Pulau Subur (PTPS) Himpun Dana IPO Rp 89 Miliar Buat Bangun Pabrik Sawit
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Pulau Subur Tbk (PTPS) sedang melakukan penawaran umum saham dalam rangka initial public offering (IPO).
Jumlah saham yang sitawarkan sebanyak 450 juta lembar saham atau setara dengan 20,76% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah IPO.
Nilai nominal per saham ditetapkan Rp20, dengan harga penawaran Rp198 per saham. Dengan begitu Perusahaan yang berbasis di Palembang, Sumatera Selatan ini berpotensi meraup dana segar Rp89,10 miliar.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Melemah, Cek 4 Saham Pilihan Bahana Hari Ini
Adapun periode penawaran umum ini berlangsung sejak 3 oktober 2023 hingga 3 Oktober 2023. Hajatan ini dibantu oleh PT NH Korindo Sekuritas Indonesia sebagai penjamin emisi efek.
Bersamaan dengan penawaran saham baru, Pulau Subur juga menerbitkan Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham baru yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal penjatahan.
Rasio saham dengan Waran Seri I yaitu 2 : 1, artinya setiap pemegang dua saham baru akan memperoleh satu Waran Seri I. Jumlah Waran Seri I yang diterbitkan maksimal 225 juta lembar dengan harga pelaksanaan Rp218. Sedangkan total hasil exercise Waran Seri I maksimal Rp49,50 miliar.
Baca Juga
Dikutip dari prospektus IPO, Manajemen PT Pulau Subur Tbk akan menggunakan dana IPO untuk belanja modal atau capex dengan porsi 50% dari hasil IPO.
Rencananya Perseroan akan membangun pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) kapasitas 10 ton per jam di mana lokasi pembangunan pabrik PKS berada di dalam Kawasan HGU milik Perseroan Desa Gelebak dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Pabrik akan dibangun pada tahun 2024.
Sisa 50% dana IPO akan digunakan untuk modal kerja pembelian Tandan Buah Segar (TBS), pemeliharaan jalan, pembelian traktor dan peralatan produksi.
Berdasarkan laporan keuangan periode 31 Maret 2023, PT Pulau Subur Tbk tercatat membukukan penjualan Rp 13,85 miliar dengan laba bersih tahun berjalan Rp 5,9 miliar. Perseroan optimistis kinerja akan terus meningkat seiring cerahnya prospek bisnis sawit.
Sebagia catatan, perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahannya saat ini merupakan salah satu pilar perekonomian Indonesia yang menyumbang devisa negara terbesar dengan nilai berkisar di angka Rp 300 triliun pada tahun 2017 dan 2018.
Dengan lokasi usaha yang mayoritas terletak di daerah terpencil dan sifat usaha yang padat karya, perkebunan kelapa sawit dan industrinya memberikan efek multiplier yang sangat besar dalam pembangunan infrastruktur dan perekonomian daerah serta menciptakan lapangan kerja yang relatif sangat besar.
“Melalui program-program plasma, kemitraan dan Corporate Social Resposibility (CSR), perkebunan kelapa sawit juga memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ekonomi masyarakat sekitar, termasuk pembangunan fasilitas sosial seperti tempat ibadah, sarana pendidikan dan fasilitas sosial lainnya,” demikian dikutip dari prospektus IPO Perseroan.

