GOTO Tinggalkan MSCI, Tapi Masih Bertahan di IDX30, LQ45 dan IDX80
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari indeks sahamnya melalui pengumuman pada Kamis (13/8/2026). Namun, analis menilai keputusan tersebut lebih berkaitan dengan aspek teknis, bukan fundamental perusahaan.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menjelaskan, keluarnya GOTO dari indeks MSCI berpotensi memicu aksi jual dari pengelola dana pasif yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi. Sebab, pengelola dana pasif menyusun portofolio berdasarkan saham yang menjadi konstituen indeks dengan bobot tertentu. Ketika suatu saham dikeluarkan atau terjadi rebalancing indeks, passive fund juga perlu menyesuaikan portofolionya.
“Para pengelola dana pasif ini meramu portofolio saham yang berisikan saham-saham yang ada di dalam indeks dengan bobot serupa. Kalau ada satu saham dikeluarkan/rebalance, maka passive fund juga harus melakukan hal yang sama,” ungkap Aditya.
Baca Juga
MSCI Agustus 2026: CPIN dan GOTO Keluar dari Global Standard, Ini Daftarnya
Namun, ia menegaskan aksi penjualan tersebut lebih disebabkan oleh aturan indeks dan bukan karena perubahan fundamental perusahaan.
Aditya menilai keputusan MSCI terhadap GOTO lebih berkaitan dengan harga saham dan likuiditas perdagangan. “Untuk GOTO, ini lebih ke aspek teknis saja. Harga sudah Rp 50 selama tiga bulan dan orang susah jual beli dengan likuiditas perdagangan jadi kering,” tambah Aditya.
Mengacu pada data perdagangan historis, sebelum harga saham GOTO menyentuh Rp50, rata-rata nilai transaksi hariannya mencapai Rp300 miliar hingga Rp400 miliar di pasar reguler. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, rata-rata nilai perdagangan GOTO tidak lagi menembus Rp 50 miliar per hari. Bahkan, belakangan nilainya hanya berada di kisaran Rp 3 miliar per hari. Penurunan likuiditas tersebut menjadi salah satu faktor yang menjadi perhatian dalam keputusan indeks.
Baca Juga
Di sisi lain, Aditya mengatakan, investor GOTO tidak hanya berasal dari passive fund. Perseroan juga memiliki investor strategis, investor ritel, serta investor aktif yang melakukan akumulasi ketika harga saham dinilai sudah murah. Oleh karena itu, keluarnya GOTO dari indeks global dinilai tidak secara otomatis memengaruhi strategi atau keputusan seluruh kelompok investor tersebut.
Dengan kata lain, aksi jual yang berpotensi muncul dari passive fund tidak serta-merta berarti seluruh investor GOTO akan melepas sahamnya.
Fundamental Membaik
Sementara itu, dari sisi fundamental, Aditya menilai, bisnis GOTO justru terus menunjukkan perbaikan, terutama setelah perseroan mencatatkan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal I-2026, GOTO mencatat laba bersih untuk pertama kalinya sebesar Rp 171 miliar. Kemudian pada kuartal II-2026, pertumbuhan laba bersih berlanjut 47% menjadi Rp 252 miliar.
Berlanjutnya pertumbuhan tersebut menjadikan total laba bersih GOTO mencapai Rp 423 miliar sepanjang semester I-2026. “Kalau lihat kinerja dengan pendapatan yang tumbuh dobel digit, laba bersih positif, margin semakin tebal dan cash flow sehat, artinya tidak ada masalah dengan fundamentalnya,” tambah Aditya.
Baca Juga
GOTO Cetak Laba Bersih Dua Kuartal Beruntun, Analis Sebut Kinerja Lampaui Ekspektasi
Meski saham GOTO dikeluarkan dari indeks global, seperti FTSE dan MSCI, sejumlah indeks domestik masih mempertahankan GOTO sebagai konstituen. GOTO masih tercatat dalam IDX30, LQ45, dan IDX80.
Aditya menilai kondisi tersebut menunjukkan keluarnya GOTO dari indeks global tidak berarti seluruh investor akan melakukan aksi jual. “Ini artinya local fund, seperti reksadana, dana pensiun hingga asuransi yang menggunakan indeks IDX30, LQ45 dan IDX80 masih bisa stay di GOTO. Mereka ini AUM-nya juga banyak yang besar lho, jadi ketika GOTO dikeluarkan dari indeks global tidak berarti semua investor jualan,” pungkas Aditya.

