IHSG Menuju 8.900, Optimisme Pasar Ditopang Sentimen Global dan Domestik
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencetak sejarah setelah menutup perdagangan Senin (24/11/2025) ke level all time high (ATH) 8.570. Lonjakan ini menegaskan pasar sedang berada dalam fase optimisme baru yang ditopang kombinasi sentimen global dan domestik.
Founder Republik Investor sekaligus analis pasar modal Hendra Wardana menilai bahwa ruang penguatan IHSG masih terbuka lebar. “Secara teknikal, target terbaru IHSG berada pada rentang 8.750 hingga 8.900 dalam jangka pendek, dengan peluang besar menguji level psikologis 9.000 pada awal tahun depan,” ujarnya kepada investortrust.id, Senin (24/11/2025).
Baca Juga
IHSG Berpeluang Kembali Cetak Rekor, Tiga Saham Dipimpin KETR Dijagokan Hari Ini
Menurut Hendra, sentimen eksternal yang paling dominan berasal dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember. “Pasar kini menilai probabilitas pemotongan sebesar 25 bps sudah mendekati 70%, sehingga memicu risk-on mode di kawasan Asia, termasuk Indonesia,” jelasnya.
Dari sisi domestik, stabilnya rupiah, derasnya foreign inflow, serta kuatnya kinerja emiten kuartal III-2025 juga memperkuat tren bullish IHSG.
Dia menambahkan, potensi penguatan IHSG tetap terjaga hingga akhir 2025 selama aliran dana asing konsisten dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed tidak berubah. Peluang IHSG menyentuh 9.000 disebut masih terbuka dengan tiga prasyarat, yaitu kebijakan suku bunga global yang lebih akomodatif, stabilitas politik nasional menjelang konsolidasi pemerintahan baru, serta pertumbuhan laba korporasi yang mampu bertahan di tengah perlambatan global.
Dari sisi strategi investasi, sejumlah saham masuk radar penguatan lanjutan. Di sektor perbankan, BBRI direkomendasikan buy menuju target Rp 4.200 berkat konsistensi pertumbuhan kredit mikro dan kuatnya fee-based income.
Baca Juga
Pada sektor metal, MBMA dinilai menarik sebagai speculative buy pada area Rp 540–550 dengan target Rp 680, sejalan dengan prospek nikel kelas satu yang terus meningkat.
Untuk komoditas energi, BULL direkomendasikan trading buy di Rp 350 karena kinerja tanker yang masih solid. Sementara itu, di sektor media, SCMA direkomendasikan buy dengan target Rp 420 didukung kenaikan belanja iklan dan ekspansi konten digital yang semakin agresif.

