Asing Mulai Masuk, IHSG Menjauh dari Level Terendah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan dari level terendahnya pada 2026, ditopang oleh membaiknya arus dana asing dan penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Meski demikian, IHSG masih mencatatkan penurunan terdalam dibandingkan bursa utama dunia sejak awal tahun.
Berdasarkan IDX Daily Statistics Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (04/09/2026), IHSG ditutup melemah 31,416 poin atau 0,47% ke level 6.636,475. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 6.633,915 hingga 6.704,125, setelah sehari sebelumnya berada di posisi 6.667,891.
Walaupun terkoreksi secara harian, posisi IHSG kini telah menjauh dari titik terendah yang sempat disentuh sepanjang 2026. Pemulihan tersebut terutama berlangsung pada semester kedua, setelah pasar mengalami tekanan berat pada paruh pertama tahun ini.
Namun, apabila dihitung sejak awal 2026, IHSG masih terkoreksi 23,25%. Berdasarkan persentase tersebut, posisi indeks pada awal tahun diperkirakan berada di kisaran 8.647. Artinya, hingga 4 September 2026 IHSG masih kehilangan sekitar 2.010 poin dibandingkan posisi awal tahun.
Indeks tahun ini sempat jatuh cukup dalam hingga menyentuh level terendah 5.317,91 pada perdagangan intraday Senin, 8 Juni 2026. Pada hari yang sama, IHSG ditutup di level 5.342,14, sekaligus menjadi posisi penutupan terendah tahun ini.
Dibandingkan titik terendah intraday tersebut, posisi IHSG pada Jumat, 4 September 2026, yang berada di level 6.636,475 menunjukkan kenaikan sebesar 1.318,57 poin atau 24,80%. Jika dihitung dari posisi penutupan terendah, IHSG telah menguat 1.294,34 poin atau 24,23%.
Pemulihan itu memperlihatkan tekanan jual di pasar saham mulai mereda dan kepercayaan investor berangsur membaik. Namun, kenaikan dari titik terendah belum mampu menghapus seluruh koreksi sepanjang tahun. Hingga 4 September 2026, IHSG masih turun 23,25% dibandingkan posisi akhir 2025. Artinya, pasar telah mengalami pemulihan kuat dari dasar, tetapi masih membutuhkan kenaikan lebih lanjut untuk kembali ke level awal tahun.
Aktivitas transaksi pada perdagangan Jumat tetap ramai. Sebanyak 34,28 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp15 triliun dan frekuensi mencapai 2,03 juta kali. Nilai transaksi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata harian sepanjang 2026 yang mencapai Rp21,59 triliun.
Market Cap BBRI Kembali ke Peringkat Dua
Seiring pemulihan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar, kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI mencapai Rp11.599 triliun atau sekitar US$658 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar yang telah disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik atau free float adjusted market capitalization tercatat Rp2.887 triliun.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar, yakni Rp818 triliun atau setara 7,05% dari total kapitalisasi pasar BEI. Posisi kedua kembali ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar Rp509 triliun atau 4,39%.
BBRI berhasil berada di atas PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang mempunyai kapitalisasi pasar Rp480 triliun atau 4,13%. Posisi berikutnya ditempati PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar Rp460 triliun, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp450 triliun, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp408 triliun.
Baca Juga
Samuel Sekuritas: Peluang IHSG Pulih Makin Terbuka, Investor Bisa Mulai Belanja Saham
Kembalinya BBRI ke posisi kedua mencerminkan perbaikan relatif saham sektor perbankan setelah sebelumnya mengalami tekanan. Pada perdagangan Jumat, BBRI menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp519 miliar. Saham BBRI terkoreksi 0,59% dan memberikan tekanan sekitar 2,92 poin terhadap IHSG.
Saham bank besar lainnya juga menjadi penggerak utama indeks. BBCA melemah 1,11% dan menekan IHSG sebesar 6,62 poin, sedangkan BMRI turun 0,90% dengan kontribusi negatif sekitar 3,27 poin. Meski secara harian terkoreksi, kapitalisasi pasar perbankan tetap mendominasi jajaran emiten terbesar di BEI.
Akumulasi Jual Bersih Asing Turun Menjadi Rp68 Triliun
Tanda perbaikan juga terlihat pada pergerakan dana asing. Akumulasi jual bersih investor asing sejak awal tahun yang sebelumnya sempat menembus lebih dari Rp70 triliun menyusut menjadi Rp68,05 triliun atau sekitar US$3,86 miliar.
Penyusutan nilai akumulasi net sell mengindikasikan investor asing mulai kembali membeli saham Indonesia, meskipun arus modal tersebut belum sepenuhnya konsisten. Pada perdagangan Jumat, investor asing masih membukukan jual bersih tipis sebesar Rp29,76 miliar atau sekitar US$1,69 juta.
Dengan demikian, frasa “asing mulai masuk” menggambarkan perubahan arah secara bertahap dari posisi kumulatif, bukan berarti investor asing selalu mencatatkan pembelian bersih setiap hari. Penurunan akumulasi jual bersih dari lebih dari Rp70 triliun menjadi Rp68,05 triliun menunjukkan sebagian tekanan jual asing sebelumnya mulai diimbangi oleh pembelian baru.
Berlanjut atau tidaknya arus masuk modal asing akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, stabilitas rupiah, kebijakan suku bunga global dan domestik, serta valuasi saham Indonesia. Jika rupiah stabil dan ekspektasi kenaikan suku bunga mereda, saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor keuangan, berpeluang kembali menjadi pintu masuk utama investor global.
IHSG Masih Terburuk di Dunia
Kendati mulai pulih dari titik terendah, kinerja IHSG sejak awal tahun masih menjadi yang terlemah di antara 36 bursa utama anggota World Federation of Exchanges yang dibandingkan BEI. Koreksi IHSG sebesar 23,25% menempatkan Indonesia pada peringkat ke-35 atau posisi paling bawah dalam daftar tersebut.
Penurunan IHSG jauh lebih dalam dibandingkan indeks Sensex India yang melemah 10,18%, indeks Qatar yang turun 9,28%, dan indeks Dubai yang terkoreksi 2,62%. Shanghai Composite Index China tercatat turun 0,98%, sedangkan Hang Seng Hong Kong masih tumbuh tipis 0,08%.
Kinerja Indonesia juga tertinggal dari seluruh bursa utama ASEAN. Indeks Thailand mencatatkan kenaikan tertinggi di kawasan sebesar 26,67%, disusul Singapura 24,88%, Vietnam 2,67%, Malaysia 1,67%, dan Filipina 0,62%.
Secara global, bursa Taiwan menjadi pasar saham dengan kenaikan tertinggi. Taiwan TSE Weighted Index melonjak 60,72% sejak awal tahun ke level 46.551,129. Posisi berikutnya ditempati indeks Kospi Korea Selatan yang menguat 58,68%.
Di kawasan Asia Pasifik, Nikkei 225 Jepang juga mencatatkan kenaikan kuat sebesar 29,16%. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan pemulihan bursa Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan pasar-pasar Asia yang mendapat dorongan lebih besar dari sektor teknologi dan aliran modal global.
Infrastruktur Turun Paling Dalam
Dari 11 indeks sektoral di BEI, sektor infrastruktur mencatatkan penurunan paling dalam sejak awal tahun, yakni 28,44%. Indeks sektor properti dan real estat menyusul dengan koreksi 28,24%, sedangkan sektor kesehatan melemah 26,45%.
Sektor teknologi turun 25,23%, energi terkoreksi 24,29%, dan sektor industri melemah 21,70%. Sektor barang konsumsi siklikal juga masih mengalami penurunan 19,59%, diikuti bahan baku sebesar 11,73% dan barang konsumsi primer 9,74%.
Sektor keuangan memperlihatkan kinerja relatif lebih baik dengan koreksi 8,83% sejak awal tahun. Penurunan itu jauh lebih kecil dibandingkan koreksi IHSG sebesar 23,25% dan sebagian besar indeks sektoral lainnya. Perbaikan sektor finansial tercermin pula pada posisi BBRI yang kembali menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI.
Sektor dengan penurunan paling ringan adalah transportasi dan logistik, yakni 7,19%. Namun, pada perdagangan Jumat, indeks sektor tersebut justru mengalami koreksi harian paling besar, sebesar 1,09%. Sektor barang konsumsi primer menyusul dengan penurunan harian 1,07%.
Sebaliknya, sektor energi menguat 0,22%, barang konsumsi siklikal naik 0,19%, dan sektor industri bertambah 0,18%. Pergerakan tersebut belum mampu mengangkat IHSG karena tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA, BMRI, BBRI, dan ASII.
Secara keseluruhan, data perdagangan menunjukkan pasar saham Indonesia telah memasuki tahap pemulihan awal, tetapi belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Berkurangnya akumulasi jual bersih asing, membaiknya sektor finansial, dan pulihnya kapitalisasi sejumlah bank besar menjadi sinyal positif. Namun, koreksi IHSG yang masih mencapai 23,25% sejak awal tahun menunjukkan pemulihan pasar masih memerlukan dukungan arus modal asing yang lebih konsisten dan perbaikan sentimen makroekonomi. (PD)
