Proline Gelar IPO Saham, Tawarkan 522,9 Juta Saham dengan Harga Rp 100-120
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (Proline), sister company PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), menggelar penawaran umum perdana (IPO) saham dengan melepas sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Berdasarkan prospektus awal yang diterbitkan pada 18 Juni 2026, Proline menawarkan saham pada kisaran harga Rp100 hingga Rp120 per saham. Dengan harga tersebut, perseroan berpotensi meraih dana maksimal sebesar Rp62,75 miliar dari aksi korporasi ini.
Masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 18-23 Juni 2026. Perseroan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Juni 2026.
Baca Juga
Inaco (JELI) Mau IPO, Harga Saham Mulai Rp 900! Ini Jadwal dan Alokasi Dananya
Selanjutnya, masa penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 1-7 Juli 2026, distribusi saham secara elektronik pada 8 Juli 2026, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2026. Dalam IPO ini, PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter).
Selain saham yang ditawarkan kepada publik, Proline mengalokasikan sebanyak 36,6 juta saham atau sekitar 7% dari jumlah saham yang ditawarkan untuk program Employee Stock Allocation (ESA).
Prodia Diagnostic Line merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan untuk diagnosis medis, khususnya produk in vitro diagnostics (IVD). Produk-produk perseroan digunakan oleh laboratorium, rumah sakit, puskesmas, dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya.
Sebelum IPO saham, struktur pemegang saham Proline terdiri atas PT Prodia Utama sebesar 51%, PT Prodia Widyahusada Tbk sebesar 39%, dan Diasys Diagnostic Systems GmbH sebesar 10%. Setelah IPO, kepemilikan publik diperkirakan mencapai sekitar 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Baca Juga
Laba Bersih Prodia (PRDA) Kuartal I-2026 Naik 150%, Ini Kuncinya
Dari sisi prospek usaha, Proline menilai industri IVD di Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Perseroan melihat dukungan dari peningkatan anggaran kesehatan pemerintah yang mencapai Rp244 triliun pada 2026, naik dari Rp218,5 triliun pada 2025. Anggaran tersebut digunakan untuk penguatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pengendalian penyakit prioritas, dan peningkatan fasilitas layanan kesehatan.
Perseroan juga melihat peluang dari Program Cek Kesehatan Gratis yang dijalankan pemerintah. Program tersebut mencakup 13 jenis skrining penyakit dan diperkirakan membutuhkan berbagai produk diagnostik. Berdasarkan estimasi perseroan, terdapat potensi pasar sekitar Rp2,2 triliun yang dapat menggunakan produk-produk Proline.
Hingga akhir 2025, terdapat lebih dari 3.000 rumah sakit dan lebih dari 10.000 puskesmas yang beroperasi di Indonesia. Saat ini, Proline telah melayani lebih dari 7.600 pengguna akhir yang terdiri atas puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium klinik.
Baca Juga
IHSG Dibuka Anjlok 74 Poin, Sebaliknya Saham JECC hingga PPRE Melesat
Meski demikian, perseroan masih melihat peluang ekspansi yang besar karena lebih dari 47% fasilitas pelayanan kesehatan dan sekitar 38% dinas kesehatan kabupaten/kota belum menjadi pelanggan Proline.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri diagnostik serta dukungan jaringan distribusi nasional, Proline optimistis dapat memanfaatkan pertumbuhan belanja kesehatan nasional dan meningkatnya kebutuhan layanan diagnostik di Indonesia.

