Indonesia Butuh Modal Asing US$ 11 Miliar, BI Disarankan Naikkan Suku Bunga pada RDG Juli 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memperkirakan Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal sekitar US$11 miliar hingga akhir tahun. Dana tersebut dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan stabilitas rupiah.
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) dinilai masih perlu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli guna mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.
“Menurut kami, Bank Indonesia masih perlu melanjutkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada RDG Juli. Ini bukan semata-mata karena kondisi pasar saat ini, tetapi karena BI sebelumnya telah menyampaikan pendekatan yang bersifat pre-emptive. Kredibilitas bank sentral dibangun ketika komunikasi tersebut diikuti oleh implementasi kebijakan,” kata Fakhrul kepada investortrust.id, Senin (20/7/2026).
Fakhrul menilai penguatan pasar keuangan Indonesia dalam sepekan terakhir merupakan sinyal positif. IHSG menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik di kawasan, sementara rupiah menguat dibandingkan mayoritas mata uang regional.
Menurutnya, sentimen positif tersebut didorong meningkatnya kepercayaan investor, termasuk setelah S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia di level investment grade BBB dengan outlook stabil.
“Pasar memang menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dalam satu minggu terakhir. Namun kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar. Karena itu, momentum positif ini justru perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel,” ucap Fakhrul.
Meski demikian, Fakhrul menekankan yang lebih penting dari kenaikan suku bunga adalah bagaimana BI mengelola ekspektasi pasar setelah keputusan tersebut diambil.
“Pasar saat ini membutuhkan kepastian mengenai di mana puncak siklus pengetatan moneter berada. Yang dibutuhkan bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi juga expectation guidance bahwa siklus pengetatan sudah mendekati akhir,” kata dia.
Menurutnya, selama belum ada kepastian akhir siklus pengetatan, suku bunga simpanan dan biaya pendanaan perbankan masih berpotensi naik sehingga tekanan likuiditas bertahan lebih lama.
Baca Juga
IHSG Sesi I Naik 0,86% ke Level 6.228 Terdorong Reli Saham Big Caps
“Dengan memberikan arahan bahwa kenaikan Juli merupakan bagian akhir atau mendekati akhir dari siklus pengetatan, ekspektasi pasar akan menjadi lebih netral. Hal tersebut akan membantu membatasi transmisi kenaikan suku bunga ke biaya dana perbankan dan mempercepat terbentuknya ekspektasi bahwa kondisi likuiditas akan mulai membaik dalam beberapa bulan ke depan,” bebernya.
Fakhrul menilai komunikasi yang jelas merupakan bagian penting dari kebijakan moneter modern karena ekspektasi pasar sering kali sama berpengaruhnya dengan perubahan suku bunga.
“Expectation guidance saat ini menjadi sama pentingnya dengan policy rate. Ketika pasar memahami arah kebijakan BI ke depan, proses penyesuaian di pasar uang, pasar obligasi, hingga sektor perbankan akan berlangsung lebih cepat dan lebih efisien,” jelas Fakhrul.
Ia juga menilai keberhasilan BI tidak hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga menormalisasi likuiditas tanpa membebani sektor keuangan.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar menaikkan suku bunga. Tujuannya adalah membawa pasar kembali ke kondisi yang lebih netral, menjaga kepercayaan investor, dan memastikan proses normalisasi likuiditas dapat berlangsung secara terukur tanpa mengganggu momentum pemulihan ekonomi,” tandas dia.
