks.
Menurut Elandry, koreksi IHSG belum otomatis menandakan pelemahan akan berlanjut secara dalam. Namun, volatilitas dalam jangka pendek masih tinggi sehingga indeks berpotensi menguji level support 6.000.
"Kalau tekanan eksternal mereda dan capital flow asing mulai membaik, peluang technical rebound tetap terbuka. Untuk perdagangan besok, saya melihat IHSG masih cenderung volatile dengan peluang konsolidasi terlebih dahulu. Investor sebaiknya mencermati apakah ada buying support di area 6.000 dan pergerakan saham-saham big caps sebagai penentu arah indeks berikutnya," pungkas Elandry.
Baca Juga
Senada dengan Elandry, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menilai sentimen terhadap IHSG cenderung mixed dengan bias cautious. Hal ini terutama setelah IHSG pada Rabu terkoreksi 0,75% ke level 6.146,724 setelah sebelumnya mencatat rebound selama tiga hari berturut-turut. Pada saat yang sama, investor asing membukukan net sell sekitar Rp828,65 miliar.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rebound IHSG dari area psikologis 6.000 belum sepenuhnya memperoleh konfirmasi dari foreign flow," ucap Nafan.
Menurut Nafan, investor global masih mencermati risalah FOMC September yang memberikan sinyal cukup hawkish. Risalah tersebut menunjukkan mayoritas pembuat kebijakan The Fed menilai masih diperlukan satu kali kenaikan Fed Funds Rate hingga akhir tahun.
"Langkah ini dipandang perlu untuk memastikan inflasi yang dinilai masih terlalu tinggi dapat kembali ke target jangka panjang The Fed sebesar 2%. Keputusan kenaikan 25 basis poin pada rapat September lalu merupakan langkah bulat pertama dalam tiga tahun terakhir," terang Nafan.
Meski mayoritas pejabat The Fed melihat adanya kebutuhan untuk melakukan pengetatan tambahan, mereka tetap menekankan pentingnya pendekatan berbasis data atau data-dependent approach. Dengan demikian, keputusan kebijakan moneter selanjutnya akan bergantung pada perkembangan data inflasi dan pasar tenaga kerja.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan The Fed cenderung menahan suku bunga pada pertemuan 28-29 Oktober mendatang. Proyeksi tersebut turut didukung data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah, dengan penambahan sekitar 29 ribu pekerjaan pada September, serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang menilai belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.
Alhasil, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober turun menjadi 19,38%. Sebaliknya, peluang kenaikan pada Desember masih lebih tinggi, yakni mencapai 98,37%.
Tekanan terhadap pasar juga datang dari kenaikan yield Treasury 10 tahun sebesar 0,34% menjadi 5,286%. Di saat yang sama, harga minyak Brent naik 0,33% ke level US$101,29 per barel.
Kombinasi tingginya yield obligasi dan harga energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membatasi ruang bagi bank sentral global untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter.
Perlu cermati arus dana asing dan rupiah
Dari domestik, Nafan menilai rupiah dan arus dana asing menjadi dua indikator yang perlu dicermati. Rupiah pada Rabu sempat menguat 0,07% ke Rp17.887 per dolar AS. Namun, penguatan dolar AS dan tingginya yield Treasury masih menjadi risiko terhadap stabilitas rupiah.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, terdapat sejumlah katalis positif dari dalam negeri. Bank Dunia melalui East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,7%.
Kenaikan proyeksi tersebut dinilai dapat menjadi bantalan bagi fundamental ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal.
Selain itu, keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkannya ke dalam watchlist turut menjadi katalis positif bagi stabilitas pasar modal Indonesia. Meski demikian, katalis tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan arus dana asing.
"Yang terpenting bahwa keputusan tersebut mengurangi risiko terjadinya downgrade atau keluarnya Indonesia dari kelompok pasar berkembang," tuturnya.
Selanjutnya, investor juga mencermati rilis data Indeks Keyakinan Konsumen September dengan proyeksi sebesar 118,0. Level di atas 100 menunjukkan keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Investor juga mulai memasuki musim laporan keuangan kuartal III-2026 serta mencermati fenomena October Effect. Secara historis, periode awal kuartal IV kerap dimanfaatkan investor untuk mengakumulasi saham-saham dengan fundamental kuat menjelang rilis kinerja kuartal III.
