Suku Bunga Siap-Siap Turun, Investor Disarankan Mengoleksi Produk Ini
JAKARTA, investortrust.id – Rencana Bank Sentral AS, The Fed, memangkas suku bunga acuan, Fed funds rate (FFR), mulai kuartal I-2024 akan berdampak positif terhadap produk-produk pasar modal. Produk apa saja yang bisa dikoleksi para investor?
“Kami menyambut 2024 dengan sangat optimistis karena skenario suku bunga yang akan turun,” kata Presiden Direktur Principal Asset Management, Naresh Krishnan kepada investortrust.id di Jakarta, Kamis (18/01/2023).
Baca Juga
Principal Asset Management Segera Luncurkan Tiga Produk Baru
Menurut Naresh, saat suku bunga turun, kelas aset yang diminati dan layak dikoleksi investor adalahreksa dana pendapatan tetap dan obligasi, baik obligasi korporasi maupun surat berharga negara (SBN).
“Begitu suku bunga The Fed dipangkas dan BI Rate turun,kita akan melihat limpahan aliran modal masuk(capital inflow) ke pasar ekuitas kita. Rupiah juga akan menguat,” ujar dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, BI sudah empat bulan mempertahankan suku bunga acuan, BI 7-days Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang kini kembali berganti nama menjadi BI Rate, di level 6%. BI secara bertahap menaikkan suku bunga acuan sejak Agustus 2022, dari 3,50% menjadi 3,75%. BI Rate terakhir kali dinaikkan sebesar 25 bps pada 19 Oktober 2023.
Sementara itu, The Fed menaikkan FFR secara agresif sejak Maret 2022 hingga Desember 2023 sebesar 525 bps, yaitu dari 0,25-0,50% menjadi 5,25-5,50%. Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir (Desember 2023), The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. The Fed digadang-gadang menurunkan FFR mulai kuartal I tahun ini.
Naresh Krishnan menjelaskan, China yang dianggap sebagai mesin ekonomi global tidak berhasil memenuhi ekspektasi dunia. Pertumbuhan ekonomi China dalam dua tahun terakhir melambat. Namun, penurunan FFR bisa menjadi sentimen positif, terutama jikageopolitik di Timur Tengah tidak memburuk.
“Apalagi kita akan melangsungkan pemilu. Ini bisa meningkatkan konsumsi domestik yang akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur dia.
Principal Asset Management, kata Naresh Krishnan, menyarankan investor berinvestasi pada obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan reksa dana pendapatan tetap. “Yield-nya akan sangat menarik, terutama saat suku bunga dalam tren turun,” tandas dia.
Baca Juga
Principal® Tunjuk Naresh Krishnan Presiden Direktur di Indonesia
Head of Investment Principal Asset Management, Marli Sanjaya menambahkan, ekonomi Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Saat ekonomi negara-negara lain melemah, bahkan terkontraksi, ekonomi Indonesia tetap tumbuh di level 5%.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa bertahan di 5%, itu karenasektor konsumsinya yang terus bertumbuh. Tahun ini kami yakin ekonomi Indonesia tumbuh lebih baik karena ada pemilu, di mana konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah akan meningkat,” papar dia.

