KAI Raup Laba Rp 2,28 Triliun Sepanjang 2025, Arus Kas Operasi Melonjak 36,43%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan laba tahun berjalan secara konsolidasian sebesar Rp 2,28 triliun pada 2025, meningkat 2,77% dibandingkan 2024 sebesar Rp 2,22 triliun. Capaian tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025.
Selain mencatat pertumbuhan laba, KAI Group juga membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp 7,15 triliun atau naik 36,43% dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp 5,24 triliun.
Baca Juga
KAI Tebar Diskon 30% untuk Tiket Kereta Ekonomi Selama Liburan Sekolah
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan, kinerja keuangan yang sehat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga keselamatan perjalanan, merawat sarana, memastikan kesiapan operasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan.
"Kinerja keuangan yang sehat membuat KAI memiliki ruang lebih kuat untuk menjaga keselamatan perjalanan, merawat sarana, memastikan kesiapan operasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan. Bagi pelanggan, ini berarti perjalanan dengan kereta api dapat terus diandalkan untuk bekerja, sekolah, berusaha, berwisata, maupun bertemu keluarga," kata Anne dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Sepanjang 2025, KAI Group melayani 503.549.740 pelanggan dan mengangkut 69.791.691 ton barang. Dari sisi pendapatan, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 35,76 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp 36,11 triliun pada 2024.
Sementara itu, laba usaha meningkat 10,35% menjadi Rp 8,39 triliun dari Rp 7,60 triliun pada tahun sebelumnya. Beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 23,02 triliun dari Rp 23,27 triliun, sedangkan beban usaha menurun menjadi Rp 4,35 triliun dari Rp 5,23 triliun. Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak meningkat 12,20% menjadi Rp 3,71 triliun.
Anne menyampaikan, peningkatan laba usaha mencerminkan pengelolaan perusahaan yang lebih efisien. "Efisiensi di KAI diarahkan agar manfaatnya kembali kepada pelanggan. Pengelolaan biaya yang baik membantu perusahaan menjaga ketepatan waktu, kenyamanan di stasiun dan di perjalanan, kesiapan sarana, serta perawatan fasilitas yang mendukung pengalaman pelanggan," ujarnya.
Dari sisi likuiditas, penerimaan kas dari pelanggan mencapai Rp 28,59 triliun atau tumbuh 12,68% dibandingkan Rp 25,37 triliun pada 2024. Kas dan setara kas pada akhir 2025 juga meningkat 37,22% menjadi Rp 6,76 triliun.
Menurut Anne, arus kas operasi yang kuat menjadi salah satu fondasi keberlanjutan layanan karena mendukung pembiayaan perawatan lokomotif, kereta, gerbong, fasilitas stasiun, sistem pelayanan, hingga operasional di berbagai daerah.
Baca Juga
KAI Komitmen Pesan 30 'Trainset' KRL Baru ke Inka, Pabrik Kereta Banyuwangi Dioptimalkan
Adapun total aset KAI Group per akhir 2025 mencapai Rp 105,43 triliun atau naik 8,58% dibandingkan Rp 97,10 triliun pada 2024. Ekuitas meningkat 11,23% menjadi Rp 39,29 triliun, sedangkan aset tetap tumbuh 26,84% menjadi Rp 37,30 triliun.
Anne menegaskan, kinerja keuangan merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjaga layanan transportasi berbasis rel.
"Bagi KAI, angka-angka dalam kinerja keuangan harus bermuara pada pelayanan. Setiap penguatan perusahaan harus membantu pelanggan mendapatkan layanan kereta api yang aman, nyaman, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.
