Rupiah dan Arus Dana Asing Jadi Penentu Utama Penguatan IHSG ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75% memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik. Namun, keberlanjutan rebound IHSG masih bergantung pada stabilitas rupiah dan kembalinya arus dana asing.
Pada perdagangan Rabu (23/9/2026), IHSG tercatat rebound 1,56% ke level 6.375. Sementara itu, rupiah menguat ke sekitar Rp17.800 per dolar AS. Adapun pagi ini, IHSG dibuka menguat sebanyak 16,92 poin (0,27%) menjadi 6.315. Penguatan tersebut sejalan dengan penguatan nilai tukar Rupiah dan kenaikan sejumlah saham pasar Asia.
Meski demikian, penguatan IHSG dan rupiah masih perlu dicermati karena arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang signifikan. Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan investor masih perlu mencermati perkembangan foreign flow setelah keputusan BI. Pasalnya, pada perdagangan terakhir, investor asing masih mencatatkan net sell Rp 468 miliar di pasar reguler, terutama pada saham BBRI, BMRI, dan TLKM.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.916 per Dolar AS, BI Beri Penjelasan
Secara year-to-date (YtD), outflow asing telah mencapai sekitar Rp 102,9 triliun. Di sisi lain, terdapat pembelian selektif pada saham MDKA dan TINS. “Pasca RDG, fokus bergeser dari keputusan BI ke efektivitas policy mix dalam menjaga Rupiah sekaligus likuiditas. Dengan global yields kembali naik, keberlanjutan rebound IHSG akan sangat bergantung pada stabilisasi Rupiah dan yang terpenting kembalinya foreign demand pada liquid large caps,” ujar Rully dikutip pada Jumat (25/9/2026).
Tekanan eksternal juga masih menjadi perhatian pasar. Wall Street kembali melemah, dengan S&P 500 turun 0,8%, Nasdaq turun 1,1%, dan Dow Jones turun 0,7%. Di pasar obligasi, yield US Treasury 10 tahun kembali menembus 5,1%, sementara harga minyak naik hampir 4% di tengah ketidakpastian terkait Iran. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan pasar domestik meski sentimen dari keputusan BI relatif positif.
Sementara itu, Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menilai ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, meski kondisi global akan menjadi faktor penting dalam jangka pendek. Pergerakan global interest rate akan memengaruhi perekonomian domestik, terutama melalui dampaknya terhadap penguatan maupun pelemahan rupiah.
Baca Juga
Reliance Sekuritas Jagokan 4 Saham Hari Ini, Ada MEDC hingga FAST
Jessica menilai bahwa stance BI dalam menggunakan policy mix selain kenaikan suku bunga menunjukkan upaya menjaga stabilitas tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi. Efektivitas pendekatan tersebut mulai terlihat dari kemampuan BI menjaga rupiah di sekitar Rp17.800 per dolar AS meski indeks dolar AS (DXY) telah mencapai level 101.
Meski demikian, kondisi global dan arah kebijakan tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Jika rupiah kembali melewati level Rp 18.000 per dolar AS, ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) tetap terbuka. Lebih lanjut, Jessica melihat penggunaan instrumen valas dan kebijakan likuiditas semakin memperkuat stance BI yang pro-growth, terutama dalam mendukung pertumbuhan kredit dan perekonomian.
Ke depan, BI diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga sambil mencermati kebutuhan pemberian insentif tambahan, khususnya untuk menarik foreign inflow dan menjaga stabilitas rupiah. “Penurunan imbal hasil SRBI yang kini sudah berada di bawah 7% di seluruh tenor menunjukkan adanya perubahan kondisi likuiditas. Dalam kondisi tersebut, kami melihat SBN dengan tenor medium to long term masih atraktif,” tutup Jessica.
