Bagikan

Riset DBS Sebut Reformasi Pasar Modal Jadi Fondasi Penting Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Poin Penting

DBS Research sebut reformasi pasar keuangan jadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Pasar modal Indonesia sukses pertahankan posisi dalam kategori emerging market pada indeks MSCI.
OJK sebut pelaku pasar semakin jera melakukan pelanggaran dan emiten mulai proaktif jaga transparansi.

JAKARTA, investortrust.id DBS Research menilai penguatan institusi dan reformasi pasar keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Pasalnya, reformasi pasar modal, penguatan kepastian hukum, dan peningkatan tata kelola dinilai menjadi perhatian utama investor global.

“Indonesia perlu memperdalam pasar modal domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing, melalui penguatan peran investor lokal, termasuk dana pensiun domestik, manajer investasi lokal, dan Danantara sebagai sumber pembiayaan jangka panjang,” papar Head of Research Indonesia, DBS Group Research, William Simadiputra yang dikutip pada Sabtu (15/5/2026).

Perbaikan dimaksud, dapat diperkuat dengan pengembangan energi terbarukan dan proyek waste-to-energy (WTE) untuk menjamin kredibilitas environmental, social, and governance (ESG) Indonesia di mata investor global.

Namun secara luas, stabilitas inflasi dan nilai tukar Rupiah dinilai tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar, sehingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus diperkuat.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini bahwa langkah reformasi integritas pasar modal yang tengah dijalankan, berada di jalur tepat dan mendapat pengakuan dari pelaku pasar global. Hal ini tercermin dari dipertahankannya posisi pasar modal Indonesia dalam kategori emerging market pada penyesuaian indeks MSCI.

Baca Juga

‘Rebalancing’ Indeks Saham MSCI juga Dialami Jepang, Taiwan, Malaysia, Korea, dan Tiongkok, OJK: Momentum RI Lanjutkan Reformasi Pasar Modal

“Kami ingin menegaskan bahwa mengacu pada pengumuman sebelumnya, salah satu index provider juga sudah mengonfirmasi dalam interim report-nya bahwa posisi pasar kita tetap dipertahankan dalam kategori secondary emerging market dan bahkan tidak dimasukkan ke dalam watchlist,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi di Gedung BEI.

Dia menganggap, dinamika yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir justru semakin memperkuat keyakinan otoritas, regulator, dan seluruh pelaku pasar. Bahwasanya arah reformasi integritas yang ditempuh untuk menghadirkan perbaikan struktural dan menyeluruh di pasar modal, berjalan sesuai arah yang diharapkan.

Dalam proses reformasi tersebut, OJK mengaku terus melakukan pertemuan intensif dan berkala dengan berbagai pemangku kepentingan global, termasuk kelompok investor yang tergabung dalam investor advisory group. Pertemuan virtual rutin dilakukan setiap bulan untuk menyerap aspirasi, masukan, serta ekspektasi investor lintas yurisdiksi terhadap penguatan pasar modal Indonesia.

OJK juga mengakui bahwa reformasi pasar modal bukan proses instan dan akan menghadirkan tantangan yang harus dihadapi bersama. Namun demikian, regulator melihat adanya perubahan perilaku di kalangan pelaku pasar maupun emiten.

“Pelaku pasar terlihat semakin jera dan tidak lagi melakukan potensi pelanggaran. Di sisi lain, emiten juga mulai menghadirkan transparansi dan merapikan distribusi kepemilikan sahamnya secara proaktif,” imbuh Hasan.

Menurut OJK, distribusi kepemilikan saham yang lebih luas untuk memenuhi komponen free float kini menjadi perhatian emiten. Langkah tersebut diapresiasi karena dinilai dapat memperbesar peluang saham-saham domestik masuk ke dalam indeks global di masa mendatang.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024