Bagikan

Menanti Rebalancing MSCI Pekan Depan, Akankah Bobot Bank KBMI IV Dinaikkan?

Poin Penting

MSCI Mei 2026 tanpa konstituen baru, BREN dan DSSA berpotensi keluar
Bobot saham bank KBMI IV diperkirakan naik di tengah kebijakan freeze
Saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA menguat dalam tiga hari terakhir

JAKARTA, investortrust.id Agenda rebalancing MSCI Indonesia pada 12 Mei 2026 atau pekan depan diperkirakan tidak menghadirkan pendatang baru, namun membuka peluang pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pasar. Diprediksi bobot saham bank KBMI IV akan meningkat yang diharapkan berdampak terhadap harga sahamnya.

Peluang kenaikan bobot tersebut disebut sebagai salah satu faktor pendongkrak harga saham bank KBMI IV dalam tiga hari terakhir, bahkan kenaikan tersebut berimbas terhadap penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah menguat 5,02%.

Baca Juga

Waspada 12 Mei, MSCI Berpotensi Keluarkan Saham RI, IHSG Terancam Ditekan Outflow Asing?

Kenaikan juga melanda saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebanyak 3,76% dalam tiga hari terakhir. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 2,96% dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,14%.

Investment Specialist KISI Sekuritas Ahmad Faris Mu’tashim menjelaskan bahwa pengumuman MSCI pada minggu ketiga April menegaskan rebalancing pada 12 Mei 2026 tetap dalam kondisi pembekuan atau freeze. Selain itu, penerapan kriteria baru melalui high shareholding soncentration (HSC) list membuat saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpotensi dikeluarkan dari indeks.

Rebalancing Mei ini diperkirakan tidak ada konstituen baru, kemungkinan hanya mengumumkan adanya exclude untuk saham BREN dan DSSA,” ujarnya kepada Investortrust di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Baca Juga

Pengakuan MSCI Diharapkan Jadi Momentum Perkuat Kepercayaan Investor Global

Kondisi ini, terang dia, membuat bobot saham lain dalam indeks MSCI berpotensi meningkat secara persentase, meskipun tanpa adanya aliran dana baru yang signifikan. Faris memperkirakan hingga kebijakan freeze belum dicabut, bobot saham sektor perbankan akan cenderung meningkat. Adapun inklusi saham baru baru diperkirakan mulai terbuka pada rebalancing November 2026.

Dari sisi sektoral, Faris mengingatkan, bahwa kinerja perbankan masih menghadapi tantangan, terutama dari perlambatan pertumbuhan kredit dan tingginya undisbursed loan. Secara teknikal, saham bank besar seperti BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA masih bergerak dalam rentang support dan resistance masing-masing.

Fase Evaluasi

Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai review MSCI pada 12 Mei 2026 tetap berjalan secara rutin, namun dalam konteks berbeda akibat Indonesia masih berada dalam fase evaluasi pasca reformasi pasar modal.

Menurutnya, perubahan komposisi indeks MSCI kali ini cenderung tidak agresif. Peluang penambahan saham baru terbatas, karena MSCI masih mencermati aspek free float dan likuiditas. Sebaliknya, potensi pengurangan konstituen justru menjadi perhatian utama, terutama bagi saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi seperti BREN dan DSSA.

Baca Juga

MSCI ‘Rem’ Saham RI: Reformasi Diakui, Tapi Dana Asing Masih Tertahan”

“Jika terjadi, dampaknya lebih berupa outflow spesifik pada saham terkait yang dikeluarkan dari daftar MSCI, bukan perubahan besar terhadap keseluruhan indeks,” jelasnya.

Elandry menambahkan, meski terdapat ruang peningkatan bobot saham lain termasuk bank KBMI IV, kenaikannya diperkirakan tidak signifikan, karena MSCI masih dalam tahap penyesuaian metodologi.

Untuk prospek saham perbankan, ia menilai penguatan yang terjadi belakangan lebih bersifat teknikal, seiring meredanya tekanan eksternal. Dalam jangka pendek, pergerakan saham bank masih berpotensi fluktuatif karena minim katalis dari MSCI.

Namun secara fundamental, kinerja bank besar tetap solid. BBCA dinilai defensif dan stabil, BBRI memiliki leverage pada segmen mikro, BMRI seimbang dari sisi portofolio bisnis, sementara BBNI menawarkan valuasi menarik dengan volatilitas lebih tinggi.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024