IHSG Anjlok 1,2%, Tiga Faktor Ini Jadi Biang Keroknya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). IHSG ditutup anjlok 1,2% ke level 6.298,60 setelah seluruh sektor saham melemah.
Tekanan IHSG terutama dipicu oleh aksi jual investor asing, pelemahan saham berkapitalisasi besar atau big caps, serta sentimen global yang kembali risk-off akibat tingginya imbal hasil US Treasury.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan, pelemahan IHSG menunjukkan aksi profit taking setelah rebound cukup signifikan pada perdagangan sehari sebelumnya. Selain itu, tekanan jual investor asing juga masih kuat.
Baca Juga
Pengendali Edwin Soeryadjaya Gencar Tambah Saham Saratoga (SRTG), Ada Apa?
Hingga jeda perdagangan, investor asing tercatat membukukan net sell sekitar Rp 1,49 triliun di seluruh pasar. Saham-saham big banks seperti BMRI, BBRI, dan TLKM beberapa saham yang dlepas oleh pemodal asing sepanjang hari ini. “Dengan saham-saham big banks seperti BMRI, BBRI, dan TLKM menjadi salah satu sasaran jual utama,” kata Nafan saat dihubungi investortrust.id, Kamis (24/9/2026).
Dari eksternal, Nafan menjelaskan sentimen pasar cenderung risk-off setelah bursa Wall Street melemah pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones turun 0,68%, S&P 500 turun 0,75%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 1,13%.
Kenaikan imbal hasil US Treasury juga kembali menjadi perhatian pasar karena memperkuat ekspektasi bahwa ruang pelonggaran moneter The Fed dapat lebih terbatas. Bahkan, pasar mulai mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan Oktober 2026. “Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap aset-aset berisiko, termasuk pasar saham emerging markets,” tutur Nafan.
Dari dalam negeri, Nafan mengatakan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% memberikan bantalan terhadap stabilitas pasar. Namun, kebijakan tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan eksternal dan aksi jual investor asing.
“Dengan demikian, saya melihat pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase volatilitas dan konsolidasi, dengan investor cenderung melakukan profit taking serta menunggu katalis baru,” katanya.
Global dan Domestik
Senada dengan Nafan, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menjelaskan pelemahan IHSG pada perdagangan Kamis merupakan kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari global, Elandry mengatakan US Treasury yield masih tinggi setelah The Fed menaikkan suku bunga dan membuka peluang kebijakan yang tetap ketat. “Kondisi ini membuat aset dolar kembali lebih menarik, menekan rupiah dan mengurangi risk appetite investor terhadap emerging market seperti Indonesia,” kata Elandry.
Tekanan tersebut kemudian terlihat dari foreign outflow yang masih berlanjut. Bahkan ketika IHSG rebound sehari sebelumnya setelah BI menahan suku bunga di 5,75%, asing masih mencatatkan net sell. Artinya, rebound IHSG sehari sebelumnya belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh perbaikan capital flow.
Baca Juga
PAM Mineral (NICL) Bagikan Dividen Interim Rp 63,81 Miliar, Segini Nilai per Saham
Dari domestik, pasar juga sedang mencermati fiscal credibility, terutama pembahasan mengenai batas defisit APBN 3%. Meskipun pemerintah tetap menargetkan defisit 2026 sebesar 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), investor masih ingin melihat konsistensi disiplin fiskal dan arah pembiayaan pemerintah ke depan.
“Jadi tekanannya cukup lengkap, US yield tinggi, dolar kuat, rupiah tertekan, foreign outflow, ditambah concern fiskal domestik. Kombinasi ini membuat market sentiment kembali risk-off dan tekanan terutama terasa pada saham-saham big caps,” terang Elandry.
Proyeksi IHSG Besok
Untuk perdagangan Jumat (25/9/2026), Elandry memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dan konsolidasi. Namun, peluang technical rebound tetap terbuka setelah koreksi pada perdagangan Kamis. Area 6.200–6.250 menjadi level support yang perlu dicermati.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.916 per Dolar AS, BI Beri Penjelasan
“Kuncinya menurut saya ada di pergerakan US Treasury yield, rupiah dan foreign flow. Kalau yield mulai mereda, rupiah stabil dan tekanan jual asing berkurang, peluang rebound akan lebih kuat. Sebaliknya, kalau asing masih keluar, kenaikan kemungkinan masih terbatas,” ungkapnya.
Elandry menilai investor perlu tetap selektif dengan mengutamakan saham likuid berfundamental kuat. BMRI dan BBRI dapat dicermati saat buy on weakness jika tekanan jual asing mereda. Sementara itu, MEDC, BRMS, dan NCKL masih dinilai menarik secara selektif.
