Asing Net Sell SBN Seiring Yield Turun, Ada ORI Diburu
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, dengan mencatatkan transaksi net sell Rp 0,82 triliun pada Senin (10/02/2025), berdasarkan data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR). Capital outflows ini seiring yield tercatat menurun. Di sisi lain, ada SBN jenis ORI yang kini diburu investor.
Sementara itu, dana asing juga keluar dari pasar saham RI, dengan mencatatkan transaksi net sell senilai Rp 0,47 triliun pada Selasa (11/02/2025). Aksi jual itu membuat asing menambah akumulasi penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia month to date mencapai Rp 5,20 triliun, hingga Selasa sore.
Baca Juga
“Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 8,91 triliun atau setara US$ 543,87 juta,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta, Selasa (11/02/2025) malam.
Sedangkan di pasar SBN, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi Senin (10/02/2025). Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan penjualan neto Rp 0,82 triliun.
Namun, secara month to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih SBN rupiah yang dapat diperdagangkan Rp 6,25 triliun hingga Senin lalu. Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net buy mencapai Rp 10,90 triliun hingga Senin lalu.
Yield SRBI Turun di Bawah SBN
Memasuki tahun baru 2025, Bank Indonesia (BI) tercatat telah menurunkan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di bawah tingkat imbal hasil SBN, sesuai janji Gubernur BI Perry Warjiyo di hadapan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya. Langkah ini untuk membantu mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional, yang tercatat melambat sepanjang 2024.
Yield SRBI tercatat turun di bawah SBN setelah mengalami tren kenaikan sejak peluncurannya pada 2023. Imbal hasil SRBI tenor 1 tahun sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa 7,53% pada 28 Juni dan 3 Juli 2024, jauh di atas SBN 6,64-6,71%.
Namun, pada 24 Januari 2025, yield SRBI turun ke 6,84% atau lebih rendah dari SBN yang 7,08%. Selanjutnya, pada 7 Februari 2025, yield SRBI menurun lagi ke 6,57%, di bawah SBN yang masih 6,67%.
| Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yield instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akhirnya turun di bawah Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah. Infografis: Diolah Riset Investortrust.id. |
Baca Juga
Utang Pemerintah Jatuh Tempo Rp 800 Triliun, Pasokan Surat Utang Meningkat
Yield SRBI itu juga di bawah kupon Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI027 yang menawarkan imbal hasil 6,65-6,75%. Hal ini membuat investasi di ORI027 tidak hanya lebih menarik dari deposito perbankan, namun juga mengungguli SRBI.
Peluang Untung dari ORI027
Kementerian Keuangan saat ini menawarkan SBN Ritel ORI027 dengan masa penawaran 27 Januari 2025 - 20 Februari 2025. ORI027 dikabarkan disambut antusias oleh investor, yang terbukti jumlah nilai pemesanan diperkirakan telah mencapai Rp 10 triliun hingga Selasa pagi (11/02/2025).
Tingginya minat investor terhadap ORI027 didorong oleh imbal hasil kompetitif, yakni 6,65% (ORI027T3) dan 6,75% (ORI027T6), jauh lebih tinggi dibanding deposito. Obligasi ini juga bersifat tradable di pasar sekunder dengan kupon tetap, menjadikannya pilihan menarik di tengah ketidakpastian pasar akibat memanasnya perang dagang dipicu kebijakan penaikan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Berdasarkan data Bareksa, ORI027 menjadi rebutan investor karena menawarkan kupon tertinggi sejak 2019 atau dalam 5 tahun terakhir. Imbal hasil ORI027 juga berpotensi jadi yang tertinggi di 2025. Dengan potensi keuntungan ganda dari kupon dan capital gain, ORI027 semakin diminati sebagai instrumen investasi yang stabil dan menguntungkan di 2025.

