Mengapa IHSG dan Rupiah Melemah?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan rupiah terhadap dolar AS terjadi ketika investor menghadapi beberapa pertanyaan sekaligus. Setelah bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga, pasar menghitung ulang daya tarik investasi dalam dolar.
Di dalam negeri, investor menunggu keputusan Bank Indonesia (BI) pada 22–23 September 2026 dan mengamati arah pengelolaan APBN di bawah Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara. Ketegangan di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak menambah ketidakpastian. Dalam keadaan seperti ini, sebagian investor memilih mengurangi risiko terlebih dahulu, meskipun kegiatan ekonomi Indonesia masih tumbuh.
Pada perdagangan saham sesi pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (22/09/2026), IHSG ditutup melemah 1,11% ke posisi 6.313,56. Pada pukul 15.05 WIB, IHSG turun lagi ke level 6.276,47 atau tergerus 1,67% dari perdagangan sehari sebelumnya. Sementara itu, kurs elektronik BCA pada pukul 14.45 WIB berada di Rp 17.873 per dolar AS untuk kurs beli dan Rp 17.893 untuk kurs jual. Kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) Rp 17.902 untuk kur beli dan Rp 17.723 untuk kurs beli.
Baca Juga
Lunasi Utang BLBI, Menkeu Suahasil Pastikan Terus Kejar Piutang Obligor BLBI
Pemicu eksternal yang paling jelas adalah keputusan Federal Reserve pada 16 September 2026. The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Bank sentral AS menyebut aktivitas ekonomi tumbuh solid dan belanja domestik tetap tangguh, tetapi inflasi masih tinggi. Bagi investor global, keputusan itu berarti aset dolar menawarkan imbal hasil lebih besar, sementara peluang penurunan bunga dalam waktu dekat tampak mengecil. Dana yang sebelumnya ditempatkan di pasar negara berkembang dapat ditarik atau dialihkan ke aset AS.
Pasar juga mencermati kemungkinan langkah The Fed berikutnya. Dalam proyeksi yang dirilis bersama keputusan September, 12 dari 18 pejabat memperkirakan titik tengah suku bunga acuan AS berada pada 4,125 persen pada akhir 2026, dan empat pejabat memperkirakan 4,375 persen. Proyeksi itu memberi gambaran kecenderungan kebijakan, tetapi bukan janji kenaikan bunga pada bulan tertentu. Setiap data baru tentang inflasi, pekerjaan, dan pertumbuhan AS masih dapat mengubah keputusan The Fed. Selama arah tersebut belum pasti, investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung risiko aset negara berkembang.
Dampaknya pada rupiah bekerja melalui arus modal dan permintaan dolar. Ketika imbal hasil surat utang AS meningkat, sebagian investor menilai selisih imbal hasil dengan aset rupiah tidak lagi cukup besar untuk menutup risiko kurs. Investor yang menjual aset Indonesia kemudian dapat menukar hasil penjualannya ke dolar, sehingga menambah permintaan valuta asing. Pelaku usaha pun mungkin mempercepat pembelian dolar untuk memenuhi kebutuhan impor atau pembayaran kewajiban luar negeri ketika khawatir kurs akan terus naik. Kedua proses tersebut dapat membuat rupiah melemah dalam waktu singkat.
Pelemahan rupiah selanjutnya memengaruhi pasar saham. Seorang investor asing bisa memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham dalam rupiah, tetapi keuntungan itu menyusut apabila rupiah melemah saat dana dikonversi kembali ke dolar. Risiko tersebut mendorong sebagian investor melepas saham, terutama saham berkapitalisasi besar yang paling mudah diperdagangkan.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 1,11% Dimotori Kejatuhan Saham Sektor Energi
Karena bobot saham-saham itu besar dalam indeks, penjualannya dapat menekan IHSG meskipun tidak semua saham atau sektor mengalami penurunan yang sama. Pada sesi pertama Senin (21/09/2026), misalnya, IHSG turun 0,27 persen dan investor asing tercatat menjual bersih saham senilai Rp216,24 miliar. Angka satu sesi ini menunjukkan adanya tekanan, tetapi belum dapat dipakai untuk menyimpulkan seluruh aliran dana asing telah keluar dari Indonesia.
Pergerakan pasar obligasi perlu dibaca bersama pasar saham. Investor asing dapat menjual saham tetapi membeli surat berharga negara pada periode yang sama, atau sebaliknya. Karena itu, aksi jual di bursa tidak selalu berarti seluruh modal asing meninggalkan Indonesia. Yang lebih menentukan bagi rupiah ialah gabungan arus dana di saham, obligasi, dan pasar valuta asing, serta kebutuhan dolar dari kegiatan perdagangan dan pembayaran utang. Perubahan imbal hasil obligasi AS menjadi penting karena memengaruhi perbandingan risiko dan keuntungan di seluruh pasar tersebut.
Ketegangan geopolitik turut memperberat perhitungan. Gangguan pasokan energi atau jalur perdagangan di Timur Tengah dapat mengerek harga minyak dan ongkos angkut. Sebagai negara yang masih membutuhkan impor minyak, Indonesia menghadapi risiko kenaikan tagihan impor ketika harga minyak melonjak. Bila tekanan itu berlanjut, biaya produksi dan transportasi dapat naik, inflasi berpotensi meningkat, dan kebutuhan belanja energi dalam APBN dapat bertambah.
Namun, pengaruh harga minyak terhadap bursa tidak seragam: kenaikan harga dapat menekan perusahaan yang banyak menggunakan energi, sementara sebagian emiten komoditas mungkin memperoleh manfaat. Karena itu, perkembangan minyak perlu dilihat dampaknya terhadap ekonomi secara keseluruhan, bukan sebagai penjelasan tunggal atas pergerakan IHSG.
Menunggu Putusan BI
Faktor domestik berikutnya adalah keputusan BI. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Agustus 2026, BI mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. BI menjelaskan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak global, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% plus-minus satu poin persentase, dan mendukung pertumbuhan.
Menjelang keputusan RDG 22–23 September, investor bukan hanya menunggu apakah bunga berubah. Mereka juga ingin mengetahui penilaian BI atas tekanan kurs, arah likuiditas, dan langkah stabilisasi yang akan ditempuh. Selama hasil rapat belum diumumkan, perkiraan bahwa BI akan kembali menahan suku bunga tetap harus disebut sebagai perkiraan.
BI menghadapi pilihan kebijakan yang perlu dijaga keseimbangannya. Suku bunga yang menarik dapat membantu menahan arus modal keluar dan menopang rupiah. Di sisi lain, biaya dana yang terlalu tinggi dalam waktu lama dapat menekan permintaan kredit, investasi, dan konsumsi. BI memiliki instrumen selain suku bunga, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada besarnya tekanan global dan kepercayaan pasar.
Baca Juga
Inflasi domestik memberi ruang bagi BI untuk menimbang pilihan itu: menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Agustus 2026 sebesar 3,19%, masih berada dalam kisaran sasaran BI, sedangkan inflasi inti tercatat 2,92%. Ruang tersebut dapat menyempit bila harga energi atau pelemahan kurs mulai menaikkan harga barang secara luas.
Kebijakan fiskal menjadi perhatian lain setelah pergantian menteri keuangan. Investor ingin melihat bagaimana Suahasil Nazara menjaga kesinambungan belanja prioritas, penerimaan negara, defisit, dan kebutuhan pembiayaan. Dalam konferensi pers APBN KiTa pada 18 September, Suahasil melaporkan defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% dari produk domestik bruto (PDB).
Angka tersebut menunjukkan posisi APBN pada suatu titik dalam tahun berjalan, bukan defisit setahun penuh. Menyebutnya sebagai penyebab tunggal keluarnya dana asing akan menyederhanakan persoalan; yang dinilai pasar adalah apakah lintasan fiskal sampai akhir tahun tetap dapat dipenuhi secara kredibel.
Kepercayaan terhadap fiskal berpengaruh langsung pada pasar keuangan. Apabila investor yakin kebutuhan belanja dan pembiayaan negara dapat dipenuhi tanpa mengganggu stabilitas, mereka lebih mudah mempertahankan investasi pada obligasi dan saham Indonesia. Sebaliknya, ketidakjelasan mengenai perubahan anggaran, sumber penerimaan, atau arah penerbitan surat utang dapat membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Itulah sebabnya komunikasi Menteri Keuangan baru mengenai disiplin APBN dan pelaksanaan program pemerintah sama pentingnya dengan angka realisasi bulanan.
Hanya Sementara
Pelemahan IHSG dan rupiah tetap perlu ditempatkan dalam konteks fundamental ekonomi. BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada triwulan II-2026. Inflasi Agustus masih berada dalam sasaran BI, sementara defisit APBN hingga Agustus tercatat 0,93 persen dari PDB. Data-data itu memberi dasar bagi pandangan bahwa ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menghadapi guncangan pasar. Namun, pertumbuhan dan inflasi yang terjaga tidak serta-merta menghentikan aksi jual ketika investor global secara serentak mengurangi risiko. Harga aset keuangan dapat berubah jauh lebih cepat daripada kegiatan ekonomi riil.
Karena itu, penurunan IHSG dan rupiah berpeluang bersifat sementara, terutama jika tekanan harga minyak mereda, pasar memperoleh kejelasan dari BI dan Kementerian Keuangan, serta aliran dana asing kembali stabil. Tetapi kesimpulan tersebut masih harus diuji oleh perkembangan berikutnya. Jika inflasi AS tetap tinggi dan The Fed kembali mengetatkan kebijakan, atau gejolak energi memperbesar kebutuhan dolar Indonesia, tekanan pasar dapat berlangsung lebih lama.
Pertanyaan terpenting bagi investor kini bukan sekadar sampai di angka berapa IHSG atau rupiah akan bergerak dalam satu hari. Yang perlu diamati ialah apakah pelemahan kurs mulai menular ke inflasi, apakah penjualan saham asing meluas ke pasar obligasi, apakah BI mampu menjaga stabilitas tanpa menghambat pertumbuhan, dan apakah APBN tetap kredibel di bawah Menteri Keuangan baru. Selama penyangga-penyangga itu terjaga, koreksi pasar tidak harus berubah menjadi kemerosotan fundamental ekonomi.
