IHSG Mau Rebound? Samuel Sekuritas Ungkap 2 Kuncinya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang kembali rebound setelah mengalami tekanan tajam.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim mengatakan terdapat dua prasyarat utama yang perlu terpenuhi agar pemulihan pasar saham dapat berlangsung, yakni stabilitas rupiah dan arah suku bunga.
“Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga,” kata Shim dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, d Jakarta, Jumat, (4/9/2026).
Baca Juga
IHSG Ditutup Melemah 0,47% Akibat Profit Taking, Sebaliknya 6 Saham Dipimpin SMMT Cetak ARA
Shim menjelaskan, pergerakan dolar AS terhadap rupiah dan suku bunga menjadi dua faktor penting yang perlu dicermati investor. Ia bilang nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun memiliki korelasi negatif yang kuat terhadap IHSG.
Artinya, pelemahan rupiah dan kenaikan yield cenderung memberikan tekanan terhadap pasar saham. Sebaliknya, stabilisasi rupiah dan penurunan tekanan suku bunga dapat membuka ruang bagi pemulihan IHSG.
Menurut Shim, tekanan terhadap rupiah diperkirakan telah mencapai puncaknya pada semester pertama 2026. Berdasarkan konsensus Bloomberg yang dikutip dalam materi Samuel Tumbuh Bersama, rupiah diperkirakan menguat hingga 2028.
Dalam paparan tersebut, Rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh Rp 18.187 per dolar AS pada 8 Juni 2026 sebelum bergerak lebih stabil. Meredanya tekanan rupiah dinilai dapat mendorong pasar untuk mulai memperhitungkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah.
“Jika pelemahan rupiah sudah melewati titik terburuknya, maka alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi semakin lemah. Ini penting bagi pasar, karena rupiah dan suku bunga merupakan dua prasyarat utama untuk membuka jalan pemulihan IHSG,” tutur Shim.
Suku Bunga Jadi Kunci Kedua
Mengenai suku bunga, pasar mulai memperkirakan Bank Indonesia tidak akan melanjutkan kenaikan suku bunga hingga kuartal IV-2026 dan bahkan hingga 2027. Namun, Samuel Tumbuh Bersama menilai proyeksi tersebut masih sangat bergantung pada arah pergerakan rupiah.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di sekitar 7% dinilai masih setara dengan negara-negara berperingkat BBB. Secara teoritis, yield tersebut dapat berada di kisaran 6% apabila mempertimbangkan tingkat inflasi dari negara pembanding.
Selain rupiah dan suku bunga, Shim menilai kondisi likuiditas domestik juga dapat menjadi bantalan bagi pemulihan pasar. Dalam materi Samuel Tumbuh Bersama, uang beredar M2 Indonesia tercatat sebesar Rp 10.371 triliun atau tumbuh 8% secara tahunan.
Kondisi tersebut mengindikasikan masih besarnya dana yang berpotensi bergerak ke pasar ketika kepercayaan investor membaik. Jumlah investor pasar modal juga telah melampaui 30 juta investor, sementara manajer investasi institusional dan Danantara dinilai siap masuk ke pasar apabila sinyal bottoming semakin jelas.
“Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat,” ujar Shim.
Asing Mulai Kembali
Dari segi aliran dana, investor asing juga mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sejak Juni 2026, investor asing mulai kembali membeli obligasi dan saham Indonesia.
Samuel Tumbuh Bersama menilai pelemahan dolar AS dapat mendorong rotasi dana ke aset emerging market, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia masih menjadi salah satu pasar dengan kinerja terlemah secara year-to-date, IHSG tercatat menjadi salah satu yang terbaik pada periode semester II berjalan.
Pergerakan tersebut didukung oleh pelemahan dolar AS dan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia.
Samuel Tumbuh Bersama juga melihat peluang yang semakin menarik. IHSG memiliki trailing P/E sekitar 14,2 kali, mendekati level terendah 10 tahun sebesar 12,5 kali dan berada di bawah rata-rata 10 tahun sekitar 20,6 kali.
Baca Juga
5 Saham Paling Banyak Diborong Pekan Ini, BBRI Teratas dengan Rp 1,43 Triliun
Dengan valuasi yang lebih rendah dan proyeksi laba korporasi yang masih kuat, Samuel Tumbuh Bersama menilai risiko kenaikan pasar mulai lebih besar dibandingkan risiko penurunan.
“Valuasi pasar saat ini sudah berada di level yang lebih menarik, sementara fundamental korporasi Indonesia masih solid. Dengan rupiah yang lebih stabil, ekspektasi suku bunga yang mereda, likuiditas domestik yang besar, dan asing mulai kembali masuk, kami melihat peluang pemulihan pasar semakin terbuka,” kata Shim.
Berdasarkan kondisi tersebut, Samuel Tumbuh Bersama merekomendasikan investor mulai mengurangi porsi kas dan kembali menyeimbangkan alokasi ke aset berisiko. Dalam materi tersebut, porsi saham direkomendasikan menjadi marketweight 40%, fixed income 40%, emas 5%, kripto 10%, dan kas 5%.
Untuk saham, preferensi diarahkan pada non-MSCI blue chips, sedangkan untuk fixed income tetap difokuskan pada obligasi tenor pendek.
