TBS Energi (TOBA) Berhasil Pangkas Utang Jangka Pendek 30,9%, Arus Kas Operasi Berbalik Positif
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berhasil mencatatkan penurunan utang bank jangka pendek sebanyak 30,9% menjadi US$ 8,46 juta hingga semester I-2026, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 12,24 juta akhir 2025.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, total liabilitas jangka pendek TOBA juga turun 13,5% menjadi US$ 143,24 juta dari US$ 165,64 juta pada 31 Desember 2025. Di tengah penurunan kewajiban jangka pendek tersebut, TOBA mencatat posisi kas sebesar US$ 94,7 juta per akhir Juni 2026, dibandingkan US$ 102,3 juta pada akhir 2025.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai bahwa penurunan utang bank jangka pendek yang dibarengi dengan posisi kas tersebut menjadi perkembangan yang perlu dicermati di tengah transformasi bisnis perseroan. “Dalam fase transformasi, pengelolaan likuiditas dan kewajiban menjadi penting. Penurunan utang bank jangka pendek yang disertai posisi kas yang tetap besar memberi ruang yang lebih baik bagi perusahaan untuk menjalankan kebutuhan operasional maupun ekspansi,” ujar Aditya.
Baca Juga
Transformasi TBS Energi (TOBA) Berbuah, Arus Kas Operasi Berbalik Positif US$ 14,6 Juta
Perbaikan struktur keuangan TOBA juga tercermin dari arus kas operasi. Pada semester I-2026, kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat US$ 14,58 juta. Angka tersebut berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika arus kas dari aktivitas operasi berada di posisi negatif US$ 31,57 juta.
Selain itu, laba kotor TOBA meningkat 102,9% menjadi US$28,23 juta dari US$13,91 juta pada semester I-2025. Margin kotor juga meningkat menjadi 16,3% dari sebelumnya 8,1%. Sementara itu, adjusted EBITDA konsolidasi TOBA tercatat US$ 25,73 juta, naik 23,7% dibandingkan US$ 20,81 juta pada semester I-2025.
Kenaikan Adjusted EBITDA
Perbaikan kinerja juga terlihat dari rugi bersih TOBA yang menyusut 83,2% menjadi US$19,42 juta dari US$115,34 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Aditya menilai kombinasi arus kas operasi yang berbalik positif dan kenaikan adjusted EBITDA menjadi indikator yang relevan dalam melihat kemampuan TOBA mengelola struktur keuangannya.
“Penurunan utang akan lebih berarti ketika disertai perbaikan dari sisi operasional. Dalam kasus TOBA, operating cash flow sudah kembali positif dan adjusted EBITDA tumbuh, sehingga kualitas perbaikan keuangannya tidak hanya datang dari sisi neraca,” katanya.
Baca Juga
TBS (TOBA) Jadi Outlier Emiten Batu Bara, Pendapatan Non-Coal Tembus Lebih dari 60%
Dari sisi pendapatan, TOBA membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$173,02 juta pada semester I-2026. Kontribusi terbesar berasal dari bisnis pengelolaan limbah sebesar US$ 105,93 juta. Selanjutnya, pendapatan berasal dari pertambangan batu bara sebesar US$34,85 juta, perdagangan batu bara US$ 19,51 juta, serta kendaraan listrik US$9,06 juta.
Pada periode yang sama, TBS mencatat rasio net loans terhadap adjusted EBITDA sebesar 5,4 kali pada semester I-2026, membaik dibandingkan 5,6 kali pada akhir 2025. Aditya menilai konsistensi arus kas dan pengelolaan kewajiban akan menjadi salah satu faktor penting untuk diperhatikan seiring ekspansi bisnis perseroan.
“Kalau operating cash flow dapat terus dijaga positif sementara kewajiban jangka pendek tetap terkendali, ruang untuk menyeimbangkan ekspansi dan pengelolaan leverage akan semakin baik,” ujar Aditya.
