TBS Energi (TOBA) Berbalik Positif, Arus Kas Operasi Naik dan Laba Kotor Melonjak 103%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berhasil mencatat perbaikan kinerja keuangan pada semester I 2026, ditandai dengan arus kas operasi yang berbalik positif, laba kotor melesat lebih dari dua kali lipat secara tahunan, hingga peningkatan pesat pendapatan non batu bara.
Laba kotor perseroan melesat menjadi US$ 28,22 juta pada semester I-2026, dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai US$ 13,90 juta. Adapun rugi periode berjalan turun drastic dari US$ 115,34 juta menjadi US$ 19,42 juta. Begitu juga dengan pendapatan bertumbuh dari US$ 172,21 juta menjadi US$ 173,01 juta.
TOBA mencatatkan margin kotor konsolidasi meningkat menjadi 16,3% hingga Juni 2026, dibandingkan periode sama tahun lalu 8,1% secara tahunan. EBITDA konsolidasi juga meningkat 23,7%, sementara total aset turun 3,6% secara tahunan. Hal ini menunjukkan perseroan menghasilkan laba lebih besar dari basis aset yang lebih kecil.
Baca Juga
TBS (TOBA) Jadi Outlier Emiten Batu Bara, Pendapatan Non-Coal Tembus Lebih dari 60%
Direktur dan Chief Financial Officer TBS Energi Utama Juli Oktarina mengatakan, perubahan komposisi bisnis perseroan mulai menunjukkan hasil terhadap kemampuan menghasilkan kas. “Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan,” ujar Juli melalui penjelasan resminya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Sedangkan dari sisi neraca, TOBA memasuki semester II 2026 dengan posisi kas sebesar US$ 94,7 juta sampai 30 Juni 2026. Perseroan juga mencatatkan penurunan utang bank jangka pendek sebanyak 30,9% secara tahunan, sementara total liabilitas jangka pendek turun 13,5% secara tahunan.
TOBA juga telah merealisasikan refinancing obligasi Rupiah 2026 melalui PUB II dan PUB III yang memindahkan US$ 27,5 juta dari jatuh tempo jangka pendek, sehingga memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan. Hal ini membuat tingkat leverage membaik. Rasio utang bersih terhadap EBITDA tercatat 5,4 kali dibandingkan 5,6 kali pada keseluruhan tahun 2025.
Juli mengatakan, posisi likuiditas dan perbaikan neraca memberikan ruang bagi perseroan untuk mendanai rencana pertumbuhan sekaligus menjalankan program transisi bisnis. “Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan dan tetap berada di jalur target netralitas karbon 2030. Bisnis-bisnis baru kami sudah menghasilkan kas, utang jangka pendek kami turun signifikan, dan neraca kami memberi ruang untuk terus berinvestasi. Fondasinya sudah ada, dan kami akan terus membangun di atasnya,” kata Juli.
Penopang Kinerja
Segmen pengelolaan limbah menjadi mesin utama laba TBS Energi Utama dengan kontribusi 61,2% terhadap pendapatan konsolidasi dan 92% terhadap EBITDA konsolidasi. Pendapatan segmen pengelolaan limbah tumbuh 77,8% secara tahunan menjadi US$ 105,9 juta dari US$ 59,6 juta.
Laba kotor segmen ini melambung 91,9% menjadi US$ 17,6 juta dari US$ 9,2 juta. Margin segmen juga naik menjadi 16,6% dari 15,4%. EBITDA segmen meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$23,6 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara operasional, perseroan melalui Cora Environment di Singapura mengelola 752.000 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik 86%. Asia Medical Enviro Services di Singapura mengelola 2.100 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik 90%, sedangkan ARAH Environmental di Indonesia mengelola 5.800 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik 84%.
Baca Juga
Transisi Hijau TOBA Berbuah Hasil, Pendapatan Non-Batu Bara Kian Melonjak
Kinerja mengesankan juga dicatatkan segmen ekosistem kendaraan listrik. Pendapatan Electrum meningkat 184% secara tahunan menjadi US$ 9,1 juta atau hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Laba kotor segmen berbalik positif menjadi US$ 0,4 juta dari rugi US$ 0,5 juta pada periode yang sama tahun lalu. EBITDA segmen juga berbalik positif menjadi US$0,5 juta.
Dalam ekosistem Electrum, terdapat hampir 14.000 unit motor listrik dan 550 unit battery swapping station. Ekosistem tersebut mencatat lebih dari 1,7 juta penukaran baterai per bulan, lebih dari 2.500 unit rent-to-own, serta lebih dari 135 juta kilometer jarak tempuh.
Terkait kinerja segmen energi terbarukan, kepemilikan TBS Energi (TOBA) berbentuk entitas asosiasi sehingga dicatat sebagai bagian atas laba entitas asosiasi, bukan sebagai pendapatan konsolidasi. Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) 6 MW telah beroperasi penuh dan menyumbang US$110.300 pada laporan laba rugi perseroan.
Baca Juga
BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, Tetapkan 3 Saham Hijau
Sementara itu, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung 46 MWp tetap sesuai jadwal untuk beroperasi pada kuartal IV 2026. Proyek tersebut akan menambah sumber pendapatan non-batu bara perseroan.
Segmen Batu Bara
Di tengah proses transisi bisnis, batu bara masih menjadi kontributor yang berarti dan dikelola secara disiplin oleh perseroan. Pendapatan segmen batu bara turun 4,1% secara tahunan menjadi US$ 34,9 juta dari US$ 36,3 juta.
Namun, laba kotor segmen meningkat menjadi US$ 9,3 juta dari US$ 1,3 juta. Margin kotor segmen naik menjadi 26,6% dari 3,5%, didorong penurunan biaya produksi. EBITDA segmen batu bara juga membaik menjadi US$ 1,3 juta dari rugi US$ 11,1 juta pada periode yang sama tahun lalu. Berlanjutnya disiplin biaya turut mendorong kenaikan margin kotor pertambangan sepanjang tahun, didukung perbaikan kinerja biaya produksi setelah disetujuinya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perseroan.
