Pasar Saham Sedang Dilanda Turbulensi, Investor Disarankan Melakukan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham sedang dilanda turbulensi. Dalam kondisi pasar yang sangat fluktuatif ini, investor disarankan menunggu perkembangan dulu (wait and see). Jika masuk lantai bursa pun, investor sebaiknya melakukan trading terbatas secara selektif.
“Investor sebaiknya menahan diri dulu. Kalau pun masuk pasar, sebaiknya trading pendek-pendek aja dulu, menunggu sampai kondisi pasar stabil,” kata pengamat pasar modal yang juga konsultan investasi, pengajar, dan pendiri Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa, Hari Prabowo kepada investortrust.id di Jakarta, Minggu (28/4/2024).
Baca Juga
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus tertekan. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), IHSG melemah 3,25%. Di Asia, hanya bursa Indonesia, Thailand, dan Korea Selatan yang tertekan sejak awal tahun, sedangkan bursa AS menguat 1,05%.
Sentimen negatif di pasar saham antara lain berasal dari perang Iran-Israel dan ketidakpastian Bank Sentral AS, The Fed, atas kebijakan suku bunganya karena ekonomi AS belum belum menunjukkan pemulihan yang stabil.
Dari dalam negeri, investor masih menunggu pembentukan pemerintahan baru setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih hasil Pilpres 2024.
KPU menetapkan Prabowo-Gibran sebagai pemenang pemilu setelah gugatan sengketa pilpres yang diajukan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD ditolak Mahkamah Konstitusi (MK).
Pilih Saham secara Selektif
Menurut Hari Prabowo, dalam kondisi pasar yang sedang mengalami volatilitas tinggi seperti sekarang, pergerakan saham cenderung liar serta mengabaikan aspek-aspek teknikal dan fundamental. Apalagi dalam waktu bersamaan, nilai tukar rupiah juga terguncang.
“Itu sebabnya, investor mesti hati-hati mengambil posisi di pasar saat ini. Investor harus cermat betul memilih saham dengan pergerakan yang terukur. Pilihlah saham secara selektif,” ujar penulis buku Rahasia Harga Saham tersebut.
Hari menjelaskan, dalam kondisi pasar yang sedang bergejolak seperti sekarang, otoritas bursa sebaiknya tidak jorjoran mendorong korporasi untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
“Soalnya bisa terjadi mismatch antarasupply dan demand. Itu tidak baik bagi fundamental pasar saham kita ke depan,” tutur dia.
Hari Prabowo menambahkan, dalam ketidakpastian saat ini, sebagian investor dan fund manager lebih memilih untuk mengamankan aset-asetnya pada dolar AS dan emas sebagai instrumen investasi yang aman (safe haven).
Baca Juga
Harga Saham Volatil, Mirae Asset Sebut Reksa Dana Indeks bisa Jadi Pilihan
Hari juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini. Rupiah jatuh ke level psikologis Rp 16.200 per dolar AS dan terus menjauh dari asumsi makro APBN 2024 yang dipatok Rp 15.000.
Mata uang Garuda terpuruk seiring derasnya arus modal keluar dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN). Rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), Jumat (26/4/2024), berada di posisi Rp 16.222 per dolar AS, melemah dibanding hari sebelumnya di level Rp 16.208.
Data BI menunjukkan, dalam sepekan terakhir (22-25 April 2024), investor asing di pasar keuangan domestik mencatatkan penjualan bersih Rp 2,47 triliun, terdiri atasjual bersihRp 2,08 triliun di pasar SBN, jual bersih Rp 2,34 triliun di pasar saham, dan beli bersihRp 1,95 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama tahun berjalan (ytd), investor asing membukukan jual bersih Rp 47,26 triliun di pasar SBN, beli bersih Rp 9,68 triliun di pasar saham, dan beli bersih Rp 9,02 triliun di SRBI.
Seiring pelemahan rupiah, imbal hasil (yield) SBN 10 tahun naik ke level 7,07%, sedangkan indeks dolar AS (DXY) melemah ke level 105,60. Adapun yield obligasi pemerintah AS (US Treasury Note) tenor 10 tahun naik ke level 4,704%. Di sisi lain, premi credit default swap (CDS) Indonesia jangka lima tahun naik ke level 79,36 bps, dibandingkan 77,60 bps pada 19 April 2024.
Hari Prabowo menyayangkan keputusan BI menaikkan suku bunga acuan. Padahal, bank Sentral AS, The Fed, digadang-gadang tidak akan menaikkan suku buga (Fed funds rate/FFR) dalam waktu dekat. The Fed masih menahan FFR di level 5,25-5,50%.
“BI terlalu cepat merespons gejolak rupiah dengan menaikkan BI-Rate. Harusnya ditunggu dulu karena gejolak yang terjadi ini bukan dipicu fundamental, tapi lebih karena isu eksternal, seperti meningkatnya tensi geopolitik akibat perang Iran-Israel. Dari dalam negeri, sentimen pasar banyak dipengaruhi oleh isu hasil pemilu,” papar dia.
Karena itu, menurut Hari Prabowo, BI harus betul-betul disiplin menerapkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mengimbangi kenaikan suku bunga. “BI harus disiplin, termasuk dalam intervensi di pasar valas,” tandas dia.
Stimulus untuk Jaga Daya beli
Di pihak lain, kata Hari, pemerintah perlu menempuh langkah-langkah antisipasi, misalnya dengan memberikan stimulus fiskal untuk mengamankan sektor riil dan menjaga daya beli masyarakat.
“Rezim suku bunga tinggi bisa memberikan tambahan risiko. Perbankan bisa terkena dampaknya karena kredit bermasalah (non performing loans/NPL) dan kredit berisiko (loan at risk/LaR) akan meningkat. Sektor riil akan kesulitan mendapat kredit dari perbankan karena suku bunga tinggi,” tegas dia.
Baca Juga
Dua Pekan, Investor Asing Net Sell Saham hingga Rp 16,63 triliun
Hari Prabowo mengemukakan, jika tidak diantisipasi lebih lanjut, tekanan terhadap rupiah dapat menimbulkan efek spiral yang lebih kuat di pasar saham.
“Investor asing bisa semakin kencang keluar dari pasar. Pasar akan semakin tertekan, sehingga akan direspons kembali dengan aksi jual lebih lanjut oleh investor asing,” ujar Hari Prabowo.
BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 24 April 2024 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00%. BI sudah enam bulan mematok BI-Rate di level 6%.
“BI-Rate dinaikkan untuk memperkuat stabilitas rupiah dari dampak memburuknya risiko global serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi dalam sasaran 2,5±1% sejalan dengan stance kebijakan moneter yang pro-stability,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo saat mengumumkan kebijakan tersebut.
Menurut Perry Warjiyo, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Langkah yang ditempuh BI antara lain menaikkan struktur suku bunga di pasar uang rupiah sejalan dengan kenaikan BI-Rate serta meningkatnya yield US Treasury dan premi risiko global untuk menjaga daya tarik imbal hasil dan aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Langkah lainnya, kata Perry, adalah meningkatkanstabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar valas pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan SBN di pasar sekunder. Selain itu, BI melakukan penguatan strategi transaksi term-repo SBN dan swap valas yang kompetitif guna menjaga kecukupan likuiditas perbankan.
“Kami juga terus menguatkan strategi operasi moneter yang pro-market untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter, termasuk optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI),” papar Perry Warjiyo.
Di sisi lain, kata Perry, BI terus menguatkan implementasi kebijakan makroprudensial longgar untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Gubernur BI menjelaskan, kebijakan makroprudensial longgar di antaranya dilakukan dengan memperkuat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan melalui perluasan cakupan sektor prioritas.
“Sektor prioritas yaitu sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estat produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, listrik-gas-air bersih (LGA), dan jasa social, serta penyesuaian besaran insentif untuk setiap sektor yang berlaku mulai 1 Juni 2024,” tutur dia.
BI, menurut Perry Warjiyo, juga mempertahankan Rasio Countercyclical Capital Buffer (CCyB) sebesar 0%, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada kisaran 84-94%, Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 5% dengan fleksibilitas repo 5%, dan rasio PLM Syariah sebesar 3,5% dengan fleksibilitas repo 3,5%.
Perluasan KLM digadang-gadang dapat memberikan insentif likuiditas kepada perbankan sebesar Rp 280 triliun sepanjang tahun ini.
Insentif tersebut meliputi:
1. Insentif atas kredit atau pembiayaan kepada sektor hilirisasi paling tinggi 0,8% di antaranya industri hilirisasi minerba sebanyak 16 industri, dan sektor hilirisasi non minerba 16 industri.
2. Insentif untuk sektor perumahan paling tinggi 0,4% terhadap sektor perumahan yang termasuk perumahan rakyat yang terdiri dari 5 sektor.
3. Insentif untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif paling tinggi 0,5% yang diberikan terhadap 16 sektor.
4. Insentif untuk sektor otomotif, perdagangan, LGA dan jasa sosial paling tinggi 0,5% terhadap 8 sektor.
5. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan inklusif termasuk kredit usaha rakyat atau KUR paling tinggi 1%.
6. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan ultra mikro sebesar 0,3%.
7. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan hijau sebesar 0,5%.

