Kinerja Makin Meyakinkan, Bakrie Plantations (UNSP) Balikkan Rugi Jadi Laba
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan kinerja yang makin meyakinkan pada kuartal I-2026 dibanding kuartal I-2025. Pada periode tersebut, perseroan berhasil membalikkan rugi Rp 223,79 miliar menjadi laba Rp 3,24 miliar.
Pada Januari-Maret 2026, penjualan UNSP naik 13% menjadi Rp 561 miliar, laba kotor meningkat 22% ke Rp 162 miliar, dan laba operasi melonjak 49% menjadi Rp 70 miliar dibanding Januari-Maret 2025. Sejalan dengan itu, laba bersih sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tumbuh 24% ke Rp 109 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi UNSP kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 3,24 miliar, perseroan mencetak laba per saham Rp 1,30 dibanding sebelumnya rugi per saham Rp 89,52.
“Penjualan perseroan ditopang komoditas sawit dengan nilai Rp 534 miliar dan komoditas karet Rp 27 miliar,” kata Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto dalam keterangan pers yang diterima investortrust.id, Senin (4/5/2026).
Baca Juga
Bakrie Plantations (UNSP) Bukukan Laba Operasi Rp 388 Miliar
Direktur & Investor Relations UNSP, Andi W Setianto menambahkan, UNSP terus bekerja keras meningkatkan produktivitas aset kebun, di antaranya dengan peremajaan menggunakan bibit unggul di tengah meningkatnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia.
Dia mengungkapkan, harga CPO naik dari level rata-rata bulanan US$ 1.232 per ton cost, insurance and freight (CIF) Rotterdam pada kuartal I-2025 menjadi US$ 1.358 pada kuartal I-2026. “Optimalisasi produktivitas pabrik juga dilakukan dengan pembelian buah sawit dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” ujar dia.
Andi Setianto menjelaskan, UNSP mengikuti protokol Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan, di antaranya kebijakan zero-burning (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan.
“Keberlanjutan di industri sawit mencakup banyak aspek people and planet, seperti mensejahterakan petani sesuai Sustainable Development Goals no-poverty, zero-waste sesuai circular economy, dan no-deforestation reduksi emisi gas rumah kaca untuk climate change,” papar dia.
Penggunaan Bibit Unggul
UNSP, kata Andi Setianto, juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Saat ini, produktivitas sawit nasional hanya sekitar 3 ton CPO per ha per tahun. Dengan bibit unggul, potensi produktivitas bisa meningkat setelah program peremajaan (replanting).
Andi menuturkan, produktivitas bibit unggul UNSP bisa menghasilkan 10 ton CPO per ha per tahun, dengan produksi 40 ton buah sawit per ha per tahun dan ekstraksi CPO 25% sesuai hasil lapangan bibit unggul perseroan yang sudah disertifikasi.
Baca Juga
Dengan bibit unggul, menurut Andi Setianto, luas lahan kebun tidak perlu bertambah. Produksi CPO naik berlipat ganda, sehingga meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional. “UNSP melihat bibit unggul dan program peremajaan sawit rakyat sebagai kunci kesejahteraan petani dan produktivitas sawit yang berkelanjutan,” tegas dia.
Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto mengemukakan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.
“Kami fokus pada peningkatan produktivitas kebun dan pabrik. Strategi ini akan kami lanjutkan dengan langkah konkret berupa peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan,” ujar dia.
Bayu Irianto optimistis dalam jangka menengah dan Panjang, UNSP akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat.

