Prospek Emas dan Nikel Tertekan, Target Harga Saham ANTM Dipangkas Jadi Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas memangkas target harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi Rp 4.400 per saham dari sebelumnya Rp 4.800 per saham. Penurunan target harga saham ANTM tersebut, seiring dengan revisi proyeksi kinerja keuangan perseroan.
Meski target harga dipangkas, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM. Target harga Rp 4.400 menggunakan asumsi valuasi 10,9 kali rasio harga terhadap laba (P/E) 2027, sejalan dengan rata-rata valuasi ANTM dalam lima tahun terakhir.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ANTM pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (17/9/2026) menguat 30 poin atau 0,93% menjadi Rp3.250. Sementara sejak awal tahun (year to date/ytd), saham ANTM telah menguat 3,17%.
Baca Juga
Pasokan Emas Didominasi Tambang Artisanal, Antam (ANTM) Ingatkan Penerimaan Negara Belum Optimal
Dalam riset yang dirilis Kamis (17/9/2026), BRI Danareksa Sekuritas menilai kinerja ANTM dalam jangka pendek masih ditopang peningkatan penjualan feronikel. Namun, penjualan emas dan bijih nikel menjadi perhatian terhadap prospek kinerja perseroan dalam jangka menengah.
Manajemen ANTM menurunkan target penjualan emas 2026 menjadi 34-36 ton dari sebelumnya sekitar 40 ton. Dengan target tersebut, penjualan emas pada semester II-2026 diperkirakan berada di kisaran 2,5-3 ton per bulan karena permintaan menjadi kendala utama. Untuk bijih nikel dipertahankan sekitar 18 juta ton metrik basah (wmt), dengan target sekitar 1,5 juta ton metrik basah per bulan pada semester II-2026.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih ANTM pada 2026 mencapai Rp9,6 triliun, naik 5% dari proyeksi sebelumnya. Namun, estimasi laba bersih 2027 dipangkas 1,9% menjadi Rp9,7 triliun, sedangkan proyeksi laba 2028 diturunkan 13,2% menjadi Rp10,3 triliun.
Kenaikan proyeksi laba 2026 terutama didorong oleh penjualan feronikel yang diperkirakan meningkat 32,1% menjadi 14,8 ribu ton serta penjualan alumina yang naik 5%. Kenaikan tersebut mengimbangi penurunan asumsi penjualan emas menjadi 35,5 ton dan bijih nikel menjadi 15,7 juta ton metrik basah.
Margin Nikel Tertekan
Untuk segmen emas, BRI Danareksa Sekuritas menilai ketersediaan pasokan domestik yang lebih baik membuat sumber bahan baku tidak lagi menjadi kendala utama. Selanjutnya, kemampuan ANTM menjual emas ke pasar dan menjaga margin perdagangan akan menjadi faktor penting terhadap kinerja perseroan.
Sementara itu, segmen bijih nikel menghadapi ruang margin yang semakin terbatas. Harga pasar bijih nikel jenis saprolit pada 16 September 2026 tercatat US$63,7 per ton metrik basah, hanya sekitar US$0,32 atau 0,5% di atas harga patokan mineral (HPM) sebesar US$63,38 per ton metrik basah.
Kondisi tersebut membuat BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan proyeksi penjualan bijih nikel ANTM pada 2026 sebesar 15,7 juta ton metrik basah, lebih rendah dari target manajemen sekitar 18 juta ton metrik basah.
Baca Juga
Produksi Emas Antam (ANTM) Cuma 0,83%, MIND ID Soroti Besarnya Peran Tambang Rakyat
Asumsi penjualan bijih nikel pada 2028 juga dipangkas 20% menjadi 19,4 juta ton metrik basah. Hal ini dilakukan karena selisih harga pasar dengan HPM yang semakin tipis meningkatkan risiko penurunan margin maupun realisasi volume penjualan.
Jika harga pasar bijih nikel turun di bawah HPM, ANTM menghadapi pilihan untuk menjual dengan margin lebih rendah mengikuti harga pasar atau mempertahankan harga di sekitar HPM dengan risiko volume penjualan yang lebih rendah.
Terkait tahun 2027, BRI Danaresa Sekuritas menyebutkan tekanan pada segmen emas dan bijih nikel, prospek produksi ANTM pada 2027 diperkirakan membaik. Manajemen memperkirakan penjualan feronikel tumbuh signifikan setelah fasilitas baru mulai beroperasi pada kuartal IV-2026.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Turun 1,2% Seusai The Fed Naikkan Suku Bunga
Produksi bauksit juga diproyeksikan meningkat lebih dari 50% setelah fasilitas Mempawah mulai beroperasi pada kuartal I-2027. Selain itu, penjualan alumina diperkirakan mencapai sekitar 200 ribu ton ketika operasional masuk tahap normal.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut sejumlah risiko terhadap prospek ANTM, antara lain pelemahan permintaan dan margin emas, semakin kecilnya selisih harga pasar bijih nikel dengan HPM, serta potensi keterlambatan proyek.
