Asing Masih ‘Net Sell’, ‘Yield’ Global dan Rupiah Jadi Beban IHSG
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing masih konsisten mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham Indonesia. Tekanan terhadap pasar domestik pun dinilai masih lebih banyak bersumber dari sentimen global, sementara pelemahan Rupiah menjadi faktor pemberat minat investor asing.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, sumber utama tekanan saat ini masih berasal dari kondisi global. Sementara pelemahan Rupiah, menurut dia, merupakan salah satu dampak dari sentimen tersebut.
“Sumber masalahnya tetap di global, Rupiah itu ikut kena imbasnya,” ujar Liza dikutip pada Rabu (7/10/2026).
Ia menyoroti kondisi pasar obligasi global yang justru masih mengalami tekanan meski pasar semakin yakin Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan 29 Oktober 2026.
Ekspektasi tersebut menguat setelah data Non Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) September hanya bertambah 29.000. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga saat ini pun sudah berada di atas 70%.
Namun, ekspektasi penahanan suku bunga The Fed belum menjadi katalis positif bagi aset berisiko. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun justru kembali naik menjadi 5,35%, sementara imbal hasil Japanese Government Bond (JGB) tenor 10 tahun juga meningkat ke sekitar 3,1%.
“Jadi yang bikin pusing sekarang sudah bukan Fed rate lagi. Yang jadi masalah itu yield tenor panjang di seluruh dunia yang terdorong inflasi energi dan kebutuhan pendanaan yang luar biasa besar,” tegasnya.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 629,87 Miliar, Saham GOTO Kembali Menjadi Penyumbang Terbesar
Yield Global Tekan Daya Tarik Indonesia
Liza menilai kenaikan yield obligasi negara maju membuat daya tarik aset negara berkembang, termasuk Indonesia menjadi berkurang.
Pasalnya, ketika aset yang dianggap paling aman memberikan imbal hasil di atas 5%, selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia menjadi semakin tipis untuk mengompensasi risiko investasi di emerging market.
Tekanan tersebut diperburuk oleh pelemahan Rupiah. Liza mencatat Rupiah sempat berada di level Rp 17.940 per dolar AS, sementara nilai tukar non-deliverable forward (NDF) offshore telah menembus Rp 18.000 per dolar AS.
“Ya asing makin punya alasan buat keluar,” tandasnya.
Kondisi tersebut tercermin dari aksi jual oleh investor asing yang terakumulasi lebih dari Rp 108 triliun di pasar reguler sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD).
Rupiah Jadi Pertimbangan Penting
Menurut Liza, faktor nilai tukar Rupiah masih memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investor asing, bahkan ketika valuasi saham-saham berkapitalisasi besar sudah terlihat relatif murah.
Pasalnya, investor asing menghitung imbal hasil investasinya dalam dolar AS. Dengan demikian, potensi keuntungan dari kenaikan harga saham maupun dividen dapat tergerus apabila Rupiah melemah ketika dana dikonversikan kembali ke dolar AS.
“Saham bank kita boleh saja murah tetapi kalau selama mereka pegang Rupiahnya melemah, capital gain plus dividennya habis kemakan kurs begitu dikonversi balik,” ujar Liza.
Ia menilai posisi NDF Rupiah yang berada di atas spot menunjukkan masih adanya ekspektasi pelemahan Rupiah di pasar offshore. Kondisi ini berpotensi semakin kuat, seiring meningkatnya kebutuhan Dolar menjelang akhir tahun.
Oleh karena itu, valuasi murah saja diyakini belum cukup untuk mendorong arus dana asing masuk secara signifikan. “Sejauh ini yang kelihatan baru akumulasi pilih-pilih di beberapa nama, belum inflow yang merata,” sambungnya.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 115,71 Miliar, Saham GOTO Kembali Dilepas Pemodal Asing
Tiga Katalis Ditunggu Asing
Liza menyebut setidaknya ada tiga katalis utama yang perlu muncul agar investor asing kembali meningkatkan eksposurnya di pasar saham Indonesia.
Pertama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun perlu kembali turun di bawah 5%. Menurutnya, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga saja belum cukup apabila yield tenor panjang masih bertahan di level tinggi.
Kedua, Rupiah perlu menunjukkan pembalikan arah yang lebih meyakinkan. Liza menilai penguatan Rupiah kembali ke bawah Rp 17.850 per dolar AS dapat menjadi tanda awal bahwa tekanan mulai mereda.
Namun, level yang lebih ideal bagi investor asing adalah Rupiah bertahan di sekitar Rp 17.500 per dolar AS atau lebih kuat, sesuai asumsi dalam 2027. Kemudian NDF offshore sudah tidak di atas spot.
“Ironisnya, Rp17.500 itu sekarang malah terdengar seperti target yang optimistis (di tengah tekanan nilai tukar),” tutur Liza.
Ketiga, investor asing juga dipercaya tengah menantikan hasil review MSCI pada November. Hasil positif, terutama apabila status freeze terhadap Indonesia dicabut, dinilai dapat menjadi bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia mulai berjalan dan mampu mengembalikan kepercayaan investor global.
“Tetapi jujur, kami nggak berharap banyak,” imbuhnya.
Selain itu, meredanya konflik AS-Iran juga dapat menjadi sentimen positif bagi pasar. Penurunan tensi geopolitik berpotensi menekan harga minyak sehingga dapat membantu meredakan tekanan inflasi energi.
“Selama katalis-katalis ini belum muncul, kenaikan IHSG kami anggap masih technical rebound, belum balik arah tren,” pungkasnya.
