'Lillah, Fillah, Billah'
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Kesuksesan tidak turun dari langit. Selain harus diperjuangkan, kesuksesan juga harus didefinisikan, diukur, dan direncanakan sejak awal. Sebab pada dasarnya, merancang kesuksesan adalah menyusun strategi perencanaan kehidupan.
Tapi kesuksesan tidak berlaku umum. Setiap orang punya definisi dan ukuran yang berbeda-beda tentang kesuksesan. Begitu pula Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, Imam Teguh Saptono.
“Setiap orang memiliki kanvas dan mimpi yang berbeda-beda sehingga seseorang bisa punya kesempatan yang sama untuk membuat arti kesuksesan sendiri,” kata pria kelahiran Bogor, 18 November 1969, itu kepada wartawan investortrust.id, Hari Gunarto di Jakarta, baru-baru ini.
Yang pasti, pencapaian karier Imam Teguh Saptono saat ini adalah buah dari kontemplasi tentang arti, arah, dan tujuan hidupnya. Juga dari hasil perenungan tentang definisi dan ukuran kesuksesannya.
“Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat nilai kesuksesan, yang saya sebut sebagai mission of life. Mission of life artinya kita perlu mengetahui tujuan hidup kita, ke mana arah yang ingin dituju, serta bagaimana mendefinisikan dan mengukur kesuksesan,” tutur dia.
Perjalanan karier Imam terbilang penuh warna. Meski kini menakhodai bank syariah, pria yang menyelesaikan studi S1 hingga S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB) University itu memulai karier dari bank konvensional, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dan PT Bank Permata Tbk.
Uniknya, mantan Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia ini lebih nyaman dianggap sebagai ‘pengajar’ alih-alih sebagai bankir. Itu karena ia memiliki gairah (passion) yang sangat kuat di bidang pendidikan. Imam bahkan menganggap dosen adalah pekerjaan abadinya.
“Jadi, bisa dibilang, sekarang ini saya adalah seorang pengajar yang sedang diberi tugas sebagai Direktur Utama Bank Muamalat,” ujar Imam yang efektif menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk sejak 24 Maret 2025.
Bagi Imam Teguh Saptono, sejak awal memimpin Bank Muamalat, obsesinya bukan sekadar angka di laporan keuangan. Lebih dari itu, ia ingin menjadikan kepemimpinannya di Bank Muamalat sebagai bentuk pengabdian dalam menjalankan amanah.
“Saya sadar, memimpin bank syariah, apalagi yang lahir dari spirit perjuangan umat, bukan sekadar tugas profesional, tapi juga amanah spiritual,” tegas dia.
Imam percaya bahwa semua hal sesungguhnya berasal dari dan untuk Allah SWT. Alhasil, semua harus dijalankan di jalan-Nya dan hasilnya pun hanya bisa diperoleh semata-mata atas izin-Nya. "Maka dalam bekerja harus Lillah, Fillah, dan Billah," tandas Imam.
Apa saja kiat sukses Imam Teguh Saptono? Mengapa ia banting setir dari bank konvensional ke bank syariah? Ke mana Bank Muamalat akan ia bawa? Apa obsesinya untuk bank syariah pertama di Indonesia itu? Berikut penuturan lengkapnya:
Anda memulai karier dari mana?
Saya menempuh studi dari S1 hingga S3 di IPB University dalam kurun waktu 1992 hingga 2011. Karier profesional saya dimulai tahun 1996 di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Pengalaman awal di bank konvensional ini menjadi batu loncatan yang berharga, memberikan pemahaman mendasar tentang operasional dan strategi perbankan. Kemudian saya mengemban berbagai posisi strategis di PT Bank Permata Tbk dari tahun 2003 hingga 2007.
Titik balik perjalan karier Anda?
Titik balik yang signifikan terjadi pada 2008, ketika saya memutuskan untuk memasuki industri perbankan syariah. Keputusan ini menandai awal transformasi karier saya menuju spesialisasi yang lebih niche dan memiliki value.
Kemudian, komitmen di dunia syariah pun terus berlanjut. Dari tahun 2010 hingga 2017, saya bekerja di PT Bank BNI Syariah dan pada akhirnya dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama.
Selanjutnya, upaya untuk mengembangkan ekonomi syariah secara lebih luas dilanjutkan dengan aktif menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) sejak 2017 hingga 2024. Hingga akhirnya saya diangkat sebagai Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk pada Desember 2024.
Kiat Anda mencapai kesuksesan?
Untuk mencapai kesuksesan, ada banyak hal yang perlu dilakukan, terutama saat membuat strategi perencanaan kehidupan, sebelum akhirnya membangun organisasi dan juga keluarga.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat nilai kesuksesan, yang saya sebut sebagai mission of life. Mission of life artinya kita perlu mengetahui tujuan hidup kita, ke mana arah yang ingin dituju, serta bagaimana mendefinisikan dan mengukur kesuksesan.
Saya mengumpamakan, setiap orang memiliki kanvas dan mimpi yang berbeda-beda. Dengan itu, seseorang bisa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuat arti kesuksesan sendiri. Dakwah adalah contoh kesuksesan saya karena saya telah membuat kriteria bahwa kesuksesan itu dakwah first. Kenapa dakwah first? Karena perjalanan saya menggeluti dunia perbankan syariah adalah perjalanan agar semakin dekat dengan Allah SWT.
Jadi, definisi sukses menurut Anda?
Sukses bukanlah sebuah pilihan, tapi semangat yang harus dikobarkan dan diraih, jangan ditunda.
Alasan Anda menggeluti profesi bankir?
Satu-satunya pekerjaan yang sejak awal karier saya sampai sekarang yang tidak pernah berhenti adalah mengajar, atau pekerjaan abadi saya adalah dosen. Jadi, bisa dibilang, sekarang ini saya adalah seorang pengajar yang sedang diberi tugas sebagai Direktur Utama Bank Muamalat.
Selain karena hobi dan passion, satu-satunya pekerjaan yang tidak pernah saya tanyakan penghasilannya adalah mengajar, baik mengajar formal maupun informal atau mentoring. Di sisi lain, saya juga punya amanah untuk masuk dunia pendidikan.
Bagaimana Anda menjaga keduanya agar tetap profesional?
Sebenarnya kedua profesi tersebut saling menguatkan antara praktik di lapangan dan tuntutan mengajar. Karena bagaimana pun, pendidikan di Indonesia ada gap antara dunia praktisi dan akademisi, terutama soal mindset yang cenderung kaku atau semacam ada barrier bagi praktisi masuk dunia akademisi, begitu juga sebaliknya.
Gaya kepemimpinan Anda?
Ada dua momen penting yang sangat membentuk cara pandang saya sebagai pemimpin. Momen pertama yaitu transformasi menuju ekonomi syariah. Awalnya saya "awam” tentang Islam, namun pandangan saya berubah total setelah mendalami perbankan syariah. Saya menyadari bahwa syariat Islam mengatur hal-hal yang sangat detail dalam ekonomi, yang menjadi titik balik komitmen profesional dan spiritual saya.
Momen kedua adalah kesuksesan membangun BNI Syariah. Saya meyakini bahwa prinsip Dakwah First Business Follow dapat mendorong pertumbuhan komersial secara sehat dan berkelanjutan. Saat menangani BNI Syariah, alhamdulillah kami mencatatkan pertumbuhan aset dan laba yang terbesar di industry. Itu tahun 2015 sampai 2017. Momen ini membuktikan bahwa integritas, kinerja, dan prinsip syariah dapat berjalan beriringan dengan kesuksesan duniawi.
Bank Muamalat akan Anda bawa ke mana?
Strategi Bank Muamalat ke depan bertumpu pada empat pilar utama, yakni pertumbuhan bisnis yang sehat, perbaikan kualitas aset, penguatan sumber daya manusia dan digitalisasi, serta persiapan strategi anorganik sebagai bagian dari turnaround plan.
Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapai bukan hanya cepat, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan, sejalan dengan nilai-nilai syariah dan kebutuhan umat.
Di tengah dinamika ekonomi global yang kian kompleks, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan bukan hanya seberapa cepat ekonomi tumbuh, tetapi ke mana arah pertumbuhan itu membawa manusia. Apakah pertumbuhan tersebut menghadirkan keadilan, mengurangi kesenjangan, dan menjaga martabat kemanusiaan? Ataukah justru meninggalkan sebagian besar masyarakat di belakang?
Bank Muamalat bisa menjawab itu semua?
Ekonomi syariah hadir sebagai jalan tengah. Ia tidak menafikan pertumbuhan, tetapi menegaskannya agar tetap berpijak pada nilai. Dalam ekonomi syariah, keuntungan bukanlah tujuan tunggal, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.
Prinsip ini tecermin dalam maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Jika nilai-nilai ini dijadikan fondasi kebijakan dan praktik ekonomi, maka pertumbuhan yang lahir bukan hanya tinggi secara statistik, tetapi juga bermakna secara sosial.
Bank syariah tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi menjadi penghubung antara sektor riil, keuangan, dan sosial. Ia bukan sekadar lembaga intermediasi, tetapi mitra umat dalam membangun ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Sebagai pionir perbankan syariah nasional, Bank Muamalat terus berikhtiar meneguhkan peran tersebut. Melalui penguatan layanan digital, integrasi Ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf) serta fokus pada ekosistem haji dan umrah, kami ingin memastikan bahwa layanan perbankan tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga menghadirkan ketenangan dan keberkahan.
Contoh keberhasilan gebrakan Anda di perusahaan?
Saat di BNI Syariah, kami meluncurkan program kampanye “Hasanah Titik”, yakni konsep bank syariah untuk keluar dari product market term kepada basis values and benefits. Kami mencoba mengangkat spirit bahwa bank syariah adalah beyond banking.
Saat itu, muncullah beragam kampanye produk bank syariah yang lebih bersifat social movement dibandingkan dengan pola pemasaran produk berbasiskan fitur produk dan harga (pricing). Beberapa jargon yang terkenal saat itu antara lain “Riba Amnesti”, “Dakwah First Business Follow”, dan sebagainya.
Saat ini di Bank Muamalat, salah satu gebrakan monumental yang kami lakukan adalah menata ulang arah strategis bank secara jujur dan berani melalui apa yang kami sebut sebagai Turnaround Plan berbasis nilai.
Apa intinya?
Kami tidak memulai dari kosmetik kinerja, tetapi dari hal yang paling mendasar, yakni kesadaran kolektif bahwa krisis bukanlah aib, melainkan momentum spiritual dan manajerial untuk bangkit. Dari situ, kami menyederhanakan fokus bisnis, menghentikan ekspansi yang tidak sehat, dan mengalihkan energi organisasi ke segmen-segmen yang benar-benar kami pahami dan kuasai, khususnya ekosistem haji, emas, dan ritel yang resilient.
Di saat yang sama, kami memperkuat budaya internal dengan menegaskan kembali bahwa Bank Muamalat bukan sekadar entitas bisnis, tetapi institusi perjuangan. Perubahan ini terasa nyata dalam cara bekerja, cara mengambil keputusan, hingga cara melayani nasabah.
Sudah ada hasilnya?
Perlahan tapi pasti, trust mulai kembali, kinerja membaik, dan yang terpenting organisasi menemukan kembali jati dirinya.
Filosofi hidup Anda?
Dalam bekerja harus Lillah, Fillah, dan Billah yang mencerminkan bahwa semua berasal dari dan untuk Allah (orientasi), oleh karenanya harus dijalankan di jalannya Allah SWT (cara), dan apa pun hasilnya semata-mata karena izin Allah (makna).
Bagaimana penjabarannya?
Dalam bekerja sebagai bankers, memegang teguh Ijtihad sebagai update, Islah sebagai upgrade, serta Inovasi sebagai uplift. Itu semua sebagai pengejawantahan modernitas dalam bekerja.
Selain itu, sebagai perwujudan nilai profesional dalam bekerja, prinsip sebagai bankers harus amanah, ihsan, dan itqan yang kami tuangkan dalam kalimat Dakwah First Business Follow.
Obsesi yang masih Anda kejar?
Bagi saya, sejak awal memimpin Bank Muamalat, obsesi atau target saya nggak cuma sekadar angka di laporan keuangan. Tentu, profit itu penting. Tapi lebih dari itu, saya ingin menjadikan kepemimpinan ini sebagai bentuk pengabdian dalam menjalankan amanah. Karena saya sadar, memimpin bank syariah, apalagi yang lahir dari spirit perjuangan umat, itu bukan sekadar tugas profesional, tapi juga amanah spiritual.
Target Anda?
Target pertama saya adalah bagaimana menyambungkan kembali ruh tauhid ke dalam sistem perbankan. Bahwa semua aktivitas di Bank Muamalat, dari membuka rekening, menyalurkan pembiayaan, sampai mengelola dana, itu harus dilihat sebagai ibadah. Kita ini bukan cuma jualan produk, tapi mengelola titipan Allah. Jadi, orientasinya harus benar sejak awal, yaitu bukan hanya mengejar target, tapi mengejar rida-Nya.
Lalu sebagai pemimpin, saya sadar peran saya adalah menjadi khalifah di level organisasi, yang harus memastikan semua berjalan dengan amanah dan adil. Saya ingin menciptakan budaya kerja yang sehat, di mana karyawan tidak hanya bekerja keras, tapi juga merasa dimuliakan. Karyawan yang merasa dimanusiakan akan lebih tulus dalam melayani nasabah. Dan itu dampaknya bukan hanya pada kinerja, tapi pada keberkahan.
Target selanjutnya?
Target berikutnya adalah bagaimana menjadikan Bank Muamalat bermanfaat dan berdampak. Kami ingin bank ini membawa maslahat, bukan cuma untuk shareholder, tapi juga untuk umat, bangsa, bahkan lingkungan. Maka dari itu, kami fokus membangun ekosistem yang mendukung wakaf produktif, UMKM halal, dan pelayanan haji yang lebih baik agar bank ini benar-benar hadir di tengah kebutuhan nyata masyarakat.
Tak kalah penting, saya ingin Bank Muamalat bisa tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Kami harus punya fondasi kuat, bukan hanya hidup dari semangat sesaat. Maka dibutuhkan profesionalisme, tata kelola yang baik, teknologi yang mumpuni, inovasi dan SDM yang terus belajar. Keberlanjutan itu nggak datang dari keajaiban, tapi dari sistem yang dikelola dengan serius.
Terakhir, saya ingin meninggalkan legacy, bukan sekadar pencapaian. Saya ingin, suatu saat nanti ketika orang melihat Bank Muamalat, mereka melihatnya sebagai lembaga yang berdiri tegak di atas nilai-nilai, bukan hanya angka. Sebuah institusi yang pernah jatuh, tapi bangkit dengan elegan, karena tidak meninggalkan prinsip dasarnya.
Kesimpulannya?
Jadi, kalau dirangkum, target saya itu sederhana tapi berat, yaitu membawa Bank Muamalat kembali ke jati dirinya sebagai bank perjuangan umat, yang dijalankan dengan akal profesional dan hati yang tunduk pada Tuhan. Oleh karenanya, dengan persetujuan board of commissioner dan board of directors, untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya dengan merumuskan kembali visi Bank Muamalat “Menjadi Jalan Hijrah Menuju Berkah”.
Cara Anda menyeimbangkan hidup?
Konsep Lillah, Fillah, dan Billah adalah motor penggerak yang sekaligus menjadi sumber kekuatan dan laku hidup atau way of life. Semuanya melampaui urusan duniawi dan menuntun manusia untuk senantiasa terhubung dengan ‘Langit’.
Salah satu yang ingin saya kuatkan di Bank Muamalat adalah mendorong semua tim bisa memaknai kembali sebuah pencapaian. Karena pada saat itu, biasanya perubahan-perubahan besar terjadi. Dampak dari pencapaian tersebut tidak hanya bemanfaat bagi perusahaan, namun juga bagi karyawan hingga keluarga di rumah.
Karena itu, saya selalu menekankan perlunya keseimbangan dalam hidup. Tidak hanya melulu soal pekerjaan, namun keluarga dan masyarakat adalah support system yang penting.
Peran keluarga dalam karier Anda?
Keluarga memiliki peran yang sangat fundamental dalam perjalanan hidup dan karier saya. Istri dan anak-anak adalah sumber kekuatan sekaligus pengingat agar saya tidak kehilangan arah.
Dalam banyak keputusan besar, terutama yang penuh risiko dan tekanan, dukungan keluarga menjadi jangkar emosional dan spiritual. Mereka memahami bahwa amanah yang saya jalani bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian. Dari merekalah saya belajar tentang keikhlasan, kesabaran, dan arti pulang bahwa seberat apa pun amanah di luar, rumah harus tetap menjadi tempat teduh.
Orang tua juga menanamkan nilai sederhana sejak awal bahwa bekerja itu harus jujur, hidup harus bermanfaat, dan jabatan hanyalah titipan. Nilai-nilai itulah yang terus saya bawa sampai hari ini.
Kegiatan Anda di luar jam kerja?
Meskipun peran sebagai Direktur Utama Bank Muamalat cukup menyita waktu dan energi, saya percaya bahwa hidup harus tetap seimbang. Justru dari kegiatan di luar kantor itulah saya sering mendapat energi baru, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.
Salah satu hal yang masih saya lakukan dengan penuh semangat adalah mengajar. Dunia pendidikan itu sudah jadi passion saya sejak lama. Saat ini saya mengajar di program S2 dan S3 di Sekolah Bisnis IPB dan Uika (Universitas Ibn Khaldun) Bogor. Bagi saya, berbagi ilmu dan berdiskusi dengan para mahasiswa itu seperti mengasah kembali idealism, sekaligus menjaga agar saya tetap grounded.
Selain itu, saya juga punya ketertarikan di dunia film dakwah. Beberapa tahun terakhir, saya terlibat sebagai produser dalam lima film layar lebar bergenre dakwah. Ini proyek bareng beberapa teman yang punya semangat yang sama: berdakwah lewat medium yang lebih luas dan bisa menjangkau generasi muda, sekaligus mengangkat misi filantropi Islam. Jadi, setiap proyek film yang kami garap, insyaallah punya nilai sosial yang ingin kami sampaikan, bukan sekadar hiburan.
Saya juga terlibat aktif sebagai mentor dan angel investor untuk beberapa startup di program inkubasi yang digagas alumni IPB. Saya percaya, entrepreneur muda itu adalah ujung tombak masa depan ekonomi. Kalau bisa tumbuh dengan nilai, visi, dan pendampingan yang tepat, mereka bukan cuma akan sukses secara bisnis, tapi juga membawa dampak positif yang luas. Saya senang sekali bisa ikut berkontribusi dalam ekosistem tersebut.
Kadang juga saya ambil waktu untuk touring naik motor bersama komunitas, seperti Muamalat Biker Club dan Hasanah Rider Club. Touring itu semacam meditasi jalanan buat saya, menyatu dengan alam, melepas penat, sambil tetap terhubung dengan teman-teman yang punya semangat kebersamaan.
Jadi, ya meski hari-hari saya dipenuhi agenda korporasi, saya selalu menyisakan ruang untuk hal-hal yang menyegarkan jiwa. Karena dari sanalah biasanya muncul inspirasi-inspirasi terbaik untuk dibawa kembali ke meja kerja.
Kegiatan Anda bersama keluarga di waktu senggang?
Kalau waktu saya benar-benar senggang dan ingin rehat dari semua kesibukan, biasanya saya traveling dengan keluarga serta aktivitas hunting kuliner, entah itu sekadar staycation atau eksplorasi tempat baru yang tenang serta penuh inspirasi, dan yang lebih khusus adalah makanannya.
Bagaimana perkembangan terakhir proses pencatatan saham Bank Muamalat di BEI?
Tujuan pencatatan saham adalah untuk memenuhi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada akhir 2023, Bank Muamalat telah mengajukan pencatatan saham ke Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah memenuhi sejumlah persyaratan teknis, termasuk minimum floating shares 10%, namun BEI belum dapat menyetujui pencatatan saham Bank Muamalat.
Apa yang masih menjadi ganjalan?
Salah satu penyebabnya adalah jumlah pemegang saham yang tidak teridentifikasi cukup besar. Sebagai informasi, jumlah pemegang saham Bank Muamalat saat ini mencapai lebih dari 339 ribu orang atau entitas. Sebagian pemegang saham adalah jemaah haji tahun 1992 – 1994, namun saham ini telah diwakili oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) melalui putusan pengadilan tahun 2024.
Selain itu, masih terdapat sekitar 300 ribu pemegang saham yang memperoleh saham di luar program haji yang hingga kini belum dapat diidentifikasi karena data yang sangat minim.
Adapun tantangan lainnya adalah per Februari 2026, BEI telah meningkatkan minimum floating shares menjadi 15%, sehingga diperlukan langkah lanjutan. Selain itu, Bank Muamalat dituntut untuk terus memperbaiki kinerjanya, di mana saat ini kinerja perusahaan telah menunjukkan tren perbaikan.
Keputusan untuk listing merupakan wewenang pemegang saham pengendali (PSP), dan saat ini kami masih menunggu arahan dari BPKH terkait hal tersebut.
Bank Muamalat juga sedang mencari mitra strategis untuk memperkuat struktur permodalan, bagaimana perkembangannya?
Hal ini sepenuhnya menjadi kewenangan BPKH selaku pemegang saham pengendali Bank Muamalat. Perlu kami klarifikasi bahwa mitra strategis yang dicari adalah strategic operating partner, yang akan bersama-sama BPKH mempercepat pertumbuhan bisnis Bank Muamalat. Saat ini, BPKH tengah menjajaki sejumlah calon investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Menurut pandangan kami, calon mitra strategis Bank Muamalat harus memiliki pengalaman, kapasitas bisnis dan pendanaan yang kuat serta rekam jejak yang baik di sektor perbankan baik dalam negeri maupun global.
Apakah konsolidasi bisnis yang dilakukan Bank Muamalat sudah mulai membuahkan hasil?
Alhamdulillah, konsolidasi bisnis yang kami lakukan telah menunjukkan hasil positif. Beberapa indikator utama di akhir 2025 (interim) berhasil dijaga untuk tumbuh positif, diantaranya dana pihak ketiga (DPK) berhasil tumbuh 8,91% secara tahunan (year on year/yoy) dan penyaluran pembiayaan tumbuh 13,16% (yoy).
CASA (current account saving account) alhamdulillah dijaga dengan baik di atas 50%, mencerminkan kepercayaan nasabah ritel yang tinggi. Permodalan juga kuat dengan rasio CAR (capital adequacy ratio) di sekitar 26,29%, memberikan ruang untuk ekspansi berkelanjutan.
Pada tahun 2025, Bank Muamalat berhasil meningkatkan proporsi pembiayaan ritel hingga 39-40%. Rasio ini meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat 33%. Peningkatan pembiayaan ritel ini utamanya dikontribusikan oleh segmen consumer yang meningkat sekitar Rp 1,3 triliun. Tentunya karena didukung oleh champion product Bank Muamalat, yaitu Solusi Emas Hijrah (Soleh).
Apa saja tantangannya?
Selalu ada tantangan di setiap pertumbuhan. Bank Muamalat masih dihadapkan pada masalah penyelesaian nasabah NPF (non-performing financing) yang cukup signifikan, serta aspek rentabilitas. Namun itu masih dalam batas yang manageable dan telah mampu diantisipasi dengan strategi resolusi yang proaktif.
Selain itu, transformasi digital turut mendukung efisiensi operasional dan peningkatan Fee-based Income. Inovasi digital juga meningkatkan transaksi perbankan khususnya dari channel digital yang pada gilirannya menguatkan stickyness nasabah di Bank Muamalat.
Bisa dijelaskan Rencana Bisnis Bank (RBB) Muamalat dan sasaran utamanya tahun ini?
Bank Muamalat memiliki visi besar untuk menjadi Bank Haji dan Wakaf Nasional di masa yang akan datang. Hal tersebut akan dicapai secara bertahap dengan fokus pada ekosistem haji dan umrah, serta social Islamic dan halal lifestyle, hingga ke depannya menjadi Bank Haji dan Wakaf Nasional.
Di tahun 2026 ini, Bank Muamalat akan fokus pada tema “Memperkuat Bisnis Ekosistem Islami yang Berkualitas dan Berkelanjutan untuk Peningkatan Profit yang Optimal”. Tema ini akan berfokus pada akselerasi segmen ritel yang resilient, seperti Islamic halal lifestyle, sektor pendidikan, dan kesehatan.
Bank Muamalat juga akan melakukan penguatan ekosistem haji dan umrah secara end-to-end. Selain itu, kami akan inisiasi produk-produk berbasis wakaf sebagai bagian dari komitmen sosial syariah. Adapun sasarannya adalah pertumbuhan pembiayaan sebesar 15-20%, peningkatan kontribusi fee-based income, serta optimalisasi digital touchpoint.
Bank-bank lain gencar melakukan inovasi digital, bagaimana dengan Bank Muamalat?
Bank Muamalat menunjukkan keseriusan dalam transformasi digital melalui berbagai inovasi untuk memperkuat daya saing di industri perbankan syariah. Dengan melihat pergeseran menarik di mana halal lifestyle kini bukan sekadar pemenuhan kaidah ibadah, melainkan sudah menjadi gaya hidup modern, menjadikan kemudahan bertransaksi menjadi hal yang perlu diprioritaskan.
Sebagai perwujudan dari hal tersebut, kami telah meluncurkan Muamalat DIN sebagai super app yang mengintegrasikan layanan keuangan dan spiritual. Layanan ini dapat diakses dalam format mobile banking oleh nasabah. Lebih dari 90% transaksi nasabah sudah melalui kanal digital. QRIS kami juga tumbuh 89,37% (yoy) dengan lebih dari 5 juta transaksi.
Ke depan, akan dikembangkan fitur Haji, Umrah dan Wakaf Digital serta integrasi ekosistem layanan haji-umrah dalam satu platform.
Bank Muamalat ditargetkan menjadi bank terbaik yang menjalankan Maqashid Syariah. Sebetulnya positioning bisnisnya ada di mana?
Positioning bisnis Bank Muamalat secara tegas berada pada ekosistem haji, umrah, dan ekonomi syariah berbasis maqashid syariah. Bank Muamalat memiliki visi besar sebagai Bank Haji dan Wakaf Nasional. Fokus utama ada pada pengembangan ekosistem syariah holistik, tidak hanya transaksional tetapi juga berdampak sosial.
Segmentasi yang disasar adalah jemaah haji-umrah, nasabah ritel low-risk, serta korporasi di sektor halal lifestyle. Tentunya hal tersebut akan digarap dengan keunggulan yang dimiliki Bank Muamalat, yaitu legacy sebagai pelopor perbankan syariah yang memiliki komitmen pada maqashid syariah.
Bagaimana Anda melihat kompetisi di perbankan syariah saat ini sejalan dengan bermunculannya bank-bank yang dikonversi dari UUS menjadi BUS dan hadirnya Bank Syariah Nasional milik BTN?
Bank Muamalat sebagai pionir perbankan syariah di Indonesia memandang dinamika kompetisi industri saat ini sebagai momentum positif bagi industri perbankan syariah nasional.
Kami menyambut positif perkembangan industri, termasuk konversi UUS (unit usaha syariah) menjadi BUS (bank umum syariah) dan kehadiran BSN. Kompetisi yang baik akan mendorong inovasi dan kematangan pasar.
Kami percaya bahwa keunikan kami yang berspesialisasi pada ekosistem haji, umrah, dan social lifestyle memiliki ceruk pasar tersendiri bagi nasabah. Hal ini diperkuat pula oleh basis nasabah yang loyal. Karena itu, transformasi digital dan diferensiasi produk menjadi kunci bagi kami untuk menjaga daya saing.
Prospek perbankan syariah ke depan?
Bank Muamalat memandang prospek perbankan syariah Indonesia ke depan dengan optimisme terukur. Potensi pertumbuhan perbankan syariah masih lebih tinggi, didukung oleh regulasi pemerintah dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Tantangan terbesarnya ada di mana?
Tantangan ada pada literasi keuangan syariah, meningkatkan efisiensi, inovasi digital, dan pengalaman nasabah setara bank konvensional. Masih banyak peluang yang dapat digarap seperti produk syariah, di antaranya SRIA (sharia restricted investment account), wakaf, sukuk, dan pembiayaan pelunasan haji memiliki pangsa pasar yang belum digarap secara optimal.
Berdasarkan komitmen pemerintah dalam pengembangan keuangan syariah, sebagaimana tertuang dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan roadmap pengembangan ekonomi syariah ke depan, kami meyakini prospek ekosistim halal menjadi daya tarik tersendiri seperti jaminan produk halal maupun harmonisasi kebijakan perpajakan khususnya dapat terlaksana. Bank Muamalat berkomitmen menjadi benchmark perbankan syariah berbasis dampak sosial dan spiritual. ***
Biodata
Nama lengkap: Imam Teguh Saptono.
Tempat/tanggal lahir: Bogor, 18 November 1969.
Pendidikan:
* Sarjana Ekonomi Sosial – IPB (1992).
* Magister Manajemen Agribisnis - IPB (1994).
* Doktor Manajemen dan Bisnis - IPB (2011).
Karier:
* Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (24 Maret 2025 – sekarang).
* Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (2017 - 2024).
* Direktur Utama PT Bank BNI Syariah (2016 - 2017).
* Direktur Bisnis PT Bank BNI Syariah (2012 - 2016).
* Direktur Risiko dan Kepatuhan PT Bank BNI Syariah (2010 - 2012).
* VP Corporate Secretary PT Bank Permata Tbk (2005 - 2007).
* Head of Investor Relations PT Bank Permata Tbk (2003 - 2005).

