Dian Swastatika (DSSA) Gencar Bisnis Digital, Ini Katalis Utama yang Jadi Andalan
JAKARTA, investortrust.id – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang semakin kuat, seiring ekspansi infrastruktur digital, khususnya melalui layanan fixed wireless access (FWA), fiber to the home (FTTH), dan bisnis data center.
Dalam riset yang dirilis Jumat (4/9/2026), BRI Danareksa Sekuritas menilai transformasi DSSA menuju bisnis infrastruktur digital berjalan sesuai rencana. Perseroan saat ini memiliki dua pilar utama bisnis, yakni energi dan infrastruktur.
Pertumbuhan DSSA dalam jangka pendek hingga menengah terutama ditopang bisnis FWA dan FTTH melalui Moratelindo (MORA) serta bisnis data center milik SM+. Salah satu katalis utama DSSA berasal dari perubahan kontribusi bisnis non-energi terhadap EBITDA perseroan. Manajemen DSSA menargetkan kontribusi EBITDA bisnis energi dan non-energi secara bertahap berubah menjadi 60:40 pada 2027, 50:50 pada 2028, dan 20:80 pada 2029.
Baca Juga
Menakar Prospek Saham DSSA Jelang Beroperasinya Data Center SMX01 Investasi US$ 300 Juta
“Perubahan bauran EBITDA ini menunjukkan semakin besarnya peran bisnis non-energi dalam menopang pertumbuhan DSSA ke depan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Sebagai gambaran, hingga kuartal I-2026, bisnis energi masih mendominasi sekitar 80% pendapatan DSSA dan 68% laba kotor perseroan.
Data Center Jadi Katalis DSSA
Ekspansi bisnis data center menjadi salah satu katalis pertumbuhan non-energi DSSA. Data center SMX01 berkapasitas 21 MW yang dikembangkan melalui perusahaan patungan 50:50 dengan LG dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
Fasilitas tersebut telah memiliki satu penyewa utama, yakni Konst, penyedia layanan GPU-as-a-service asal Taiwan.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut kampus data center tersebut masih memiliki ruang untuk dikembangkan hingga kapasitas 60 MW. Dengan waktu pembangunan sekitar enam bulan, ekspansi tersebut diperkirakan paling cepat dapat beroperasi sekitar satu tahun setelah proyek awal.
Baca Juga
Kejar Indeks Global, Dian Swastatika (DSSA) Lepas 1,44 Miliar Saham Treasuri ke Pasar?
Data center SMX01 dibangun dengan investasi sekitar US$10 juta per MW. Fasilitas 11 lantai tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan rak GPU berkapasitas tinggi hingga generasi Vera Rubin. Manajemen menargetkan margin EBITDA bisnis tersebut mencapai 55%.
“Ekspansi data center yang lebih besar di luar kampus yang sudah ada juga tengah dipersiapkan manajemen, meski detailnya belum diungkapkan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, pembangunan infrastruktur digital DSSA berpotensi menjadi sumber pertumbuhan laba yang skalabel dan menguntungkan dalam jangka panjang.
Baca Juga
PLN Manfaatkan 42 Ton FABA untuk Pemberdayaan Masyarakat Tidore
Selain data center, bisnis FTTH dan FWA melalui Moratelindo (MORA) menjadi penopang pertumbuhan DSSA dalam jangka pendek hingga menengah. Untuk 2026, belanja modal DSSA diperkirakan mencapai US$707,3 juta, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk pengembangan FTTH dan FWA sebesar sekitar US$600 juta.
Selain itu, ekspansi kapasitas SMX01 dari 21 MW menjadi 60 MW diperkirakan membutuhkan tambahan investasi sekitar US$390 juta dan akan dikembangkan melalui kerja sama dengan LG.
Energi Terbarukan
Di luar bisnis infrastruktur digital, DSSA terus mengembangkan bisnis energi terbarukan melalui pembangunan fasilitas manufaktur panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal serta proyek panas bumi dengan kapasitas awal 440 MW.
Kedua proyek tersebut diperkirakan mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan pada 2029.
Baca Juga
Saham HSC BertambahJadi 49, Emiten Sinarmas Mendominasi Mulai dari DSSA hingga MORA
Prospek bisnis digital infrastructure DSSA juga didukung kondisi neraca yang dinilai masih terkendali, dengan rasio net debt terhadap EBITDA sebesar 0,7 kali.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mencatat valuasi saham DSSA relatif tinggi, dengan price to earnings (PE) sebesar 45,7 kali dan enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) sebesar 39,1 kali berdasarkan basis 12 bulan terakhir.
“Meski saham DSSA diperdagangkan pada valuasi yang relatif premium, pembangunan infrastruktur digital yang skalabel dan berpotensi menghasilkan profit dapat menjadi penopang pertumbuhan laba perseroan ke depan,” tulis riset tersebut.
