Kinerja Merosot, Rekomendasi Saham Vale (INCO) Diturunkan
JAKARTA, investortrust.id – Pendapatan PT Vale Indonesia (INCO) merosot 36,7% menjadi US$ 230 juta pada kuartal I-2024, dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak US$ 363 juta.
Pelemahan kinerja tersebut membuat PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menurunkan rekomendasi saham INCO dari trading buy menjadi hold, dengan target harga yang juga lebih rendah dari rekomendasi sebelumnya.
“Angka ini relatif sesuai dengan perkiraan atau konsensus kami. Penurunan pendapatan didorong oleh beberapa faktor, antara lain penurunan volume penjualan sebesar 12% (QoQ) menjadi 18.175 ton dan penurunan ASP sebesar 11% (QoQ) menjadi US$ 12.651 per ton,” jelas Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan dalam riset yang dikutip pada Kamis (11/7/2024).
Baca Juga
Penurunan tersebut, menyusul turunnya harga nikel LME yang terkoreksi 4% selama periode tersebut. Selain itu, produksi INCO pada kuartal pertama tahun ini juga turun 5% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 18.199 ton.
“Hasil yang diperoleh tidak sesuai estimasi karena masih tingginya biaya tunai dan kerugian dalam penyesuaian nilai wajar,” sambung Darma.
Dalam rangka menjaga efisiensi biaya, INCO menyesuaikan bauran energi untuk smelter, meningkatkan konsumsi minyak bakar (high sulphur fuel oil/HSFO) sebesar 13% (QoQ) menjadi 33,2 barrel per ton.
Hal tersebut dilakukan di tengah penurunan harga rata-rata minyak sebesar 6% menjadi US$ 77,5 per barel. Di sisi lain, konsumsi batu bara dalam perusahaan berkurang sekitar 22% (QoQ) menjadi 3,4 ton per ton nikel matte dari 5,3 ton per ton nikel matte.
Baca Juga
Ungkap Jadwal Stock Split, Saham Emiten Termahal (DSSA) Lanjutkan Lompatan
Perlu dicatat, INCO mempunyai fleksibilitas untuk beralih antara HSFO, solar, dan batu bara sebagai sumber energi untuk operasi smelternya. Hasilnya, INCO mampu mempertahankan biaya tunai dibandingkan kuartal sebelumnya, hanya peningkatan kecil yakni 1% (QoQ) menjadi US$ 9.590 per ton.
“Meskipun demikian, biaya tunai INCO 10% lebih tinggi dari perkiraan kami. Jika digabungkan dengan penurunan ASP (average selling price) kuartal I-2024 menjadi US$ 12,651 per ton dan biaya tunai sebesar US$ 9,590 per ton,” papar Darma.
Selanjutnya margin tunai INCO sepanjang Januari-Maret 2024 turun 35,6% (QoQ) menjadi US$ 3,061 per ton, lebih rendah 40% dibandingkan ekspektasi awal Mirae Asset Sekuritas juga.
Secara keseluruhan, INCO melaporkan EBITDA sebesar US$ 56 juta atau turun 43% (QoQ), dengan margin EBITDA 24%. Ditambah kerugian penyesuaian nilai wajar dari PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), laba bersih INCO di tiga bulan pertama tahun ini pun mencetak angka US$ 6 juta, turun 88% (QoQ).
“Secara keseluruhan, hasilnya jauh dari ekspektasi atau konsensus kami, dengan tingkat keberhasilan sekitar 4%,” imbuh Darma.
Mirae Asset Sekuritas pun menyempurnakan perkiraan untuk kinerja INCO sepanjang 2024, agar lebih mencerminkan kinerja terkininya. Estimasi dimaksud, menghasilkan penyesuaian EBITDA secara keseluruhan menjadi US$ 324 juta yang turun 17% (yoy) dan laba bersih menjadi US$ 94 juta atau turun 34% (yoy).
“Dengan mempertimbangkan penyesuaian ini, kami menurunkan rekomendasi kami agar INCO bertahan (hold), dengan target harga lebih rendah di Rp 4.240 per saham,” jelas Darma.
Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan trading buy terhadap saham INCO dengan target harga Rp 4.500 per saham. Sedangkan pada penutupan perdagangan Kamis (11/7/2024), harga saham INCO masih di level Rp 3.800 per saham, terkoreksi 4,52% hari ini. (CR-10)
Grafik Harga Saham INCO secara Ytd:

