IHSG Masuk Fase Pemulihan, Analis: Foreign Inflow Jadi Penentu Penguatan hingga Akhir 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Optimisme Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah memasuki fase pemulihan pada kuartal III-2026 dinilai memiliki dasar. Namun, keberlanjutan penguatan IHSG hingga akhir tahun masih akan sangat bergantung pada kembalinya arus dana asing (foreign inflow), stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan suku bunga global.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, proses pemulihan pasar saham masih berada pada tahap awal sehingga memerlukan dukungan sentimen domestik dan global. “Pemulihan ini masih berada pada tahap awal sehingga keberlanjutannya sangat bergantung pada kombinasi sentimen domestik dan global,” kata Hendra kepada investortrust.id, Rabu (5/8/2026).
Menurut dia, penguatan IHSG akan didukung meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional, konsistensi kebijakan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, inflasi yang tetap terkendali, serta upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga
Target Harga Saham Darma Henwa (DEWA) Direvisi Naik, Ini Pertimbangannya
Selain itu, kinerja emiten pada semester II-2026 dinilai menjadi katalis penting bagi pergerakan IHSG. “Apabila laporan keuangan emiten pada semester II mampu menunjukkan perbaikan laba, khususnya di sektor perbankan, properti, infrastruktur, dan komoditas, maka hal tersebut akan menjadi pendorong tambahan bagi IHSG,” ujarnya.
Dari sisi eksternal, Hendra menilai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan inflasi AS, serta kondisi geopolitik masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pasar.
“Arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang paling menentukan. Apabila tekanan inflasi Amerika Serikat mulai mereda sehingga ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas, maka minat investor global terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi meningkat kembali,” katanya.
Akumulasi Bertahap
Melihat kondisi tersebut, Hendra menyarankan investor mulai melakukan akumulasi saham secara bertahap dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan laba yang baik.
Ia menilai sektor properti menjadi salah satu sektor yang memiliki prospek positif. “Saham seperti BSDE, CTRA, dan SMRA masih layak diperhatikan karena memiliki cadangan lahan besar, neraca keuangan yang sehat, dan prospek pemasaran yang terus membaik,” ujarnya.
Baca Juga
Kinerja Semester I Solid, Mandiri Sekuritas Naikkan Optimisme pada Saham ICBP dan INDF
Selain sektor properti, Hendra menilai sektor perbankan, pertambangan logam, energi, dan konsumsi masih memiliki prospek menarik sebagai pilihan investasi. Meski peluang penguatan IHSG hingga akhir 2026 masih terbuka, Hendra mengingatkan volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi akibat sejumlah risiko eksternal.
“Saat rupiah masih berada di atas level Rp18.000 per dolar AS, investor asing cenderung lebih berhati-hati karena risiko depresiasi mata uang dapat mengurangi keuntungan investasi mereka di pasar saham Indonesia,” tuturnya.
Ia menambahkan, ketidakpastian geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia, juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Dari sisi domestik, tantangan lainnya adalah menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat, meningkatkan daya beli masyarakat, mempercepat realisasi investasi, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan pemerintah dan regulator pasar modal.
Baca Juga
Di Pipeline Masih Ada 1, OJK Paparkan Update Soal Bursa Kripto Baru
Hendra menegaskan, arus dana asing masih menjadi faktor utama yang menopang tren penguatan IHSG. Meski investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp741 miliar pada perdagangan Selasa (4/8/2026), secara kumulatif sepanjang 2026 masih tercatat net sell sekitar Rp 95 triliun.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan proses pemulihan kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih berlangsung.
“Namun, apabila rupiah mulai menguat, tekanan eksternal mereda, dan fundamental ekonomi Indonesia semakin solid, maka peluang terjadinya pembalikan arus modal asing akan semakin besar. Jika kondisi tersebut tercapai, bukan hanya likuiditas pasar yang meningkat, tetapi juga berpotensi menjadi katalis utama yang mendorong IHSG melanjutkan fase pemulihannya hingga akhir tahun,” pungkasnya.
