Rupiah Butuh Pasokan Modal Asing US$ 11 Miliar di Semester II-2026, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia diperkirakan masih memerlukan tambahan arus modal asing (capital inflow) sebesar US$ 11 miliar ke pasar obligasi pemerintah sepanjang semester II-2026. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan keseimbangan eksternal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengungkapkan bahwa tantangan utama perekonomian nasional pada paruh kedua tahun ini bukan lagi semata-mata mengendalikan inflasi, melainkan memitigasi risiko dari melemahnya surplus perdagangan.
Padahal, indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan inflasi tahunan melandai menjadi 2,88% pada Juli 2026 (turun dari 3,34% pada bulan sebelumnya) dan aktivitas manufaktur kembali berekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) berada di level 50,2
.
Baca Juga
Meski demikian, fakta tersebut belum sepenuhnya membebaskan Indonesia dari tekanan eksternal. “Dalam kondisi saat ini, menjaga capital inflow menjadi prioritas. Indonesia masih membutuhkan sekitar US$ 11 miliar tambahan investasi portofolio pada semester kedua tahun ini agar keseimbangan eksternal tetap terjaga dan volatilitas rupiah dapat diminimalkan. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan investor global harus menjadi bagian penting dari strategi kebijakan ekonomi,” tegas Fakhrul dalam pernyataannya, Selasa (4/7/2026).
Tekanan Defisit
Fakhrul memproyeksikan defisit transaksi berjalan (current account deficit) pada kuartal II-2026 akan menyentuh angka US$ 7,7 miliar atau setara 2,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, Balance of Payments (Neraca Pembayaran) diperkirakan masih mencatatkan defisit sekitar US$ 2,6 miliar.
Proyeksi ini sejalan dengan kondisi neraca perdagangan nasional yang telah mengalami defisit berturut-turut pada Mei dan Juni 2026, sehingga pembiayaan eksternal menjadi krusial untuk menopang stabilitas rupiah.
“Inflasi yang lebih rendah tentu memberikan ruang yang lebih baik bagi daya beli masyarakat maupun stabilitas ekonomi. Namun kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa neraca perdagangan telah mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, sehingga tekanan terhadap transaksi berjalan dan Balance of Payments masih perlu diantisipasi,” terang Fakhrul.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Cetak Pemulihan di Semester I-2026, Saatnya Berburu Sahamnya?
Di samping tantangan domestik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat dipandang sebagai risiko utama bagi arus modal global. Apabila Bank Sentral AS (The Fed) kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar, persaingan dalam menarik investasi portofolio akan semakin ketat.
“Dalam situasi seperti itu, negara berkembang termasuk Indonesia harus mampu menjaga kredibilitas fiskal, stabilitas moneter, serta daya tarik pasar obligasi domestik,” bebernya.
Baca Juga
Anomali Moneter-Komoditas Global, Prospek Harga Emas, dan ETF Emas di Indonesia
Terlepas dari berbagai tantangan global tersebut, Fakhrul menilai fundamental ekonomi domestik Indonesia masih cukup solid untuk mengarungi semester II-2026. Meredanya tekanan harga pangan, pulihnya aktivitas manufaktur, dan meningkatnya kepercayaan dunia usaha menjadi modal positif bagi perekonomian nasional.
“Semester kedua 2026 akan menjadi periode menjaga keseimbangan. Di satu sisi kita mulai melihat pemulihan aktivitas ekonomi domestik, tetapi di sisi lain kita harus memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi portofolio yang kompetitif di tengah ketidakpastian global,” lanjutnya.
Ia menyimpulkan, stabilitas nilai tukar rupiah pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia dalam menjaga kepercayaan investor, baik melalui koordinasi fiskal dan moneter maupun komunikasi kebijakan yang konsisten.
