Kinerja Keuangan Vale (INCO) Diprediksi Melesat, Bagaimana dengan Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memiliki prospek positif, seiring penguatan kinerja operasional dan ekspansi margin pada semester I-2026. Hal ini mendorong Kiwoom Sekuritas Indonesia untuk mempertahankan rekomendasi beli INCO dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 6.300 per saham.
Target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sebesar 16,66% dari harga terakhir INCO di level Rp 5.400. Target harga ini berdasarkan valuasi berbasis EV/EBITDA. Dengan menggunakan target multiple 7,9 kali terhadap base amount sebesar US$ 481 juta, Kiwoom memperoleh target harga INCO sebesar Rp 6.300. Pada proyeksi 2026, saham INCO diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA 7,7 kali dan P/E 14,60 kali.
Baca Juga
Proyek HPAL Vale (INCO) US$ 2 Miliar Dinilai Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Daerah
Analis Kiwoom Adrian Djie memperkirakan, kinerja keuangan INCO akan mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2026. Pendapatan diproyeksikan mencapai US$ 1,43 miliar, melonjak dibandingkan realisasi US$ 990 juta pada 2025. Laba diperkirakan mencapai US$ 261 juta, naik tajam dari US$ 76 juta pada 2025. Sejalan dengan itu, margin EBITDA diproyeksikan meningkat dari 17,81% pada 2025 menjadi 33,54% pada 2026.
“Margin laba bersih juga diperkirakan meningkat menjadi 18,21% dari 7,68% pada 2025, sementara ROE diproyeksikan naik menjadi 8,66% dari 2,74%. Penguatan kinerja diperkirakan berlanjut pada 2027 dan 2028. Pendapatan INCO masing-masing diproyeksikan mencapai US$ 1,72 miliar dan US$ 1,99 miliar. Sedangkan laba diperkirakan sebesar US$ 298 juta dan US$ 356 juta,” tulisnya.
Hingga semester I-2026, INCO mencatatkan pendapatan sebesar US$ 543 juta, tumbuh 27% secara tahunan. Laba kotor meningkat tajam menjadi US$ 152 juta, atau tumbuh 405% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut mendorong margin laba kotor menjadi 28,04%.
Sementara itu, laba bersih INCO mencapai US$ 104 juta, tumbuh 313% secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang segmen Nickel Matte yang menyumbang US$ 401 juta. Di sisi lain, segmen Nickel Ore mencatatkan pertumbuhan sangat tinggi dengan pendapatan mencapai US$ 142 juta, atau melonjak 2.840% secara tahunan.
Baca Juga
Relaksasi Kuota Nikel 2026 Jadi Angin Segar bagi Saham ANTM dan INCO
Kinerja keuangan tersebut ditopang pertumbuhan kinerja operasional setelah produksi nickel matte pada kuartal II-2026 mencapai 16.153 ton, meningkat 19% secara kuartalan. Dengan demikian, total produksi nickel matte pada semester I-2026 mencapai 29.773 ton.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kinerja operasional yang lebih kuat setelah penyelesaian proyek Electric Furnace 3 Rebuild pada Juni 2026. “Penguatan operasional juga diikuti kenaikan harga jual rata-rata nickel matte menjadi US$14.765 per ton, meningkat 4% secara kuartalan,” tulisnya.
Kiwoom menambahkan struktur biaya INCO tetap resilien, meskipun harga energi global meningkat, terutama untuk HSFO, diesel, dan batu bara. Cash cost nickel matte pada kuartal II-2026 justru membaik menjadi US$ 10.005 per ton. Kondisi tersebut mencerminkan disiplin biaya dan peningkatan efisiensi operasional perseroan. “Dengan peningkatan kapasitas dan disiplin operasional yang solid, kami menilai INCO memiliki fondasi yang kuat untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika kondisi pasar,” tulisnya.

