Mengapa Indeks Dolar Turun, Rupiah Melemah?
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah indeks dolar Amerika Serikat yang menurun, justru rupiah kembali bergejolak menembus Rp 16.300 per dolar AS pada Kamis (20/02/2025) pagi. Berdasarkan data Yahoo Finance hingga pukul 10.56 WIB, kurs mata uang Garuda melemah 12 poin atau 0,07% ke level Rp 16.342 per dolar AS, di kembali di bawah level psikologis Rp 16.300 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS turun 0,17 poin atau 0,16% ke level 107 pukul 10.57 WIB. Indeks tercatat sempat menyentuh level tinggi 109,96 pada 13 Januari 2025.
Indeks dolar ini menunjukkan pergerakan dolar AS terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF).
Baca Juga
"Rapat The Fed bulan Januari menegaskan akan adanya jeda penurunan suku bunga acuan AS. Selain itu, ada ancaman Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor 25% untuk mobil, chip, dan obat-obatan, yang akan diterapkan pada 2 April 2025," ujar analis pasar modal Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (20/02/2025) pagi.
Sentimen Negatif di Pasar Modal
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) ini menjelaskan, di tengah keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertahankannya BI Rate pada level 5,75% kemarin, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sentimen negatif di pasar modal. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari Rabu (19/02/2025) ditutup di level 6,794.87, terpangkas 1,14%. Pelemahan cukup dalam ini dipimpin oleh saham-saham sektor financials dengan indeks anjlok 1,78% dan infrastructure turun 0,85%).
"Sementara itu, asing membukukan net sell sebesar Rp 963,57 milliar di pasar reguler. Di tengah tekanan ini, tercatat saham-saham yang paling banyak dibeli adalah BBCA, BMRI, AMRT, BBRI, dan ERAA. Sentimen negatif datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, di tengah tetap dipertahankannya BI Rate pada level 5,75%. Secara teknikal, candle IHSG berbentuk black spinning top, masih di atas MA5 serta indikator Stochastic dead cross. Ini mengartikan IHSG berpeluang besar melanjutkan penurunannya," tuturnya.
Baca Juga
Insentif Likuiditas Makroprudensial ke Perumahan Naik Tembus Rp 80 Triliun

