BEI Evaluasi Indeks LQ45, IDX30, dan IDX80, Simak Prospeknya hingga Akhir Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi mayor terhadap konstituen indeks saham IDX30, IDX45, dan IDX80 yang akan berlaku efektif pada 1 November 2024 hingga 31 Januari 2025. Hingga akhir tahun, prospek saham yang menjadi konstituen ketiga indeks tersebut lumayan cerah.
“Ada faktor seasonality berupa tren peningkatan domestic consumption selama Natal dan Tahun Baru pada Desember mendatang yang akan menjadi katalis positif bagi indeks-indeks tersebut,” kata analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan AJi Gusta kepada investortrust.id, Senin (28/10/2024).
Nafan mengungkapkan, Indonesia berada dalam tren deflasi selama lima bulan berturut turut. Alhasil, peningkatan konsumsi domestik secara musiman dapat mendorong ekonomi Indonesia dan mengembalikan kepercayaan para investor.
Baca Juga
Prospek Saham Bank Melambung Usai Suku Bunga Dipangkas, Bahkan BBCA dan BMRI Cetak Rekor
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2024 terjadi deflasi sebesar 0,12% secara bulanan (mtm) yang merupakan deflasi beruntun selama lima bulan terakhir. Deflasi dipicu penurunan harga bahan pangan bergejolak (volatile food).
Sementara itu, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2024 berada di level 123,5, sedikit lebih rendah dari Agustus di posisi 124,4. Walaupun turun, IKK tetap berada di level optimistis.
Nafan AJi Gusta menjelaskan, faktor domestik bukan hanya dipengaruhi laporan kinerja emiten pada kuartal-III, tapi juga tren musiman di sisi konsumsi.
“Pada Desember ada data yang berkaitan dengan Christmas Eve dan Happy New Year. Itu bisa menjadi katalis positif domestic consumption, efeknya ke rally di pasar saham. Jadi, IDX30 dan LQ45 diperkirakan menguat pada Desember,” ujar Nafan.
Selain itu, kata Nafan, faktor pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) bakal turut memengaruhi likuiditas saham-saham yang tergabung dalam IDX30 dan LQ45.
Pilpres AS dan Proyeksi IMF
Katalis positif lainnya, menurut Nafan AJi Gusta, berasal dari faktor global, penantian pemilihan presiden (pilpres) dan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) bakal membaik. Dengan demikian, pemangkasan suku bunga The Fed pada November dan Desember terbuka lebar. “Itu bisa memicu global liquidity di market,” tutur dia.
Nafan mengakui, tensi geopolitik yang meningkat akibat ketegangan Iran dan Israel bisa menjadi faktor pemberat. Namun, jika ketegangan di Timur Tengah mereda atau tidak meluas, pasar saham domestik bisa bangkit.
“Soalnya ada peningkatan appetite, apalagi China juga diperkirakan mengalami sentimen rally pada Desember,” papar dia.
Baca Juga
Daftar saham IDX45 atau LQ45 mengalami perubahan dengan masuknya dua saham baru, yaitu PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Sebaliknya, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) dikeluarkan dari indeks tersebut.
Di sisi lain, BEI dalam pengumuman resminya menetapkan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebagai penghuni baru IDX30. Sedangkan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dikeluarkan dari daftar saham IDX30.
Kecuali itu, BEI merombak konstituen IDX80 dengan memasukkan dua saham baru, yaitu saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR). Sebaliknya, dua saham lainnya dikeluarkan dari indeks ini, yaitu saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

