Laba Bersih Anjlok, Target Harga Saham Semen Indonesia (SMGR) Dipangkas Jadi Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 39,97 miliar pada semester I-2025, anjlok 92% (yoy). Melihat kinerja ini, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas target harga saham emiten semen pelat merah tersebut.
Pada kuartal II-2025 saja, SMGR mencatat rugi bersih Rp 2 miliar, berbalik dari laba Rp 30 miliar pada kuartal II-2024 dan Rp 42 miliar pada kuartal I-2025. Pendapatan kuartalan turun 1% (yoy) menjadi Rp 7,96 triliun.
Baca Juga
Prospek Industri Semen Masih Tertekan, Mirae Asset Pilih INTP Dibanding SMGR
Secara kumulatif, pendapatan semester I-2025 terkoreksi 4,9% (yoy) menjadi Rp 15,61 triliun dan EBITDA turun 24,1% (yoy) menjadi Rp 2,2 triliun, masing-masing setara 43% dan 40% dari target tahunan Mirae Asset.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Saragih menyebut, penurunan EBITDA dan margin EBITDA dipicu kenaikan harga pokok penjualan (HPP) per ton 1,7% (yoy) menjadi Rp 720.998, seiring naiknya harga batu bara sejak paruh kedua 2024.
Meski biaya penjualan, umum, dan administrasi (SGA) per ton turun 0,7% (yoy) menjadi Rp 146.260, laba bersih hanya 4-5% dari target setahun penuh, jauh di bawah kisaran historis 22–70%. “Kami menilai pelemahan ini akibat lesunya proyek infrastruktur, musim hujan panjang, lemahnya daya beli, serta kontribusi ekspor dengan harga lebih rendah,” jelas Andreas.
Laba SMGR juga tertekan rugi selisih kurs Rp 10,7 miliar, dari keuntungan Rp 30 miliar setahun sebelumnya. Profitabilitas semakin terhimpit oleh beban bunga turun 35,7% dan tarif pajak efektif naik ke 76%.
Volume penjualan semester I-2025 tercatat 17,3 juta ton, turun 2,3% (yoy). Ekspor naik 18,7% (yoy) menjadi 4,4 juta ton, sementara konsumsi domestik turun 7,7% (yoy) menjadi 12,9 juta ton.
Baca Juga
BEI Unsuspensi Tiga Saham, Emiten Haji Isam (PGUN) Ini Langsung Masuk PPK
Penjualan semen kantong terkoreksi 5,4% (yoy) menjadi 9,3 juta ton, namun disiplin harga mendorong ASP naik 2,2%. Meski begitu, ASP total semester pertama 2025 turun 5,3% (yoy) menjadi Rp 625.610 per ton.
Manajemen SMGR menargetkan mempertahankan pangsa pasar domestik setara 2024, meningkatkan EBITDA absolut non-semen, dan dalam jangka menengah membidik pangsa pasar di atas 50%, kontribusi nilai tambah 10% terhadap EBITDA, serta margin EBITDA mendekati 20%.
Langkah strategis meliputi optimalisasi produk turunan, ekspansi bisnis non-semen, efisiensi energi, penurunan biaya tetap, dan integrasi logistik antar pabrik.
Target Dipangkas
“Meskipun pendapatan dan EBITDA sesuai ekspektasi, proyeksi kami direvisi turun karena laba bersih di bawah perkiraan dan tantangan ekonomi,” ungkap Andreas.
Mirae Asset memangkas proyeksi pendapatan dan EBITDA 3-4% serta 4-9% untuk tahun fiskal 2025-2026, menurunkan pertumbuhan ASP campuran, dan mempertimbangkan kontribusi volume ekspor lebih tinggi. Estimasi laba bersih juga direvisi turun akibat tarif pajak efektif yang tinggi dan penurunan pos operasional.
Baca Juga
“Kami mempertahankan metode valuasi kelipatan EV/EBITDA, dengan target kelipatan 2 S.D. di bawah rata-rata lima tahun,” tambah Andreas.
Dengan mempertimbangkan kondisi makro yang menekan pasar semen, meningkatnya produk bermargin rendah, dan minimnya katalis positif, Mirae Asset menurunkan rekomendasi menjadi hold dengan target harga Rp 2.600, dari sebelumnya trading buy Rp 2.800.

