Sentimen Global Merontokkan IHSG Meski Ada Optimisme “Purbaya Diganti”
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara belum mampu membalikkan arah pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) intraday sesi I, Selasa (15/9/2026), jatuh 60 poin (0,95%) menjadi 6.473.
Berdasarkan data perdagangan saham BEI intraday sesi I atau hingga pukul 11.30 WIB, IHSG jatuh ikut penurunan hampir seluruh pasar saham Asia. Pergerakan IHSG sepanjang sesi I berada dalam rentang 6.461-6.549 dengan penekan utama saham sektor keuangan, industry, dan energi yang melemah lebih dari 1%. Sedangkan nilai tukar rupiah turun tipis Rp 15 menjadi Rp 17.671.
Penurunan pasar saham tersebut juga dipicu sikap investor defensif investor menghadapi lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan kemungkinan pengetatan suku bunga The Federal Reserve.
Baca Juga
Dari Purbaya ke Suahasil: Pasar Menunggu Arah Baru Fiskal Indonesia
Ekspektasi bahwa pencopotan Purbaya akan langsung membuat pasar “hijau” ternyata terlalu sederhana. Pasar memang menyambut positif rekam jejak Suahasil sebagai teknokrat fiskal yang berpengalaman. Namun, pergantian pejabat baru menjadi sinyal awal. Investor masih menunggu bukti bahwa pergantian tersebut benar-benar akan diikuti perbaikan disiplin fiskal, kepastian kebijakan, koordinasi yang lebih baik dengan Bank Indonesia, serta pengelolaan program prioritas pemerintah tanpa memperlebar defisit APBN.
Tekanan pagi ini terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 2,84 jadi Rp 3.760, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,03% menjadi Rp 4.350, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,06% menjadi Rp 3.330 masuk dalam jajaran pemberat indeks LQ45. Koreksi saham perbankan memiliki dampak besar terhadap IHSG karena bobot kapitalisasi pasarnya dominan.
Tekanan tersebut merupakan kelanjutan dari aksi jual investor asing. Pada perdagangan Senin (14/9/2026), pemodal asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp 337 miliar. IHSG sempat terpuruk sekitar 2,6%, sebelum memangkas sebagian besar penurunannya dan ditutup hanya melemah 0,10% atau 6,68 poin ke posisi 6.534,69. Pergerakan itu menunjukkan bahwa pasar sebelumnya telah memberikan respons positif terbatas terhadap penunjukan Suahasil, tetapi belum cukup kuat untuk membentuk pembalikan arah yang berkelanjutan.
Faktor global justru menjadi pemberat terbesar. Wall Street berakhir melemah pada Senin waktu setempat. Indeks S&P 500 turun 0,48%, Nasdaq Composite terkoreksi 0,56%, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,29%. Saham-saham semikonduktor juga jatuh tajam, dengan indeks Philadelphia Semiconductor terperosok 5,9%. Pelemahan tersebut menular ke pasar Asia dan mengurangi selera investor terhadap aset berisiko, termasuk saham-saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Baca Juga
Pasar semakin gelisah setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menembus 5%, level tertinggi sejak 2023. Kenaikan yield membuat surat utang AS semakin menarik dibandingkan saham dan mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko. Pada saat yang sama, pasar memperkirakan peluang sekitar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan pekan ini.
Lonjakan harga minyak turut memperburuk sentimen. Harga minyak Brent sempat melampaui US$108 per barel akibat meningkatnya gangguan pasokan energi di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Bagi Indonesia, kenaikan minyak membawa risiko ganda: memperbesar tekanan inflasi serta menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN. Kondisi tersebut justru menjadi ujian pertama bagi kredibilitas fiskal Suahasil.
Dinilai Positif
Penunjukan Suahasil pada dasarnya dinilai positif oleh sejumlah analis karena ia telah menjadi Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan lama terlibat dalam perumusan kebijakan fiskal. Dalam pernyataan pertamanya, Suahasil berkomitmen menjaga APBN tetap sehat dan kredibel serta mempertahankan defisit di bawah batas undang-undang sebesar 3% terhadap produk domestik bruto. Sosoknya dinilai berpotensi menghadirkan kebijakan yang lebih stabil dan dapat diprediksi.
Baca Juga
BI Waspadai 'Higher for Longer' Suku Bunga Global Hingga 2027 gegara Harga Minyak Dunia
Namun, pasar tidak hanya menilai siapa yang menduduki kursi Menteri Keuangan. Investor ingin mengetahui seberapa besar kewenangan Menkeu baru dalam menjaga kualitas belanja, mengendalikan defisit, mengelola subsidi di tengah minyak mahal, dan menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan keberlanjutan fiskal. Arah anggaran pada akhirnya tetap sangat ditentukan oleh keputusan Presiden dan keseluruhan kebijakan pemerintah.
Oleh karena itu, merahnya IHSG pagi ini tidak serta-merta berarti pasar menolak Suahasil. Koreksi lebih mencerminkan benturan antara sentimen positif pergantian Menkeu dan tekanan eksternal yang jauh lebih kuat. Pengangkatan Suahasil dapat menjadi modal untuk memulihkan kepercayaan, tetapi pasar membutuhkan kebijakan konkret, bukan sekadar pergantian nama, sebelum berani membawa IHSG kembali menghijau.
