Pemegang Saham Bakrie Plantations (UNSP) Setujui Tiga Agenda RUPST, Apa Saja?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Para pemegang saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyetujui secara bulat tiga agenda rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan yang digelar di Jakarta, Selasa (30/6/2026). Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) itu optimistis akan kembali bangkit dan menjadi salah satu perusahaan perkebunan dengan fundamental kuat.
Direktur & Investor Relations UNSP, Andi W Setianto mengungkapkan, RUPST UNSP membahas tiga agenda. Pertama yaitu persetujuan dan pengesahan laporan tahunan, termasuk laporan keuangan serta laporan pengawasan dewan komisaris tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Agenda kedua, menurut Andi, adalah persetujuan dan pengesahan neraca dan perhitungan laba - rugi tahun buku 2025 yang berakhir pada 31 Desember 2025. Adapun agenda ketiga yaitu penunjukan dan penetapan akuntan publik untuk melakukan audit atas laporan keuangan perseroan tahun buku 2026.
Baca Juga
Kinerja Makin Meyakinkan, Bakrie Plantations (UNSP) Balikkan Rugi Jadi Laba
“Kehadiran pemegang saham dalam RUPST mencapai 54,55% dari seluruh saham yang telah dikeluarkan UNSP. Dengan demikian, RUPST memenuhi kuorum, dan 100% pemegang saham yang hadir menyetujui seluruh mata acara RUPST," kata Andi Setianto dalam rilis yang diterima investortrust.id, Selasa (30/6/2026) malam.
Andi menjelaskan, penyelenggaraan RUPST telah dilaksanakan sesuai ketentuan anggaran dasar perseroan dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 15/POJK.04/2020 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka.
Dia menambahkan, pemanggilan rapat beserta agenda telah diumumkan melalui eASY.KSEI, situs Bursa Efek Indonesia (BEI), dan situs resmi perseroan pada 8 Juni 2026. “Usai memperoleh persetujuan pemegang saham, manajemen memaparkan kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025 yang menunjukkan perbaikan di hampir seluruh indikator operasional,” ujar dia.
Pada 2025, kata Andi Setianto, UNSP membukukan pendapatan Rp2,56 triliun, meningkat 10% dibandingkan Rp2,33 triliun pada 2024. Laba kotor naik 25% menjadi Rp757 miliar dari Rp605 miliar, sedangkan laba operasi melonjak 86% menjadi Rp388 miliar dari Rp209 miliar pada tahun sebelumnya.
Dia mengemukakan, di sisi profitabilitas operasional, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tumbuh paling tinggi, yakni 48% menjadi Rp551 miliar dibandingkan Rp372 miliar pada 2024. “Kenaikan tersebut menunjukkan semakin efisiennya operasional perseroan di tengah upaya peningkatan produktivitas aset perkebunan dan pabrik,” tutur dia.
Andi menerangkan, momentum positif itu berlanjut pada awal 2026. Hingga kuartal I-2026, pendapatan meningkat 13% menjadi Rp561 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laba kotor naik 22% menjadi Rp162 miliar, laba operasi melesat 49% menjadi Rp70 miliar, sedangkan EBITDA tumbuh 24% menjadi Rp109 miliar.
"Perbaikan kinerja tersebut merupakan hasil berbagai langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas aset. Perseroan terus bekerja keras meningkatkan produktivitas aset kebun, di antaranya melalui peremajaan menggunakan bibit unggul. Optimalisasi produktivitas pabrik juga dilakukan lewat pembelian buah sawit dari petani yang tidak memiliki pabrik. Ini sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan mereka," papar dia.
Dia menegaskan, UNSP juga konsisten menerapkan prinsip keberlanjutan melalui standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kebijakan zero burning diterapkan dalam kegiatan perkebunan, disertai upaya meningkatkan kesejahteraan petani, menerapkan ekonomi sirkular, serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
"Perseroan mengikuti protokol ISPO yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan, di antaranya melalui kebijakan zero burning. Keberlanjutan di industri sawit juga mencakup peningkatan kesejahteraan petani, penerapan ekonomi sirkular, serta pengurangan emisi gas rumah kaca," ucap dia.
Baca Juga
Dalam jangka panjang, menurut Andi Setianto, UNSP mengandalkan pengembangan bibit unggul sebagai salah satu strategi utama meningkatkan produktivitas tanpa perlu memperluas lahan. Bibit unggul yang telah disertifikasi perseroan berpotensi menghasilkan sekitar 10 ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per ha per tahun, jauh di atas rata-rata produktivitas sawit nasional sekitar 3 ton CPO per ha per tahun.
Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto mengatakan, strategi peningkatan produktivitas yang sedang dijalankan UNSP akan semakin memperkuat fundamental bisnis perseroan.
"Melanjutkan fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan melanjutkannya dengan langkah konkret meningkatkan produktivitas aset lainnya serta memperbaiki struktur permodalan,” ujar dia.
Bayu Irianto optimistis dalam jangka menengah dan panjang, perseroan akan kembali bangkit dan menjadi salah satu perusahaan perkebunan dengan fundamental bisnis yang kuat.
