Indonesia Mau Tanam Benih Padi dari Cina, Ternyata Ini Risikonya
JAKARTA, investortrust.id - Rencana pemerintah untuk bekerja sama dengan Cina mengembangkan teknologi pembibitan padi seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjadi sorotan. Menurut ekonom pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori, menghadirkan benih dari negara lain, termasuk dari China, tidak selalu menjadi solusi dari permasalahan pertanian di Indonesia.
"Sebab, dibutuhkan proses adaptasi yang panjang, mulai dari adaptasi iklim atau cuaca, sifat tanah, dan hama penyakit. Proses adaptasi bisa lama bisa pendek, dan tak selalu berhasil. Bisa juga mengalami kegagalan,” katanya melalui pesan instan kepada Investortrust dikutip Rabu (24/4/2024).
Baca Juga
Pada pertemuan ke-4 High-Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi beberapa waktu lalu, Luhut meminta Cina melakukan transfer teknologi terutama bidang pembibitan padi. Jika permintaan tersebut terealisasi, Negeri Tirai Bambu nantinya akan mengembangkan lahan pertanian padi di Kalimantan Tengah.
Butuh Keterlibatan Ahli Lokal
Lebih dari itu, Khudori menyebut proses adaptasi benih yang didatangkan dari luar negeri juga membutuhkan masukan dari ahli-ahli lokal agar berhasil. Tanpa keterlibatan ahli-ahli lokal, peluang benih tersebut untuk bisa bertahan atau sukses sangat kecil.
Kemudian yang tak kalah penting, perlu diperhatikan bahwa Cina bukanlah negara tropis dengan dua musim seperti halnya Indonesia. Cina dengan empat musimnya tentu saja memiliki karakter budidaya, karakter tanah, serta pola iklim atau cuaca yang jelas berbeda dengan Indonesia.
“Ahli di Cina bisa saja jagoan dalam pertanaman padi di sana. Tapi, ketika teknologi serupa diterapkan di Indonesia belum tentu berhasil. Hal ini mesti disadari para pengambil kebijakan,” ujar Khudori.
Baca Juga
Bulog Tambah Impor Beras 300 Ribu Ton dari Thailand dan Pakistan
Khudori memberikan contoh kegagalan benih padi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Pada 2007, benih padi hibrida asal Cina masuk, diimpor oleh pemerintah, dan dibagikan sebagai bagian dari bantuan benih kepada petani. Ternyata hasilnya tidak menggembirakan.
Di beberapa tempat, padi hibrida yang ditanam petani terserang penyakit. Ini menandakan, tidak mudah mengintroduksi sistem usaha tani, karena dibutuhkan inovasi tambahan seperti inovasi ketahanan penyakit.
“Wapres Jusuf Kalla pada 2007 pernah ke Cina dan kepincut dengan benih hibrida Cina. China memang tersohor soal ini, karena di sana ada pengembangan/penemu benih hibrida yang termasyhur di dunia, Yuang Longping. Produktivitas padi diklaim bisa 16 ton/ha. Bahkan pada saat itu ada kerja sama perusahaan Cina dengan perusahaan Indonesia di bidang perbenihan,” papar Khudori.
Terkait dengan produktivitas padi di China, Khudori tak menampik bahwa produktivitasnya masih lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Tetapi perlu diingat juga bahwa produktivitas padi petani Indonesia jauh meninggalkan petani Vietnam, dan Thailand.
“Indonesia hanya kalah dari Cina. Produktivitas di Cina tinggi karena lebih dari separuh benih yang ditanam benih padi hibrida. Sebaliknya, benih padi hibrida di Indonesia masih kecil porsinya,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Khudori berharap ada inisiatif dari para pengembang benih padi lokal untuk menciptakan benih padi yang tahan genangan 21 hari, dengan tingkat ketahanan (survival rate) 90% atau kelebihan lainnya. Benih dengan karakteristik ini memang dirakit untuk menjawab masalah yang dihadapi oleh para petani.

