Pabrik Baru Proline Beroperasi, Entitas Affiliasi Prodia (PRDA) Ini Bidik Kenaikan Pasar Ekspor 20%
JAKARTA, investortrust.id – PT Prodia Diagnostic Line (Proline), perusahaan affiliasi PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), mengoperasikan secara resmi pabrik baru di Kawasan Industri Jababeka, Bekasi. Pabrik baru ini diharapkan menaikkan sebanyak 20% pasar ekspor dengan adanya penambahan kapasitas produksi.
Founder & Komisaris Utama Proline Andi Widjaja mengatakan, fasilitas produksi baru tersebut merupakan salah satu ide untuk mendorong kemandirian produksi alat kesehatan (alkes) dan reagen buatan dalam negeri.
“Dengan diresmikannya fasilitas produksi baru ini, Proline optimistis dapat berkontribusi terhadap permintaan alkes dan reagen yang terus meningkat setiap tahun. Sehingga rantai pasokan fasilitas kesehatan akan kebutuhan alkes dari dalam negeri tetap dapat terjaga,” papar Andi yang juga Komisaris Utama Prodia Widyahusada.
Baca Juga
Ingin Pertahankan Pertumbuhan Kinerja, Begini Strategi Prodia (PRDA) pada 2025
Dia juga menegaskan, produsen alat kesehatan diagnostik in vitro ini siap berkontribusi mengamankan jumlah produksinya untuk mendukung program pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah yang membutuhkan alkes dan reagen dalam jumlah banyak.
Direktur Proline Cristina Sandjaja menambahkan, perluasan fasilitas produksi tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi untuk berbagai lini, termasuk kimia klinik, hematologi, rapid test, dan instrumen diagnostik.
Saat ini, produk Proline telah digunakan oleh lebih dari 7.000 fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta termasuk puskesmas, rumah sakit, dan klinik di seluruh Indonesia.
“Kami terus memperkuat komitmen untuk menghadirkan produk berkualitas tinggi buatan lokal yang mampu menjangkau lebih banyak fasilitas kesehatan,” ujar Cristina.
Lebih rinci dia menyebutkan, bahwa fasilitas produksi baru itu mampu mendongkrak peningkatan produksi berbagai lini. Pada produk kimia klinik produksi yang naik bisa mencapai tiga kali lipat menjadi 960.000 kit per tahun, produksi rapid test meningkat 4,5 kali lipat menjadi 22,5 juta tes, dan instrumen naik empat kali lipat menjadi 4.000 unit per tahun.
Baca Juga
Prodia Widyahusada (PRDA) Cetak Pertumbuhan Laba Bersih 4% Pada 2024
Ada pula penambahan fasilitas produksi baru untuk biomolekuler dengan kapasitas hingga 5 juta tes per tahun.
Dalam jangka panjang, Proline menargetkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia, serta memperluas penetrasi pasar ekspor hingga 20% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Sebagai pemegang 39% saham Proline sejak tahun 2024, Prodia Widyahusada (PRDA) turut menyambut baik terhadap pengembangan fasilitas produksi baru ini. Direktur Keuangan Prodia (PRDA) Liana Kuswandi menyampaikan, langkah ini diyakini akan memberikan nilai tambah bagi kedua perusahaan.
“Kami percaya bahwa pengembangan ini akan memberikan nilai strategis dan berdampak positif bagi pertumbuhan Proline maupun Prodia,” ujar Liana.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi kedua perusahaan ini untuk memperkuat ekosistem kesehatan yang berkelanjutan di Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, CEO DiaSys Diagnostic Systems GmbH Günther Gorka sebagai mitra global Proline mengapresiasi langkah ekspansi Proline dalam menyediakan alkes dan reagen berstandar internasional di Indonesia.
Baca Juga
Perkenalkan Bisnis Diet Sehat, Prodia (PRDA) Bidik Sumber Pendapatan Baru
Ia berharap fasilitas baru ini mendorong Proline menjadi pemain kunci di pasar dalam dan luar negeri, serta siap mendukung inovasi Proline untuk memajukan industri alat kesehatan nasional.
Senada, Direktur Jenderal Kefarmasian & Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Lucia Rizka Andalusia berharap, fasilitas produksi milik perusahaan afiliasi Prodia Widyahusada itu dapat mendorong penggunaan alkes. Sekaligus reagen produksi dalam negeri dengan kualitas yang setara dengan produk impor.
“Kehadiran fasilitas tersebut juga kami harap dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk luar, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk dalam negeri,” tegas Lucia.

