Yakin Pertumbuhan Jangka Panjang, BRI (BBRI) Akan Buyback Saham Rp 500 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyiapkan program pembelian kembali saham atau buyback saham dengan nilai maksimal Rp 500 miliar. Aksi ini akan dilaksanakan pada periode 12 Juni 2026 hingga 11 September 2026.
Dana buyback saham akan berasal dari kas internal BBRI, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Nilai tersebut belum termasuk biaya pelaksanaan buyback, seperti komisi perantara pedagang efek dan biaya lainnya yang diperkirakan maksimal sebesar 0,30% dari total nilai buyback.
Perseroan menegaskan jumlah keseluruhan saham hasil buyback atau treasury stock yang dimiliki tidak akan melebihi 10% dari modal ditempatkan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Baca Juga
Fundamental Kuat, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak terhadap Pasar Modal
BBRI juga memastikan pelaksanaan buyback tidak akan menyebabkan kekayaan bersih perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan. Selain itu, program buyback saham dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan maupun biaya operasional perseroan.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan buyback saham ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk meningkatkan nilai pemegang saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan fundamental kinerja perseroan serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang tetap solid.
“Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnyaatau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan,” imbuh Dhanny melalui pernyataan resmi di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga
Pasca BI Rate Naik Jadi 5,50%, BRI (BBRI) Pastikan Fungsi Intermediasi Tetap Berjalan Optimal
Dhanny menambahkan bahwa langkah buyback saham yang dilakukan BRI juga telah mempertimbangkan kondisi pasar yang masih dipengaruhi berbagai tantangan global, mulai dari ketidakpastian ekonomi dunia, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga arus keluar modal dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk pasar modal Indonesia.
“Melalui aksi korporasi ini, BRI telah mempertimbangkan dengan cermat kondisi likuiditas dan posisi keuangan saat ini, sehingga pelaksanaan buyback fluktuatif tidak akan memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan maupun operasional perusahaan,” tegasnya.
Setelah dilakukan buyback, proforma indikator keuangan BRI (konsolidasi) per 31 Maret 2026, tercatat rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap berada pada level yang kuat sebesar 22,86%, sementara Return on Equity (ROE) tercatat 18,37%. Hal tersebut mencerminkan bahwa perseroan tetap memiliki kapasitas permodalan yang kuat guna mendukung ekspansi usaha dan mitigasi risiko pengelolaan bisnis bank.
Baca Juga
Di sisi lain, saham hasil buyback fluktuatif nantinya akan dialihkan melalui program kepemilikan saham Pekerja dan/atau Direksi dan Dewan Komisaris yang dapat dilakukan pengalihan setelah mendapatkan persetujuan RUPS.
“Sebagai bagian dari Danantara, BRI akan terus berfokus pada penguatan fundamental bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, nasabah, dan seluruh pemangku kepentingan. Di sisi lain, implementasi kebijakan ini tetap mengacu pada regulasi yang berlaku dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG),” terang Dhanny.
