Bobot Indonesia di MSCI Terus Menyusut, Inilah Risikonya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penyusutan bobot Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai menjadi salah satu persoalan serius yang perlu mendapat perhatian regulator dan pelaku pasar.
Mengingat, semakin kecil bobot Indonesia di indeks global tersebut, semakin kecil pula potensi aliran dana investasi pasif (passive fund) yang masuk ke pasar saham nasional.
Wakil Presiden Direktur Samuel Sekuritas, Suria Dharma memaparkan, bobot Indonesia di indeks MSCI kini hanya sekitar 0,57%. Padahal beberapa tahun lalu, sempat melampaui 3%, dan masih menggenggam porsi sekitar 1,1% per November 2025.
Ia juga mengungkapkan penyusutan kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia, dari US$ 113.063 per November 2025 menjadi US$ 57.569 per Mei 2026.
Selain itu, jumlah konstituen dalam indeks MSCI Global Standard Indonesia ikut menyusut, dari 18 emiten pada November 2025 menjadi hanya 11 emiten per Mei 2026. Jumlah ini diperkirakan masih akan berkurang lagi pada evaluasi Agustus 2026.
“Pada Agustus nanti kemungkinan masih akan turun lagi karena berdasarkan simulasi yang saya lakukan, ada potensi lebih banyak saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks MSCI. Ini merupakan sesuatu yang serius,” ujar Suria dalam Investortrust Discussion Forum: Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi-Fiskal, di Habitate Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Dia menyebutkan bahwa penurunan bobot dimaksud, masih berkaitan dengan pembekuan (freeze) proses review saham Indonesia oleh MSCI. Selama pembekuan berlangsung, peluang emiten Indonesia untuk masuk ke dalam indeks menjadi sangat terbatas dengan jumlah konstituen berpotensi terus berkurang.
Pengaruh Besar MSCI
Besarnya perhatian pelaku pasar terhadap keputusan MSCI tidak terlepas dari posisi lembaga tersebut, sebagai salah satu penyedia indeks saham terbesar di dunia yang menjadi acuan investor global.
Suria menjelaskan, saat ini ada sekitar US$ 21 triliun aset kelolaan (assets under management/AUM) menggunakan indeks saham MSCI sebagai tolok ukur investasi. MSCI juga telah memiliki pengalaman lebih dari 55 tahun dalam penyusunan indeks dan analisis pasar modal.
Selain itu, sekitar US$ 2,4 triliun aset Exchange Traded Fund (ETF) di seluruh dunia, terhubung dengan indeks-indeks yang diterbitkan MSCI. Setiap hari, perusahaan ini menghitung lebih dari 290 ribu indeks saham, dengan sekitar 18.500 indeks diperbarui secara real time.
“Skala MSCI yang sangat besar inilah yang membuat setiap keputusan mereka memiliki dampak signifikan terhadap aliran investasi global, termasuk ke Indonesia," tegas Suria.
Baca Juga
Samuel Sekuritas: Selama Freeze MSCI Berlaku, Dana Asing Baru Sulit Masuk
Pengaruh MSCI juga didukung oleh struktur pemegang saham perusahaan yang didominasi lembaga investasi terbesar di dunia. Berdasarkan data pemegang saham MSCI Inc. pada 2026, The Vanguard Group menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sekitar 12,8%.
Posisi berikutnya ditempati BlackRock Inc dengan kepemilikan sekitar 8%, disusul State Street Corporation sebesar 4,3%.
Sementara itu, Bamco Inc. (Baron Capital) tercatat memiliki sekitar 3,7% saham MSCI, sedangkan Geode Capital Management LLC menguasai sekitar 2,7%.
Suria Dharma menilai komposisi kepemilikan tersebut semakin menunjukkan bahwa MSCI berada di bawah pengaruh institusi keuangan global dengan aset kelolaan yang sangat besar. Karena itu, setiap perubahan metodologi maupun keputusan terkait suatu negara akan menjadi perhatian utama para investor internasional.
Suria menambahkan, perubahan cara investor global berinvestasi juga membuat posisi Indonesia di MSCI semakin penting. Jika sebelumnya investor aktif masih melakukan analisis valuasi terhadap masing-masing perusahaan, kini semakin banyak investor yang mengandalkan indeks sebagai acuan investasi.
Kelompok investor yang dinilai paling terpengaruh pemeringkatan global adalah pengelola dana pasif (passive fund), yang mengelola investasi berdasarkan komposisi indeks. Dana ini cenderung bertahan sepanjang suatu saham masih menjadi anggota indeks, namun akan otomatis keluar ketika saham tersebut dikeluarkan.
Baca Juga
Samuel Sekuritas: Fiskal Indonesia Masih Terjaga, Pasar Tunggu Keputusan MSCI
“Karena itu perusahaan-perusahaan sangat berkepentingan untuk masuk ke dalam indeks MSCI. Passive fund tidak keluar-masuk seperti active fund yang lebih fleksibel melakukan transaksi,” jelasnya.
Suria pun menyimpulkan, perlu kesamaan visi antara regulator dan penyedia indeks pasar saham global, agar semakin banyak perusahaan Indonesia memenuhi persyaratan untuk masuk ke indeks global seperti MSCI maupun FTSE.
