Meski Nilai Transaksi Kripto RI Menyusut, Tapi Jumlah Penggunanya Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Minat masyarakat Indonesia terhadap aset kripto masih menunjukkan pertumbuhan. Hal ini tercermin dari jumlah akun konsumen kripto yang terus meningkat, meski nilai transaksi mengalami penurunan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah akun konsumen kripto mencapai 22,93 juta pada Juli 2026. Angka ini meningkat 1,03% dibandingkan Juni 2026 yang tercatat 22,69 juta akun. Bahkan jika dibandingkan Juli 2025, jumlah pengguna bahkan telah tumbuh 39%.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai, pertumbuhan jumlah pengguna tetap menjadi modal penting bagi perkembangan industri aset digital di dalam negeri. “Di dalam negeri kita justru melihat jumlah pengguna masih bertambah cukup kuat,” ujarnya, dalam keterangan pers, Kamis (1/10/2026).
“Jadi tantangan industri sudah bergeser. Bukan hanya bagaimana mendapatkan user baru, melainkan bagaimana mengubah user menjadi partisipan yang aktif dan berkelanjutan,” sambungnya.
Baca Juga
Menurut Yudhono, kondisi tersebut menunjukkan pasar kripto Indonesia mulai bergerak menuju tahap pendalaman. Pengembangan industri ke depan tak hanya bergantung pada aktivitas perdagangan, tapi juga pada keberagaman produk, peningkatan likuiditas, edukasi dan pemanfaatan aset digital.
“Kalau fase pertama industri adalah memperbesar awareness dan akses, fase berikutnya adalah memperdalam pasar. Kita membutuhkan variasi produk, likuiditas yang lebih baik, edukasi yang lebih relevan, serta use case yang membuat masyarakat melihat aset digital bukan sekadar instrumen spekulasi jangka pendek,” katanya.
Sementara itu, Survei 2026 Global Crypto Adoption Index yang dirilis Chainalysis menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 dari 117 negara. Meski turun dari posisi ketujuh pada tahun sebelumnya, Indonesia masih berada di peringkat ke-11 untuk total aliran transaksi dan peringkat ke-10 untuk transaksi lintas negara.
Yudhono melihat posisi tersebut sebagai gambaran bahwa Indonesia memiliki keterhubungan yang kuat dengan ekosistem aset digital global.
“Indonesia masih memiliki modal besar, hampir 23 juta akun konsumen, infrastruktur regulasi yang semakin lengkap, dan pasar digital yang besar,” ucapnya.
Baca Juga
Adopsi Kripto Indonesia Kini Ada di Peringkat 14, Asia Pasifik Mendominasi
Dengan basis pengguna yang terus bertambah, lanjut Yudhono, perkembangan industri kripto Indonesia ke depan berpotensi semakin ditentukan oleh kemampuan ekosistem dalam meningkatkan aktivitas pengguna, memperluas pilihan produk, serta menghadirkan manfaat aset digital yang lebih beragam.
“Kalau pengguna terus tumbuh dan pada saat yang sama kita mampu meningkatkan aktivitas, literasi, serta pilihan produknya, Indonesia masih punya peluang besar untuk kembali memperkuat posisinya dalam industri aset digital global,” ujarnya.
