Prodia (PRDA) Bidik Pendapatan 2024 Tumbuh Puluhan Persen
JAKARTA, investortrust.id – PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) membidik pertumbuhan pendapatan puluhan persen pada 2024 dibandingkan tahun lalu. Sedangkan sepanjang 2023, perseroan diproyeksi telah meraup pendapatan lebih dari Rp 2 triliun.
“2024 kami sih growth-nya mengharapkan low double digit,” ungkap Direktur Utama Prodia Widyahusada Dewi Muliaty dalam Prodia Meet The Press: Peluang Dan Tantangan Layanan Kesehatan Diagnostik di Tahun 2024, Rabu (31/1/2024).
Manajemen memastikan revenue tahun 2023 sudah melewati Rp 2 triliun sedangkan pendapatan perusahaan dalam laporan keuangan (lapkeu) per September 2023 sebesar Rp 1,61 triliun, baru naik sekitar 2% (yoy). Padahal emiten kesehatan ini mengharapkan kenaikan total pendapatan sekitar 9-10% tahun lalu dari realisasi Rp 2,18 triliun pada 2022.
Tahun ini, Dewi percaya bisnis laboratorium akan mengalami peningkatan lebih positif daripada tahun 2023 dan tidak mengalami kekurangan termasuk pendapatannya.
Baca Juga
Prodia (PRDA) Cetak Kenaikan Penjualan, Tapi Laba Terpangkas
“Tetapi karena ada PRDI anak usaha yang memang startup kan ya jadi ketika dikonsolidasi ada sedikit pengaruh di audited (lapkeu),” imbuhnya.
Khusus target tahun ini, Dewi menjelaskan bahwa pertumbuhan kinerja perusahaan dapat terlihat dari realisasi pendapatan kuartal pertama. Sebab, bila raihan tiga bulan pertama belum tinggi, perusahaan akan mengkaji kembali target kerja di kuartal berikutnya.
“Hitungan fokus program kalo dari situ kami ada harapan low double digit. Kalo kuartal satu, perputaran ekonominya saja itu yang pengaruh, sama pola spending behaviour. Kami harap tahun ini kuartal satu seharusnya sih nggak minus ya,” sambung dia.
Dalam memasuki tahun 2024, manajemen meyakini bahwa berbagai sektor bisnis akan menghadapi berbagai tantangan yang dapat berdampak pada jalannya operasional bisnis. Tantangan dimaksud, meliputi memanasnya kondisi geopolitik global akibat perang Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas, melambatnya ekonomi China, serta kenaikan suku bunga The Fed yang berimbas pada pelemahan mata uang.
Baca Juga
Klaim Kesehatan Diperkirakan Berpotensi Naik, Ketua AAJI Ungkap Penyebabnya
Selain itu tantangan dari dalam negeri, dianalisis ada aksi wait and see dari calon investor yang disebabkan oleh momentum politik nasional. “Faktor-faktor ini yang kemudian dapat berdampak pada rantai pasokan bisnis dan kinerja fiskal perusahaan, tak terkecuali sektor industri kesehatan,” tegas Dewi.
Menurut dia, industri kesehatan merupakan sektor bisnis yang memiliki potensi pasar besar. Adaptasi teknologi, transformasi digital dan pelayanan dari berbagai aspek, pemenuhan kebutuhan kesehatan yang semakin kompleks, menjadi komoditas yang diperhitungkan dalam mendorong dan menunjang kemajuan kesehatan Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono mengatakan, potensi industri kesehatan di Indonesia sangat menjanjikan dengan pertumbuhan industri alat kesehatan sebesar 80% dan industri farmasi di produk vaksin yang mencapai 300%.
Selain itu, populasi Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta orang menjadi faktor potensial berkembangnya industri kesehatan di Indonesia. “Oleh karena itu, banyak investor yang mulai melirik dan mempertimbangkan untuk berinvestasi di industri kesehatan, terlebih di bidang healthcare,” tutur Dewi.

