Meski Likuiditas Ketat, Pertumbuhan Kinerja BRI (BBRI) Diprediksi Tetap Kuat
JAKARTA, investortrust.id – RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 7.000. Rekomendasi tersebut mempertimbangkan pertumbuhan kredit segmen korporasi dan konsumer yang kuat di tengah pengetatan likuiditas perbankan dalam dua bulan tahun 2024.
Dengan harga penutupan saham BBRI akhir pekan lalu level Rp 5.650, terbuka peluang penguatan saham bank dengan kapitalisasi terbesar kedua di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 23,89% menuju level Rp 7.000.
Baca Juga
BRI Sambut Baik Keputusan OJK Hentikan Kebijakan Restrukturisasi Kredit Terdampak Covid-19
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dalam riset yang diterbitkan pekan lalu menyebutkan bahwa perseroan berhasil mempertahankan pertumbuhan kredit mencapai 12,6% hingga akhir Februari 2024. Angka tersebut sudah sesuai dengan perkiraan dengan penopang utama kredit korporasi, khususnya BUMN.
Begitu juga dengan kredit konsumer diperkirakan tetap kuat tahun ini dengan pertumbuhan mencapai 13-14% didukung perbaikan ekonomi dan penguatan daya konsumsi masyarakat. Meski demikian, RHB Sekuritas menyebutkan bahwa sektor perbankan, termasuk BRI, akan menghadapi kenaikan biaya dana akibat pengetatan likuiditas.
Estimasi Kinerja Keuangan BRI
Meski demikian, dia mengatakan, kenaikan biaya dana tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap CoF perseroan tahun ini. Apalagi terbuka peluang Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan likuiditas. Sedangkan rencana penurunan tingkat suku bunga perbankan diharapkan berimbas terhadap penguatan margin keuntungan bersih (NIM) perseroan.
RHB Sekuritas memperkirakan laba bersih BRI akan lanjutkan pertumbuhan menjadi Rp 69,75 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 60,1 triliun. Sedangkan PPOP diharapkan meningkat dari Rp 106,50 triliun menjadi Rp 123,62 triliun.
Sebelumnya, tim riset RHB Sekuritas outlook pertumbuhan kredit bank kuat setelah pemilu satu putaran rampung. Hal ini didapatkan dari hasil pertemuan dengan sejumlah manajemen bank.
Baca Juga
Cuan di Bulan Ramadan, BBRI Bayarkan Dividen Tunai Rp35,43 Triliun
Meski demikian tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) bank berpotensi berlanjut setidaknya hingga ada pelonggaran aturan GWM atau penurunan tingkat suku bunga perbankan. Penurunan NIM memang bisa memicu keuntungan bank kuartal I tahun ini lebih rendah dari perkiraan.
Tekanan terhadap NIM dipengaruhi ketatnya likuiditas selama periode lebaran dan pembagian dividen. “Kami menduga peningkatan permintaan kredit ditambah likuiditas ketat memperbesar tekanan terhadap NIM bank kuartal I tahun ini,” terangnya.

