BI Tahan Bunga, Mengapa Rupiah Melemah Dekati Rp 16.000/USD Kamis?
JAKARTA, investortrust.id - Usai Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate 6%, kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikar, mendekati level psikologis Rp 16.000/USD pada Kamis (21/11/2024) pagi. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah.
Merujuk data Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak melemah terhadap greenback ke level Rp 15.941 di pasar spot valas pada puku 10.02 WIB. Rupiah melemah 82 poin atau 0,52% pagi ini, dan secara year to date sudah terdepresiasi 3,35%.
Baca Juga
Aset ‘Safe Haven’ Kembali Diserbu, Emas Capai Level Tertinggi dalam Sepekan
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,13 poin atau 0,12% ke 106,55. Namun, secara year to date, DXY sudah menguat 5,15%.
Kemarin, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengumumkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan menahan BI Rate tetap 6%, meski The Fed pada 7 November menurunkan kembali Fed Funds Rate 25 bps ke 4,50-4,75%. Sementara, level BI Rate 6% sudah bertahan 2 bulan.
BI mencatat terjadi aliran modal keluar dari pasar keuangan Indonesia belakangan ini. Rupiah juga melemah terhadap greenback.
Net Sell SBN Mtd Rp 9,13 Triliun
Di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, pada 19 November 2024, asing masih mencatatkan net sell Rp 1,71 triliun. Non-resident sudah melakukan penjualan neto Rp 9,13 triliun secara month to date hingga Senin lalu.
Dana asing juga masih mengalir keluar dari pasar saham domestik kemarin, dengan mencatatkan net sell Rp 436,22 miliar. Berdasarkan data yang diolah Riset Investortrust, dalam bulan November ini, asing sudah mencatatkan net sell sekitar Rp 22,61 triliun hingga kemarin.
"Namun, secara year to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia Rp 26,94 triliun," papar manajemen BEI dalam keterangan di Jakarta, kemarin malam.
Perry mengatakan, ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat mendorong terjadinya aliran modal keluar investasi portofolio RI pada November 2024. Padahal, bulan sebelumnya masih mencatatkan net capital inflows.
"Pada bulan November, hingga tanggal 18, terjadi net outflows sebesar US$ 1,9 miliar. Sebelumnya, pada Oktober 2024, tercatat net inflows sebesar US$ 1,1 miliar," tutur Perry.
(Disclaimer on)

