Di Tengah Konflik Iran-Israel, Akankah Harga BBM Subsidi Dinaikkan? Ini Kata Pakar
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan konflik Iran-Israil berpotensi menaikkan harga minyak dunia yang akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Alasannya, lokasi konflik di sekitar Selat Hormuz akan mengganggu jalur supply chain minyak dunia sehingga menghambat pasokan minyak dan menaikkan biaya distribusi yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Apalagi sebelum pecah konflik harga minyak dunia sudah naik pada kisaran US$ 89 per barel, potensi kenaikan harga minyak dunia akan berlanjut saat eskalasi ketegangan Iran-Israel meluas,” kata Fahmy kepada investortrust.id, Minggu (28/4/2024).
Sebagai negara net-importer, Fahmy mengataka kenaikan harga minyak dunia sudah pasti akan berpengaruh terhadap harga BBM di Indonesia, bahkan berpotensi di atas asumsi ICP (Indonesian Crude Price) asumsi APBN 2024 yang ditetapkan sebesar US$ 82 per barel.
Dalam kondisi ketidakpastian harga minyak dunia, Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Erlangga Hartarto menjamin bahwa Pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM Subsidi sampai Juni 2024, Pemerintah hanya akan melakukan penyesuaian arah subsidi energi.
Baca Juga
Harga Minyak Bisa Tembus US$ 100 per Barel, Ini Faktor Penyebabnya
Jika eskalasi konflik Iran-Israel meluas, lanjut Fahmy, tidak bisa dihindari harga minyak dunia akan melambung, bahkan bisa mencapai di atas US$ 100 per barel. “Dalam kondisi tersebut, Pemerintah dihadapkan pada dilema dalam penetapan harga BBM di dalam negeri. Kalau harga BBM Subsidi tidak dinaikkan, beban APBN akan membengkak,” katanya.
Di samping itu, lanjut dia, kenaikan harga minyak dunia akan semakin menguras devisa untuk membiayai impor BBM. Ujung-ujungnya makin memperlemah kurs rupiah terhadap dolar AS, yang sudah menembus Rp 16.000 per dolar AS.
“Kalau harga BBM Subsidi dinaikkan, sudah pasti akan memicu inflasi yang menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sehingga menurunkan daya beli rakyat,” ujar Fahmy.
Dalam kondisi ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik Iran-Israel, Fahmy mengingatkan pemerintah jangan memberikan PHP (Pemberian Harapan Palsu) kepada rakyat dengan menjamin bahwa harga BBM Subsidi tidak akan dinaikkan hingga Juni 2024.
Baca Juga
Pemerintah Tahan Harga BBM hingga Juni Meski Timur Tengah Bergejolak, Ternyata Ini Alasannya
Menurut dia, pemerintah sebaiknya mengambil keputusan realistis berdasarkan indikator terukur, salah satunya harga minyak dunia. “Kalau harga minyak dunia masih di bawah US$ 100 per barel, harga BBM Subsidi tidak perlu dinaikkan. Namun, kalau mencapai di atas US$ 100 per barel, harga BBM Subsidi sebaiknya dinaikkan, sembari memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin yang terdampak,” kata Fahmy.

