Bakrie Plantations (UNSP) Bukukan Laba Operasi Rp 388 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) membukukan lonjakan laba operasi sebesar 86% menjadi Rp 388 miliar pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan Bakrie Plantations tahun silam naik 10% menjadi Rp 2,56 triliun.
“Penjualan perseroan ditopang komoditas sawit dengan nilai penjualan Rp 2,41 triliun dan komoditas karet Rp 151 miliar,” kata Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id, Jumat (3/4/2026).
Menurut Bayu Irianto, Bakrie Plantations terus bekerja keras meningkatkan produktivitas aset kebun, di antaranya melalui peremajaan menggunakan bibit unggul. Langkah itu ditempuh di tengah meningkatnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia dari level rata-rata bulanan US$ 1.082 per ton CIF (cost, insurance, and freight) Rotterdam pada 2024 menjadiUS$ 1.221 pada 2025.
“Optimalisasi produktivitas pabrik juga dilakukan dengan pembelian buah sawit dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” ujar dia.
Baca Juga
Melesat 130%, Laba Operasi Bakrie Plantations (UNSP) Tembus Rp 310 Miliar
Direktur & Investor Relations UNSP, Andi W Setianto menambahkan, perseroan mengikuti protokol Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan, di antaranya kebijakan zero-burning (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan.
“Keberlanjutan di sawit mencakup banyak aspek people dan planet, seperti menyejahterakan petani sesuai Sustainable Development Goals (SDG’s) no-poverty, zero-waste sesuai circular economy, dan no-deforestation reduksi emisi gas rumah kaca untuk climate change,” papar dia.
Penggunaan Bibit Unggul
Bayu Irianto mengungkapkan, UNSP telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Saat ini, produktivitas sawit nasional hanya sekitar 3 ton CPO per ha per tahun.
“Dengan bibit unggul, potensi produktivitas bisa meningkat setelah program peremajaan (replanting). Bibit unggul UNSV bisa menghasilkan 10 ton CPO per ha per tahun, dengan produksi 40 ton buah sawit per ha per tahun dan ekstraksi CPO 25% sesuai hasil lapangan bibit unggul yang sudah disertifikasi,” tutur dia.
Dengan menggunakan bibit unggul, menurut Bayu Irianto, luas lahan kebun tidak perlu bertambah karena lahan yang ada mampu menghasilkan produksi CPO berlipat ganda. “Bibit unggul juga mampu meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional,” tegas dia.
Bayu menjelaskan, bibit unggul dan program peremajaan sawit rakyat merupakan kunci kesejahteraan petani dan produktivitas sawit yang berkelanjutan. Strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan perseroan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.
Baca Juga
“Menindaklanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkret berupa peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan,” tandas dia.
Bayu Irianto optimistis dalam jangka menengah dan panjang, Bakrie Plantations akan kembali bangkit menemukan momentum terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat.
Bakrie Plantations tahun lalu mencatatkan pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 8% menjadi Rp 551 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, dengan peningkatan laba kotor sebesar 25% menjadi Rp 757 miliar. Berdasarkan laporan keuangan UNSP kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk anjlok 88,37% dari Rp 138,88 miliar menjadi Rp 16,15 miliar.

