Pertumbuhan Kinerja Sektor Bank Diprediksi Tetap Kuat, Bagaimana dengan Target Harga Sahamnya?
JAKARTA, Investortrust.id – Emiten sektor perbankan diprediksi bertumbuh lebih pesat pada paruh kedua tahun ini, dibandingkan semester I-2023. Penguatan didukung atas likuiditas perbankan yang masih kuat dan pertumbuhan kredit lebih baik sepanjang semester II-2023.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi mengatakan, likuiditas sistem perbankan nasional memadai dan Indonesia berpotensi mencatatkan peningkatan belanja fiskal pada semester II-2023 yang akhirnya berimbas terhadap pertumbuhan kredit.
Baca Juga
Emiten CUAN Milik Prajogo Pangestu Ekspansi ke Tambang Batu Bara Metalurgi dan Emas
“Kami juga percaya bahwa bank-bank dalam coverage kami dapat menyerap potensi risiko NPL yang lebih tinggi dan peluang penugatan NIM pada 2023, terutama bagi bank-bank besar di tengah kondisi suku bunga yang tinggi, membuka jalan bagi pertumbuhan rata-rata laba sebesar 14,8% tahun 2023,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Terkait kinerja keuangan emiten sektor bank hingga Juli 2023, Samuel Sekuritas menyebutkan, pertumbuhan gabungan bank yang sudah merilisi kinerja keuangan mencapai 18,7% menjadi Rp 105,6 triliun. Pertumbuhan positif ini terutama didorong oleh penurunan biaya provisi menjadi Rp 26,8 triliun.
Baca Juga
Hari Ini, BRI Danareksa Sekuritas Jagokan Empat Saham Berikut
Rata-rata pendapatan bunga bersih (NII) bank mencapai 6,5% didukung oleh pertumbuhan kredit mencapai 9,7% hingga Juli 2023. Sementara NIM tetap stagnan pada angka 5,06%. Sedangkan likuiditas perbankan Indonesia masih besar dengan LDR gabungan sebesar 83,5% pada Juli-23.
Sedangkan emiten bank digital kembali membukukan penurunan NIM Bank digital dalam coverage. Tren bulanan biaya provisi bank-bank tersebut juga beragam, meskipun ada kenaikan secara kumulatif yang besar hingga Juli 2023.
Baca Juga
Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor perbankan dengan pilihan teratas saham BMRI dengan target harga Rp 7.000 dan saham BBNI dengan target harga Rp 11.500.
”Kami memilih BMRI sebagai top pick kami, karena coverage yang memadai, pertumbuhan kredit yang kuat dan membaiknya kualitas aset, dan ekspansi NIM didukung CASA yang kuat,” tulisnya.

