Industri Otomotif 2024 Anjlok 16,2%, Ini Biang Keroknya
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, industri otomotif mengalami kontraksi sebesar 16,2% pada 2024. Hal ini disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat dan kenaikan suku bunga kredit pada kendaraan bermotor.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elekronika (ILMATE), Setia Diarta dalam diskusi Forwin bertajuk 'Prospek Industri Otomotif 2025 dan Peluang Insentif dari Pemerintah'.
"Memang alasan yang paling banyak disampaikan dari kita lihat memang adanya kelemahan daya beli pada masyarakat maupun kenaikan suku bunga di kendaraan bermotor," ucap Setia, Selasa (14/1/2025).
Baca Juga
Pembiayaan Otomotif BSI Capai Rp 5,25 Triliun, Tumbuh 33,8% per November 2024
Selain itu, Kemenperin juga mencatat terjadinya penurunan sebesar Rp 4,21 triliun terkait kontribusi industri otomotif ke produk domestik bruto (PDB) pada 2024. Hal ini pun berdampak pada sektor lainnya pada sisi input dan output.
Berdasarkan hasil analisis Kemenperin, Setia menjelaskan, penurunan kontribusi PDB dari industri otomotif berdampak ke sektor backward linkage Rp 4,11 triliun dan sektor forward linkage sebesar Rp 3,519 triliun.
Baca Juga
Menperin Akui Industri Otomotif Bakal Tertekan oleh PPN 12% dan Opsen Pajak
"Backwarding linkage ini ada sisi inputnya dari industri-industri terkait yang menjadi pendorong, supplier-supplier bagi industri otomotif," terang Setia.
"Kemudian ada industri forwarding linkage juga kami hitung, ini juga membuat penampakan signifikasi di mana kita bisa melihat sektor-sektor industri di output-nya ini juga memiliki penurunan," imbuhnya.

