Riset Indef: Cegah Bencana Sumatra Terulang, Perbaikan Tata Kelola Lingkungan Jadi Kunci Mitigasi Jangka Panjang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan, perbaikan tata kelola lingkungan dan rehabilitasi hutan merupakan kunci mitigasi bencana jangka panjang untuk mencegah bencana Sumatra terulang di masa depan.
Selain itu, pemerintah dan BUMN perlu mengintegrasikan indikator risiko hidrometeorologis dan data tutupan hutan dalam perencanaan ruang, infrastruktur, dan investasi strategis. Pemerintah juga harus memperkuat program rehabilitasi daerah aliran Sungai (DAS) dan reforestasi di provinsi dengan tren deforestasi tinggi.
Langkah lain yang perlu ditempuh yaitu menata ulang tata kelola izin pemanfaatan lahan di kawasan hulu yang berkontribusi pada peningkatan risiko banjir dan longsor. Tak kalah penting adalah pendekatan berbasis data, sehingga kebijakan dan investasi pasca‑bencana dapat diarahkan tidak hanya untuk pemulihan jangka pendek, tetapi juga pengurangan risiko sistemik di masa depan.
Demikian rekomendasi Indef sehubungan dengan hasil riset Big Data Continuum Indef yang menyatakan netizen di media sosial (medsos) memberikan sentimen negatif terhadap bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026.
Riset Big Data Continuum Indef menyebutkan, analisis terhadap 576.176 perbincangan di Twitter/X dan YouTube pada 23–30 November 2025 menunjukkan pola narasi yang relatif konsisten dalam memaknai banjir di Sumatra.
Baca Juga
PU Pastikan Akses Jalan di Sumatra Utara Berangsur Fungsional Pascabencana
Berdasarkan data olahan perbincangan digital tersebut, mayoritas netizen tidak lagi melihat bencana Sumatra sebagai murni faktor alam, melainkan akibat nyata dari kerusakan lingkungan yang masif.
Menurut Tim Penyusun Pusat Riset Big Data Continuum – Indef, hasil analisis terhadap 576.176 perbincangan itu menunjukkan angka yang sangat kontras. Sebanyak 96,64% sentimen publik bernada negatif. Tingginya sentimen negatif didominasi narasi ‘hukuman alam atas keserakahan manusia’. Hal ini merujuk pada maraknya deforestasi di Pulau Andalas.
"Hal tersebut kemudian diikuti oleh rasa marah karena masyarakatlah yang menjadi korban, hal ini dinilai tidak adil," kata economist Indef, Syamil Iklil dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id, Sabtu (10/1/2025).
Deforestasi Tertinggi
Data scientist Indef, Arini Astari menambahkan, isu ‘deforestasi’ menempati urutan tertinggi dalam topik perbincangan dengan total 51.008 sebutan. Angka ini jauh melampaui pembahasan mengenai faktor alam seperti ‘curah hujan tinggi’ yang mencatatkan 39.680 perbincangan, maupun ‘siklon tropis’ dengan 27.720 perbincangan.
“Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran kolektif masyarakat telah bergeser pada akar permasalahan lingkungan,” tutur dia.
Riset Big Data Continuum Indef menjelaskan, selain deforestasi, masyarakat menyoroti aktivitas ekonomi di kawasan hulu. Isu ‘tambang illegal’ dengan 13.540 perbincangan dan perluasan ‘perkebunan sawit’ dengan 4.953 perbincangan disebut sebagai faktor pendukung yang memperparah kerentanan wilayah.
Selain itu, ‘kerusakan lingkungan’, khususnya ‘deforestasi’, dipandang netizen sebagai faktor utama yang melemahkan daya dukung alam, sehingga wilayah menjadi lebih rentan terhadap banjir dan longsor.
“Faktor alam seperti ‘curah hujan ekstrem’ dan ‘siklon tropis’ tetap muncul sebagai pemicu, tetapi tidak diposisikan sebagai penyebab Tunggal,” ujar Syamil Iklil.
Percakapan publik juga mengaitkan bencana dengan tata kelola sumber daya alam dan aktivitas ekonomi di kawasan hulu, meskipun intensitasnya lebih rendah dibanding isu deforestasi. “Hal ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa mitigasi bencana memerlukan perbaikan pengelolaan lingkungan, bukan hanya respons darurat,” ujar Arini Astari.
Baca Juga
Menkes: Sebanyak 87 RS dan 867 Puskesmas Terdampak Bencana, Mayoritas Sudah Pulih
Berdasarkan hasil riset Indef, lonjakan hujan dalam waktu singkat ini berpotensi besar memicu limpasan permukaan, banjir bandang, dan longsor, terutama di wilayah dengan daya serap tanah yang telah menurun akibat degradasi lingkungan.
Salah satu faktor pemicu utama peningkatan curah hujan tersebut adalah kemunculan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025.
Sistem cuaca ini, kata Syamil Iklil, memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan suplai uap air ke wilayah daratan Sumatra, khususnya Aceh. Dampaknya tidak hanya berupa hujan sangat lebat, tetapi juga angin kencang dan cuaca ekstrem lain yang memperbesar risiko gangguan lingkungan dan infrastruktur di wilayah terdampak.
Penurunan tutupan hutan berarti melemahnya daya serap air, stabilitas tanah, dan kapasitas penahan limpasan hujan di wilayah hulu. “Dalam situasi curah hujan ekstrem, kombinasi ini menjadikan banjir dan longsor jauh lebih destruktif dibanding kondisi ketika fungsi ekologis hutan masih terjaga,” papar Syamil Iklil.
Dari Data ke Agenda Kebijakan
Menurut Arini Astari, jika dirangkai, data korban, curah hujan, dan deforestasi memberikan gambaran yang konsisten, yakni banjir dan longsor di Sumatra merupakan hasil akumulasi tekanan lingkungan jangka panjang yang kemudian dipicu oleh anomali cuaca.
“Bencana ini bukan hanya persoalan intensitas hujan, tetapi konsekuensi dari berkurangnya kapasitas ekologis Sumatra sebagai benteng alami terhadap risiko iklim ekstrem,” ujar dia.
Baca Juga
Bos OJK Beri Update Terkait Perlakuan Khusus untuk Debitur Terdampak Bencana di Sumatra
Bagi pemerintah dan BUMN, beberapa implikasi kebijakan yang dapat ditarik antara lain mengintegrasikan indikator risiko hidrometeorologis dan data tutupan hutan dalam perencanaan ruang, infrastruktur, dan investasi strategis.
Pemerintah juga harus memperkuat program rehabilitasi daerah aliran Sungai (DAS) dan reforestasi di provinsi dengan tren deforestasi tinggi. “Langkah lainnya yaitu menata ulang tata kelola izin pemanfaatan lahan di kawasan hulu yang berkontribusi pada peningkatan risiko banjir dan longsor,” tegas Arini Astari.
Indef menyatakan, melalui pendekatan berbasis data, kebijakan dan investasi pasca‑bencana dapat diarahkan tidak hanya untuk pemulihan jangka pendek, tetapi juga pengurangan risiko sistemik di masa depan.
Dalam melakukan riset tersebut, Indef menggunakan metode pengambilan data dengan teknik scraping berdasarkan kata kunci (keyword) yang sudah ditentukan. Data yang terkumpul di filter dari media dan bot dengan pendekatan machine learning untuk memastikan data yang dianalisis terhindar dari bias. Data yang sudah terfilter akan menjadi input untuk analisis dengan pendekatan machine learning, seperti sentimen analisis, topik analisis, hingga analisis pengguna (user).

